Tabooo.id: Film – Pernah nggak sih merasa takut tapi tetap penasaran? Takut sama cerita horor lokal. Tapi tetap beli tiket. Begitulah nasib penonton Indonesia: kita merinding, tapi tetap antre.Dan sekarang, giliran Kuyank yang bikin bioskop ramai.
Horor Lokal, Sejuta Penonton
Film produksi DHF Entertainment ini resmi menembus satu juta penonton setelah sebulan tayang sejak 29 Januari 2026. Dengan capaian itu, Kuyank menjadi film Indonesia kedua rilisan tahun ini setelah Alas Roban yang lebih dulu menyentuh angka sejuta.
Sutradara sekaligus produsernya, Johansyah Jumbaran, menyampaikan terima kasih kepada seluruh penonton. Ia memberi apresiasi khusus untuk warga Kalimantan yang konsisten menyumbang angka penonton tinggi setiap hari.
Dan ya, ini bukan sekadar euforia sesaat.
Kuyank merupakan bagian dari Saranjana Universe, semesta cerita yang sebelumnya diperkenalkan lewat Saranjana: Kota Ghaib. Film rilisan 2023 itu bahkan mengumpulkan 1,2 juta penonton.
Artinya, ini bukan kebetulan. Ini pola.
Cantik Abadi, Harga yang Menghantui
Secara cerita, Kuyank: Saranjana the Prequel (2026) mengisahkan Rusmiati (Putri Intan Kasela), istri Badri (Rio Dewanto), yang nekat mempelajari ilmu hitam Kuyang demi kecantikan dan keabadian. Motivasinya sederhana: agar suami tak berpaling.
Sederhana, tapi tragis.
Tindakannya memicu teror mengerikan terhadap ibu hamil dan bayi di Kalimantan, tujuh tahun sebelum kota gaib Saranjana terbuka.
Horor? Jelas.
Namun yang lebih menyeramkan justru motifnya. Ketakutan kehilangan pasangan. Kecemasan merasa “tidak cukup”. Obsesi untuk tetap cantik demi mempertahankan cinta.
Film ini seperti menyentil realita sosial. Di era media sosial, standar kecantikan terasa makin brutal. Banyak orang rela melakukan apa saja demi terlihat awet muda, flawless, dan ideal. Rusmiati memilih jalan mistis. Di dunia nyata, orang memilih filter, filler, atau validasi digital.
Bedanya cuma metode. Akar ketakutannya sama.
Ambisi Semesta Horor Lokal
Keberhasilan Kuyank mempertegas dominasi Saranjana Universe. Industri film Indonesia mulai serius membangun “semesta cerita”. Bukan lagi sekadar film tunggal, tapi rangkaian dunia yang saling terhubung.
Strategi ini cerdas. Penonton tidak hanya membeli satu kisah, tetapi ikut masuk ke dalam dunia yang lebih besar.
Namun ada pertanyaan kecil yang menggelitik: apakah kita menonton karena kualitas ceritanya, atau karena penasaran dengan label “universe”?
Karena sekarang, apa pun terasa lebih prestisius kalau punya semesta.
Meski begitu, harus diakui, horor lokal punya daya hidup sendiri. Mitos Kalimantan, legenda kuyang, dan kisah kota gaib bukan sekadar jumpscare. Ia bagian dari memori kolektif. Ia tumbuh dari cerita yang dulu dibisikkan di teras rumah, bukan dari studio CGI raksasa.
Dan mungkin itu yang membuatnya lebih dekat.
Kita Tak Hanya Menonton Hantu
Pada akhirnya, Kuyank bukan cuma soal kepala terbang dan darah. Film ini bicara tentang ketakutan manusia yang paling dasar: ditinggalkan, diabaikan, tidak lagi diinginkan.
Horor sering kali menjadi cara paling jujur untuk membicarakan kecemasan sosial.
Satu juta penonton bukan sekadar angka. Itu tanda bahwa cerita lokal, jika dikemas dengan serius, bisa bersaing dan bahkan mendominasi.
Sekarang pertanyaannya sederhana: setelah Kuyank, semesta mana lagi yang siap membuat kita merinding sekaligus bercermin? @eko







