Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kumpul Kebo Makin Terbuka, Negara Masih Bungkam?

by teguh
Februari 23, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Praktik hidup bersama tanpa ikatan pernikahan alias kumpul kebo kini tak lagi bersembunyi di balik tembok kamar kos atau apartemen sewaan. Fenomena ini semakin sering muncul di ruang publik, bahkan sempat menyeret nama Aparatur Sipil Negara (ASN). Isu moral berubah menjadi isu struktural.

Mengutip laporan dari The Conversation, perubahan cara pandang generasi muda menjadi salah satu pemicu utama. Mereka tidak lagi memandang pernikahan sebagai tujuan mutlak. Sebaliknya, banyak yang menganggap pernikahan penuh prosedur, mahal, dan sarat tekanan sosial. Karena itu, sebagian memilih hidup bersama tanpa ikatan hukum sebagai bentuk cinta yang dianggap lebih “murni” dan bebas.

Namun, perubahan nilai ini tidak terjadi di ruang hampa. Di Asia, termasuk Indonesia, budaya, agama, dan norma sosial masih kuat mencengkeram. Akibatnya, praktik ini tetap dianggap tabu. Jika pun terjadi, masyarakat sering memaknainya sebagai fase sementara sebelum menikah, bukan pilihan permanen.

Data Bicara: Manado Jadi Sorotan

Studi 2021 berjudul The Untold Story of Cohabitation menunjukkan bahwa praktik kohabitasi lebih banyak ditemukan di wilayah Indonesia Timur, terutama di daerah dengan mayoritas non-Muslim. Salah satu wilayah yang diteliti adalah Manado.

Peneliti ahli muda dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yulinda Nurul Aini, menemukan bahwa 0,6 persen penduduk Kota Manado melakukan kohabitasi berdasarkan data Pendataan Keluarga 2021 milik Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Ini Belum Selesai

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Angka itu mungkin terlihat kecil. Namun, detailnya membuka mata:

  • 1,9% pasangan kohabitasi sedang hamil saat survei berlangsung
  • 24,3% berusia di bawah 30 tahun
  • 83,7% berpendidikan SMA atau lebih rendah
  • 11,6% tidak bekerja
  • 53,5% bekerja di sektor informal

Artinya, praktik ini banyak terjadi di kelompok usia muda dengan kondisi ekonomi yang belum stabil. Dengan kata lain, persoalannya bukan sekadar cinta, tetapi juga soal biaya hidup, akses pekerjaan, dan ketakutan terhadap prosedur perceraian yang rumit.

Yulinda mencatat tiga alasan utama pasangan memilih kohabitasi beban finansial pernikahan, kerumitan proses cerai, serta penerimaan sosial di lingkungan tertentu. Jadi, keputusan ini sering kali lahir dari pragmatisme, bukan sekadar idealisme.

Siapa Diuntungkan, Siapa Dirugikan?

Di atas kertas, pasangan mungkin merasa diuntungkan. Mereka tidak perlu mengurus administrasi, tidak menanggung biaya pesta, dan tidak terikat aturan hukum yang kompleks. Mereka bisa masuk dan keluar hubungan dengan relatif mudah. Namun, di situlah masalahnya.

Perempuan dan anak justru menjadi pihak paling rentan. Dalam pernikahan resmi, hukum mengatur nafkah, hak asuh, warisan, dan pembagian aset saat terjadi perceraian. Dalam kohabitasi, payung hukum itu nyaris tidak ada.

Ketika hubungan berakhir, perempuan tidak memiliki jaminan nafkah. Anak pun berpotensi kehilangan kepastian hukum terkait identitas dan hak finansial. Negara tidak secara tegas mengatur pembagian aset, alimentasi, maupun hak asuh dalam konteks kohabitasi.

Dari sisi psikologis, risikonya juga tidak kecil. Data PK21 menunjukkan:

  • 69,1% pasangan kohabitasi mengalami konflik berupa tegur sapa
  • 0,62% mengalami konflik serius seperti pisah ranjang atau tempat tinggal
  • 0,26% mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)

Memang, konflik juga terjadi dalam pernikahan sah. Namun, kohabitasi kerap diwarnai ketidakpastian komitmen dan masa depan. Ketidakjelasan status itu bisa memicu kecemasan, menurunkan kepuasan hidup, bahkan berdampak pada kesehatan mental.

Anak-anak yang lahir dari hubungan ini juga menghadapi tantangan sosial. Stigma “anak haram” belum sepenuhnya hilang di masyarakat. Akibatnya, anak bisa mengalami kebingungan identitas dan tekanan sosial, bahkan dari lingkungan keluarga sendiri.

Negara Terlambat Membaca Zaman?

Fenomena ini menempatkan negara pada posisi dilematis. Di satu sisi, norma hukum dan agama menegaskan pentingnya pernikahan. Di sisi lain, realitas sosial menunjukkan perubahan pola relasi.

Jika negara hanya mengandalkan pendekatan moral tanpa solusi struktural, praktik ini akan tetap berjalan di bawah radar. Generasi muda tetap akan mencari jalan pintas ketika biaya menikah tinggi, lapangan kerja sempit, dan prosedur hukum terasa menakutkan.

Pertanyaannya sederhana apakah negara ingin terus menghakimi, atau mulai mengantisipasi?

Karena pada akhirnya, kumpul kebo bukan sekadar soal benar atau salah. Ia mencerminkan tekanan ekonomi, perubahan nilai, dan celah regulasi. Dan ketika hukum tertinggal dari realitas, yang paling duluan menanggung risikonya bukan negara melainkan perempuan dan anak.

Jika cinta dibiarkan tanpa perlindungan, yang lahir bukan hanya romansa, tetapi juga kerentanan. @teguh

Tags: AsiaASNbrinFenomenaGenerasiKonflik DuniaKriminal & HukumMudaNasionalNegaraPenelitiSosial

Kamu Melewatkan Ini

Kenapa Kota Kita Makin Penuh Coffee Shop Tapi Miskin Ruang Dialog?

Kenapa Kota Kita Makin Penuh Coffee Shop Tapi Miskin Ruang Dialog?

by jeje
Mei 13, 2026

Di banyak kota, aroma kopi kini terasa lebih mudah ditemukan di coffee Shop daripada ruang bicara yang jujur. Sudut jalan...

Profil Dandhy Laksono: Jurnalis yang Memilih Bertanya Saat Banyak Orang Diam

Profil Dandhy Laksono: Jurnalis yang Memilih Bertanya Saat Banyak Orang Diam

by jeje
Mei 12, 2026

Dandhy Laksono kembali jadi sorotan. Bukan karena kontroversi biasa, tetapi karena film dokumenternya, Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, memicu rasa...

Dari Ujung Timur ke Dunia: Papua Tak Lagi Sekadar Pinggiran

Dari Ujung Timur ke Dunia: Papua Tak Lagi Sekadar Pinggiran

by teguh
Mei 10, 2026

Papua tak lagi sekedar pinggiran. Dulu, banyak orang menyebut Papua sebagai “ujung Indonesia”. Tempat yang terasa jauh, mahal dijangkau, dan...

Next Post
Data WNI Bisa Mengalir ke AS, Aman atau Sekadar Janji Regulasi?

Data WNI Bisa Mengalir ke AS, Aman atau Sekadar Janji Regulasi?

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id