• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Minggu, Maret 22, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Entertainment Tabooo Book Club

Laut Bercerita: Saat Negara Menelan Anak-Anaknya Sendiri

Maret 2, 2026
in Tabooo Book Club
A A
Laut Bercerita: Saat Negara Menelan Anak-Anaknya Sendiri

Laut Bercerita (Ilustrasi: Istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Tabooo Book Club – Laut Bercerita, sebuah novel yang tidak sekadar bercerita, tapi menuntut kita mengingat. Novel karya Leila S. Chudori ini pertama kali terbit pada Oktober 2017. Sejak itu novel ini menjadi salah satu karya fiksi paling politis sekaligus paling manusiawi tentang tragedi penghilangan paksa aktivis 1998.

Namun jangan salah, ini bukan buku sejarah. Ini adalah ratapan, perlawanan, dan cinta yang ditulis dengan pelan, tapi menghantam keras.

RelatedPosts

Indonesia Menggugat: Ketika Ruang Sidang Jadi Panggung Revolusi

MADILOG: Saat Logika Dijadikan Senjata Melawan Kebodohan Terstruktur

Prolog: Diseret ke Gelap, Dipaksa Lahir Kembali

Novel ini dibuka dengan suasana yang sunyi sekaligus mencekam. Biru Laut, tokoh utama, menceritakan bagaimana ia diculik, ditahan, disiksa, dan dihilangkan. Di prolog, kita langsung dihadapkan pada pengalaman penyiksaan fisik dan psikologis yang brutal.

Kalimat pembukanya seperti mantra kelam: “Matilah engkau mati, kau akan lahir berkali-kali…”

Ini bukan sekadar ancaman. Ini metafora. Bahwa kematian para aktivis tak pernah benar-benar selesai, mereka terus lahir dalam ingatan, dalam luka keluarga, dalam tuntutan keadilan yang tak kunjung dipenuhi.

Laut Bercerita: Saat Negara Menelan Anak-Anaknya Sendiri
Novel Laut Bercerita (Foto: Istimewa)

Bagian I: Biru Laut

Di bagian pertama, kita mengenal Biru Laut sebagai mahasiswa Sastra Inggris UGM yang gemar berdiskusi, membaca, dan berorganisasi. Ia bukan tokoh super. Ia manusia biasa yang marah pada ketidakadilan.

Bersama kawan-kawannya, Daniel, Sunu, Alex, dan lainnya, ia membentuk jaringan aktivis bawah tanah. Mereka membicarakan demokrasi, kebebasan berekspresi, dan masa depan Indonesia. Di masa Orde Baru, itu sudah cukup untuk dicap berbahaya.

Yang membuat novel ini berbeda bukan hanya pada konteks politiknya, tapi pada detail keseharian, percakapan, cinta, rasa takut, bahkan aroma tubuh di ruang tahanan. Penyiksaan digambarkan bukan sebagai adegan sensasional, tapi sebagai proses pelucutan martabat.

Leila tidak menulis negara sebagai monster abstrak. Ia memperlihatkan bagaimana sistem bekerja lewat manusia-manusia yang patuh, yang menyiksa sambil merokok, yang tertawa sambil mengikat tangan orang lain dengan besi.

Dan kemudian, Laut benar-benar menjadi laut.

Tubuh Biru Laut dan beberapa rekannya dibuang ke lautan. Tidak ada makam. Tidak ada nisan. Hanya air asin dan keluarga yang menggantung harapan.

Bagian II: Asmara Jati

Jika bagian pertama adalah suara korban, bagian kedua adalah suara yang ditinggalkan.

Asmara Jati, adik Biru Laut, menjadi pusat narasi. Ia mewakili keluarga korban penghilangan paksa. Mereka yang hidup dalam ketidakpastian. Tidak ada jenazah. Tidak ada kejelasan hukum. Hanya pertanyaan yang terus dipelihara negara, “Mungkin mereka sudah mati.”

