Senin, April 20, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

Lamar Mufti: Ketika Ombak Tak Lagi Membatasi Identitas

April 14, 2026
in News, Sports
A A
Home News
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Sports – Di tengah debur ombak yang keras dan panggung kompetisi global yang kompetitif, muncul satu nama yang pelan tapi pasti mengguncang cara dunia melihat olahraga selancar Lamar Mufti. Bukan sekadar atlet, ia adalah simbol. Bukan sekadar peselancar, ia adalah narasi baru.

Nama Mufti mencuri perhatian saat tampil di ajang International Surfing Association (ISA) sebagai satu-satunya peselancar perempuan berhijab. Di dunia yang selama ini identik dengan kebebasan visual dan gaya hidup terbuka, kehadirannya justru membawa pesan berbeda identitas tidak harus dilepas untuk bisa melaju.

“Merupakan suatu kehormatan menjadi satu-satunya perempuan berhijab di ISA, dan saya bersyukur bisa tidak hanya mewakili negara saya, tetapi juga mewakili agama dan budaya,” tulis Mufti melalui Instagram pribadinya.

Kalimat itu sederhana, tapi dampaknya luas. Karena di olahraga, representasi bukan bonus itu kebutuhan.

Lebih dari Sekadar Kompetisi: Ini Soal Representasi

Mufti tidak datang hanya untuk mengejar skor atau podium. Ia datang membawa sesuatu yang lebih berat persepsi.

BacaJuga

AS dan Iran Kembali Berunding, Tapi Dunia Tak Yakin Perang Akan Berakhir

Gas Tidak Meledak, Tapi Harganya Bikin Rumah Tangga Diam-Diam Panik

“Saya tidak hanya mewakili diri saya sendiri, tetapi juga sebuah negara Muslim. Saya mewakili agama dan budaya. Dan itu menarik perhatian,” jelasnya.

Dan benar saja perhatian itu datang. Banyak yang penasaran, bahkan skeptis. Bagaimana mungkin seorang perempuan berselancar dengan hijab? Apakah itu tidak membatasi?

Jawaban Mufti tidak datang lewat debat panjang, tapi lewat aksi di atas ombak.

Ia membuktikan satu hal batasan sering kali bukan berasal dari tubuh, tapi dari cara pandang.

Menurut laporan Vogue Arabia pada 13/04/2026, Mufti mengaku sering menerima pesan dari perempuan yang terinspirasi olehnya. Bahkan, beberapa di antaranya akhirnya mendapat izin dari orang tua untuk mulai berselancar.

“Saya sering menerima komentar dari perempuan yang ingin mencoba berselancar setelah melihat saya,” ungkapnya.

Di titik ini, olahraga berubah fungsi. Ia bukan lagi sekadar aktivitas fisik, tapi alat sosial.

Hijab Bukan Hambatan, Tapi Pernyataan

Di banyak tempat, olahraga sering dianggap menuntut kompromi terutama bagi perempuan dengan latar budaya tertentu. Mufti menolak narasi itu.

“Olahraga seharusnya tidak membuat seseorang harus mengorbankan agama atau identitasnya, tetapi justru memberdayakannya,” tegasnya.

Pernyataan ini bukan sekadar opini personal. Ini adalah kritik halus terhadap standar global yang sering kali tidak inklusif.

Dalam perspektif sport sociology, hal ini sejalan dengan pandangan pengamat olahraga global, Dr. Emma Sherry (Griffith University), yang pada 2021 menyebut bahwa “inklusi dalam olahraga bukan hanya soal akses, tapi soal penerimaan identitas.”

Artinya, kehadiran Mufti bukan kebetulan. Ia bagian dari gelombang perubahan.

Arab Saudi dan Ombak Perubahan Sosial

Cerita Mufti juga tidak bisa dilepaskan dari konteks negaranya.

Arab Saudi bukan negara dengan sejarah panjang dalam olahraga selancar. Ombaknya tidak selalu konsisten, infrastrukturnya masih berkembang. Tapi justru dari keterbatasan itu, lahir generasi pionir.

Bersama nama-nama seperti Leila Zahid dan Rmas Alhazmi, Mufti menjadi bagian dari fondasi awal tim selancar nasional Arab Saudi.

