Tabooo.id: Vibes – Kalau Lebaran biasanya identik dengan baju baru dan opor di meja makan, di Lombok ceritanya sedikit beda. Di sini, ada satu momen yang justru terasa lebih santai, lebih cair, dan entah kenapa… lebih “hidup”. Namanya: Lebaran Topat.
Datangnya memang telat. Sekitar 7 sampai 8 hari setelah Idul Fitri. Tapi justru di situlah poinnya. Ini bukan soal siapa paling cepat merayakan. Ini soal siapa yang masih mau melanjutkan rasa syukur.
Lebaran yang Tidak Terburu-Buru
Lebaran Topat lahir dari tradisi masyarakat Sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Ia datang setelah puasa sunnah enam hari di bulan Syawal selesai. Jadi, ini bukan sekadar perayaan. Ini semacam “epilog spiritual” setelah Ramadan.
Menariknya, suasananya jauh dari formalitas.
Orang-orang tidak lagi sibuk silaturahmi kaku atau basa-basi keluarga besar. Mereka justru memilih cara yang lebih jujur: datang ke makam leluhur, berdoa, lalu… pergi ke pantai.
Iya, pantai.
Ziarah, Doa, Lalu Piknik
Pagi hari biasanya dimulai dengan ziarah. Beberapa titik yang sering didatangi seperti Makam Loang Baloq atau Batu Layar. Di sana, doa dipanjatkan. Bukan cuma untuk yang sudah pergi, tapi juga untuk yang masih berjuang hidup hari ini.
Tapi setelah itu, suasana berubah.
Keluarga-keluarga mulai bergerak ke pantai seperti Senggigi. Mereka bawa tikar, ketupat, opor, dan lauk-pauk. Duduk bareng. Makan bareng. Ketawa bareng.
Tidak ada meja makan formal. Tidak ada kursi tamu. Semua rata, semua dekat.
Dan mungkin, di situ letak maknanya.
Ketupat yang Tidak Selalu Serius
Di beberapa tempat, seperti Pura Lingsar, Lebaran Topat bahkan dirayakan dengan “Perang Topat”. Orang-orang saling lempar ketupat.
Kedengarannya absurd? Mungkin.
Tapi justru itu simbolnya. Bahwa makanan yang biasanya sakral, di momen ini berubah jadi medium tawa. Dan lebih dalam lagi, jadi simbol kerukunan antarumat beragama.
Karena di sana, tradisi ini tidak hanya milik satu kelompok. Semua ikut. Semua terlibat.
Tanpa sekat.
Lebaran yang Menggerakkan Ekonomi, Tapi Lebih dari Itu
Di balik suasana santai, ada denyut ekonomi yang ikut hidup. Pedagang janur, pembuat ketupat, hingga pelaku wisata lokal ikut merasakan dampaknya.
Pantai ramai. Jalanan hidup. Uang berputar.
Tapi kalau cuma soal ekonomi, rasanya terlalu dangkal untuk menjelaskan Lebaran Topat.
Ini bukan sekadar event wisata.
Ini tentang bagaimana sebuah budaya memilih untuk tidak buru-buru selesai merayakan kebahagiaan.
Karena Tidak Semua yang Berharga Harus Cepat
Di dunia yang serba cepat, Lebaran Topat seperti pengingat kecil.
Bahwa kebahagiaan tidak harus selesai di hari pertama. Bahwa syukur tidak harus terburu-buru. Dan bahwa kadang, justru momen paling hangat datang setelah keramaian utama berlalu.
Mungkin pertanyaannya bukan lagi “kenapa Lebaran Topat datang terlambat?”
Tapi…
Kenapa kita terlalu cepat berhenti merayakan? @jeje