Bagian ini mengubah perspektif kita. Jika sebelumnya kita melihat kekerasan negara dari dalam sel tahanan, kini kita melihat dampaknya di ruang keluarga.

Ibu yang tak pernah berhenti memasak makanan favorit anaknya. Ayah yang diam-diam menyimpan harapan. Adik yang harus tumbuh lebih cepat karena kehilangan kakak.

Novel ini menunjukkan bahwa kejahatan negara tidak berhenti pada satu tubuh. Ia merambat ke generasi berikutnya.

Politik yang Tidak Berteriak, Tapi Menggigit

Secara struktur, novel ini terbagi jelas dalam dua bagian besar, yakni Biru Laut dan Asmara Jati. Pembagian ini penting, karena penghilangan paksa selalu punya dua sisi, yaitu yang hilang dan yang dipaksa bertahan.

Leila S. Chudori tidak menggurui pembaca dengan teori politik. Ia tidak menyebutkan pasal-pasal atau data statistik panjang. Namun, justru lewat fiksi, ia menyampaikan sesuatu yang lebih dalam. Rasa.

Rasa takut saat dikejar.

Rasa sakit saat dipukul.

Rasa rindu yang tidak pernah selesai.

Di sinilah kekuatan novel ini, ia mengubah tragedi politik menjadi pengalaman personal. Dan ketika tragedi terasa personal, ia tak lagi bisa diabaikan.

Laut sebagai Simbol: Kuburan atau Rahim?

Judul Laut Bercerita bukan metafora sembarangan. Laut adalah tempat pembuangan, tapi juga tempat kelahiran. Ia luas, tak terukur, dan menyimpan banyak rahasia.

Bagi Biru Laut, laut adalah akhir.

Bagi pembaca, laut adalah pengingat.

Bahwa negara bisa menenggelamkan tubuh, tapi tak bisa membunuh cerita.

Kenapa Novel Ini Penting Hari Ini?

Karena penghilangan paksa belum benar-benar selesai. Karena keadilan bagi korban 1998 masih menjadi utang sejarah. Karena generasi muda sering hanya mengenal reformasi sebagai tanggal, bukan sebagai darah.

Laut Bercerita membuat kita sadar, demokrasi bukan hadiah. Ia dibayar dengan tubuh yang hilang.

Di tengah era ketika isu HAM sering tenggelam oleh trending topic yang cepat berganti, novel ini seperti jangkar. Ia memaksa kita berhenti, menoleh ke belakang, dan bertanya, “Apakah kita benar-benar sudah belajar dari sejarah?”

Yang Hilang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi

“Kepada mereka yang dihilangkan dan tetap hidup selamanya.” Kalimat sederhana itu seperti pernyataan politik paling sunyi sekaligus paling berani.

Karena dalam dunia yang sering lupa, mengingat adalah bentuk perlawanan.

Dan selama cerita tentang Biru Laut terus dibaca, selama nama-nama itu terus disebut, selama laut masih “bercerita”. Mereka belum benar-benar tenggelam. @tabooo

Tags: Laut BerceritaLeila S. ChudoriNovelSinopsisTabooo Book Club
Next Post
Manahan Membara! Persis Menang Dramatis, Penalti Gagal Jadi Titik Balik

Manahan Membara! Persis Menang Dramatis, Penalti Gagal Jadi Titik Balik

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • KPK Buka Peluang Tahanan Rumah, Kasus Yaqut Jadi Sorotan Publik

    KPK Buka Peluang Tahanan Rumah, Kasus Yaqut Jadi Sorotan Publik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Trump Beri Ultimatum 48 Jam ke Iran untuk Buka Selat Hormuz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puncak Arus Balik Lebaran 2026 Diprediksi Terjadi dalam Dua Gelombang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gelar Griya di Istana, Prabowo Satukan Elite Politik dalam Suasana Lebaran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Karaton ke Masjid Agung, Gunungan Garebeg Pasa Jadi Rebutan Ratusan Warga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.