Mereka berlatih lintas negara, membangun komunitas, dan perlahan mengubah cara pandang masyarakat terhadap perempuan dan olahraga.

Fenomena ini juga sejalan dengan transformasi sosial yang lebih luas di Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir di mana ruang publik untuk perempuan mulai terbuka, termasuk di sektor olahraga.

Menurut pelatih surfing regional Timur Tengah, Ahmed Al-Sabah (wawancara komunitas surfing, 2024), “Perkembangan terbesar bukan di teknik, tapi di keberanian perempuan untuk hadir.” Dan Mufti adalah wajah dari keberanian itu.

Ombak yang Mengubah Narasi

Di atas papan selancar, semua orang terlihat sama melawan ombak, menjaga keseimbangan, dan mencari momen terbaik untuk berdiri.

Tapi di balik itu, setiap atlet membawa cerita yang berbeda. Lamar Mufti membawa cerita tentang identitas, keberanian, dan perubahan.

Ia tidak berteriak, tapi suaranya terdengar. Ia tidak melawan secara frontal, tapi dampaknya terasa. Dan mungkin, di situlah kekuatan sebenarnya.

Karena pada akhirnya, olahraga bukan cuma soal siapa yang paling cepat atau paling kuat. Tapi siapa yang berani mengubah permainan.

Lalu, kalau ombak saja bisa ditembus tanpa melepas identitas apa lagi yang sebenarnya selama ini kita takuti?. @teguh

Tags: Arab SaudiBudayaGriffith UniversityHijabIdentitasInstagramISAKebebasanMomenMuslimNegaraPerubahanPeselancarSkeptisSosialSurfingTransformasiVisualVogue Arabia

REKOMENDASI TABOOO

[Polling] Perempuan Sudah Merdeka atau Cuma Terlihat Merdeka?

[Polling] Perempuan Sudah Merdeka atau Cuma Terlihat Merdeka?

by Tabooo
April 18, 2026

Tabooo.id: Polling – Kalau R.A. Kartini masih hidup hari ini, mungkin dia akan tersenyum melihat perempuan-perempuan sudah merdeka. Tapi… belum tentu...

Pelaku Dihukum, Dalang Hilang: Ada Apa dengan Kasus Kekerasan Aparat?

Pelaku Dihukum, Dalang Hilang: Ada Apa dengan Kasus Kekerasan Aparat?

by dimas
April 18, 2026

Tabooo.id: Deep - Malam itu sunyi. Namun, rasa takut tidak pernah benar-benar pergi.Bagi sebagian orang, ancaman tidak datang dari gelap....

Soekarno Kayuh Sepeda di Hollywood, Kini Banyak yang Kayuh Pencitraan

Soekarno Kayuh Sepeda di Hollywood, Kini Banyak yang Kayuh Pencitraan

by teguh
April 17, 2026

Tabooo.id: Edge - Ada masa ketika seorang presiden datang ke pusat hiburan dunia tanpa iring-iringan berisik, tanpa panggung berlebihan, dan...

Next Post
Ini Bukan Sekadar Data Kemiskinan. Ini Pola Ketimpangan yang Berulang

Angka Bisa Berubah, Tapi Ketimpangan Tetap Sama: Ada Apa dengan Papua?

Recommended

Isu Pelengseran Prabowo: Suara Rakyat atau Operasi Senyap?

Isu Pelengseran Prabowo: Suara Rakyat atau Operasi Senyap?

April 13, 2026
Harga Avtur Meledak, Seberapa Kuat Pariwisata Nasional Bertahan?

Harga Avtur Meledak, Seberapa Kuat Pariwisata Nasional Bertahan?

April 18, 2026

Popular

Daftar Kekayaan Maidi: Ini Peta Aset Seorang Wali Kota Madiun

Daftar Kekayaan Maidi: Ini Peta Aset Seorang Wali Kota Madiun

April 14, 2026

Cepuri Parangkusumo: Mitos, Perjanjian, atau Strategi Kekuasaan Mataram?

April 19, 2026

Labuhan Parangkusumo: Ritual Sakral atau Tradisi yang Mulai Kehilangan Makna?

April 19, 2026

Go Tik Swan: Dia Tionghoa, Tapi Jadi Jawa Sejati

April 19, 2026

Perempuan Indonesia Sudah Maju, Masih Diragukan?

April 19, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id