Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Lebaran yang Datangnya Seminggu Terlambat Tapi Rasanya Lebih Dekat

by jeje
Maret 29, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Kalau Lebaran biasanya identik dengan baju baru dan opor di meja makan, di Lombok ceritanya sedikit beda. Di sini, ada satu momen yang justru terasa lebih santai, lebih cair, dan entah kenapa… lebih “hidup”. Namanya: Lebaran Topat.

Datangnya memang telat. Sekitar 7 sampai 8 hari setelah Idul Fitri. Tapi justru di situlah poinnya. Ini bukan soal siapa paling cepat merayakan. Ini soal siapa yang masih mau melanjutkan rasa syukur.

Lebaran yang Tidak Terburu-Buru

Lebaran Topat lahir dari tradisi masyarakat Sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Ia datang setelah puasa sunnah enam hari di bulan Syawal selesai. Jadi, ini bukan sekadar perayaan. Ini semacam “epilog spiritual” setelah Ramadan.

Menariknya, suasananya jauh dari formalitas.

Orang-orang tidak lagi sibuk silaturahmi kaku atau basa-basi keluarga besar. Mereka justru memilih cara yang lebih jujur: datang ke makam leluhur, berdoa, lalu… pergi ke pantai.

Ini Belum Selesai

VOC Runtuh karena Korupsi, Kenapa Indonesia Mengulang Pola yang Sama?

Dari Ujung Timur ke Dunia: Papua Tak Lagi Sekadar Pinggiran

Iya, pantai.

Ziarah, Doa, Lalu Piknik

Pagi hari biasanya dimulai dengan ziarah. Beberapa titik yang sering didatangi seperti Makam Loang Baloq atau Batu Layar. Di sana, doa dipanjatkan. Bukan cuma untuk yang sudah pergi, tapi juga untuk yang masih berjuang hidup hari ini.

Tapi setelah itu, suasana berubah.

Keluarga-keluarga mulai bergerak ke pantai seperti Senggigi. Mereka bawa tikar, ketupat, opor, dan lauk-pauk. Duduk bareng. Makan bareng. Ketawa bareng.

Tidak ada meja makan formal. Tidak ada kursi tamu. Semua rata, semua dekat.

Dan mungkin, di situ letak maknanya.

Ketupat yang Tidak Selalu Serius

Di beberapa tempat, seperti Pura Lingsar, Lebaran Topat bahkan dirayakan dengan “Perang Topat”. Orang-orang saling lempar ketupat.

Kedengarannya absurd? Mungkin.

Tapi justru itu simbolnya. Bahwa makanan yang biasanya sakral, di momen ini berubah jadi medium tawa. Dan lebih dalam lagi, jadi simbol kerukunan antarumat beragama.

Karena di sana, tradisi ini tidak hanya milik satu kelompok. Semua ikut. Semua terlibat.

Tanpa sekat.

Lebaran yang Menggerakkan Ekonomi, Tapi Lebih dari Itu

Di balik suasana santai, ada denyut ekonomi yang ikut hidup. Pedagang janur, pembuat ketupat, hingga pelaku wisata lokal ikut merasakan dampaknya.

Pantai ramai. Jalanan hidup. Uang berputar.

Tapi kalau cuma soal ekonomi, rasanya terlalu dangkal untuk menjelaskan Lebaran Topat.

Ini bukan sekadar event wisata.

Ini tentang bagaimana sebuah budaya memilih untuk tidak buru-buru selesai merayakan kebahagiaan.

Karena Tidak Semua yang Berharga Harus Cepat

Di dunia yang serba cepat, Lebaran Topat seperti pengingat kecil.

Bahwa kebahagiaan tidak harus selesai di hari pertama. Bahwa syukur tidak harus terburu-buru. Dan bahwa kadang, justru momen paling hangat datang setelah keramaian utama berlalu.

Mungkin pertanyaannya bukan lagi “kenapa Lebaran Topat datang terlambat?”

Tapi…

Kenapa kita terlalu cepat berhenti merayakan? @jeje

Tags: lebaran

Kamu Melewatkan Ini

Budaya Tak Punya Ruang Sepi: Lebaran Betawi di Tengah Padatnya Ibu Kota

Budaya Tak Punya Ruang Sepi: Lebaran Betawi di Tengah Padatnya Ibu Kota

by teguh
April 10, 2026

Tabooo.id: Vibes - Di antara klakson dan langkah kaki, tradisi Betawi tidak menghilang ia beradaptasi, bahkan ketika kota tak pernah...

Saat Budaya Bertemu Jalanan: Lebaran Betawi Ubah Arah Ibu Kota

Saat Budaya Bertemu Jalanan: Lebaran Betawi Ubah Arah Ibu Kota

by teguh
April 10, 2026

Tabooo.id: Nasional - Pemprov DKI putar arah lalu lintas di Lapangan Banteng. Festival jalan, mobilitas harus tetap aman Setiap festival...

Arus Balik, Arus Nasib: Siapa Bertahan di Jakarta?

Arus Balik, Arus Nasib: Siapa Bertahan di Jakarta?

by dimas
Maret 30, 2026

Tabooo.id: Deep - Malam merambat pelan di sudut kontrakan sempit di Kalideres. Kipas angin tua berdecit, memutar udara panas yang...

Next Post
Konsep Otomatis

Pantai yang Kita Banggakan, atau yang Kita Abaikan?

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id