Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kritik Itu Mudah Saat Belum Memegang Kendali

by Naysa
Oktober 13, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on Facebook
Share on Twitter
Dulu, mengkritik pemerintah terdengar mudah: tunjuk masalahnya, bongkar janjinya, lalu tuntut perubahan. Namun, begitu duduk di kursi kekuasaan, kritik yang sama berubah menjadi ujian. Sebab, menunjuk kesalahan orang lain tidak sama dengan membuktikan bahwa kita mampu memperbaikinya.

Tabooo.id – Mengkritik pemerintah memang mudah. Cukup tunjukkan masalah, bongkar kelemahan, lalu tawarkan janji perubahan. Namun, semuanya berubah ketika kursi yang dulu dikritik kini menjadi tempat duduk sendiri.

Tiba-tiba, masalah punya konteks. Keputusan punya alasan. Janji membutuhkan waktu. Sementara kritik yang dulu terdengar masuk akal kini dianggap tidak memahami situasi.

Selamat datang di dunia politik. Tempat seseorang bisa berganti posisi, tetapi publik tetap menagih jawaban yang sama, kalau sekarang kamu yang memegang kendali, apa yang sudah kamu perbaiki?

Dulu Menunjuk Masalah, Sekarang Harus Menyelesaikannya

Menjadi oposisi punya satu keuntungan besar yaitu kamu bisa berdiri di luar sistem dan menunjukkan bagian-bagiannya yang bermasalah.

Ketika pemerintah membuat keputusan kontroversial, oposisi bisa mempertanyakan alasannya. Ketika kebijakan tidak berjalan sesuai harapan, oposisi bisa menyoroti kegagalannya.

Ini Belum Selesai

Api Dipadamkan, Masalahnya Jangan Ikut Dibiarkan

Survei SMRC: Kepuasan Publik terhadap Prabowo Anjlok ke 44,5 Persen

Itu bagian penting dari demokrasi. Pemerintah membutuhkan pengawasan, sedangkan publik membutuhkan suara alternatif.

Namun, ada satu hal yang sering terlupakan. Menunjukkan masalah tidak sama dengan membuktikan kemampuan menyelesaikannya.

Kritik bisa terdengar tajam tanpa harus berhadapan langsung dengan seluruh konsekuensi pengambilan keputusan. Sebaliknya, pemerintah harus mempertimbangkan anggaran, hukum, kepentingan publik, kapasitas birokrasi, dan berbagai konsekuensi yang saling bertabrakan.

Masalahnya, kompleksitas pemerintahan bukan kartu bebas untuk menghindari kritik.

Kalau dahulu seseorang menuntut pemerintah memberikan jawaban, sekarang ia harus bersedia menjawab pertanyaan yang sama.

Bedanya, kali ini publik tidak hanya mendengar janji. Publik juga bisa memeriksa hasil.

Ketika Posisi Berubah, Standar Jangan Ikut Berubah

Perjalanan politik Prabowo Subianto memberikan konteks menarik untuk membicarakan persoalan ini.

Setelah bertahun-tahun berada dalam persaingan politik, Prabowo akhirnya memenangkan Pilpres 2024 dan menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia sejak 20 Oktober 2024.

Perubahan posisi tersebut menggeser tanggung jawabnya secara mendasar. Ia tidak lagi sekadar menawarkan arah pemerintahan sebagai kandidat, tetapi harus mempertanggungjawabkan keputusan sebagai kepala negara.

Di sinilah ujian politik yang sesungguhnya dimulai.

Ketika seorang politisi berada di luar pemerintahan, ia bisa menilai kebijakan dari sudut pandang alternatif. Namun, ketika memimpin, ia harus membuktikan apakah alternatif tersebut benar-benar dapat bekerja.

Namun, kita tetap perlu memeriksa konteks pernyataan, kewenangan, dan perubahan keadaan sebelum menganggap setiap kritik masa lalu sebagai janji pribadi yang harus ia wujudkan.

Tetapi ada prinsip yang tidak seharusnya berubah yaitu standar pertanggungjawaban.

Jika kita menuntut transparansi dari pemimpin lain, kita juga harus menjaga transparansi saat memegang kekuasaan.

Kita juga harus mengkritik kebijakan serupa dari pihak sendiri, sebagaimana kita mengkritik kebijakan buruk yang dibuat lawan politik.

Jangan sampai prinsip politik hanya berlaku selama menguntungkan posisi kita.

Pendukung Boleh Loyal, Publik Tetap Boleh Bertanya

Persoalan berikutnya muncul ketika kritik terhadap pemerintah berubah menjadi persoalan identitas politik.

Sebagian pendukung bisa menganggap kritik sebagai serangan terhadap tokoh yang mereka dukung. Sebagian pengkritik pun bisa menolak kebijakan pemerintah sebelum memeriksa hasilnya.

Keduanya menghadirkan masalah yang sama tetapi penilaian terhadap kebijakan bergeser menjadi pembelaan atau penolakan terhadap figur.

Padahal, kebijakan publik tidak bekerja berdasarkan loyalitas.

Kita tetap perlu mengapresiasi program yang bermanfaat, meski pemerintah yang tidak kita dukung menjalankannya. Sebaliknya, kita juga harus mengkritik kebijakan bermasalah, sekalipun tokoh pilihan kita sendiri yang membuatnya.

Misalnya, ketika pemerintah menjalankan program sosial berskala besar, pertanyaannya bukan sekadar apakah program itu merupakan janji presiden.

Publik juga perlu memeriksa ketepatan sasaran, kualitas pelaksanaan, penggunaan anggaran, dan manfaat yang benar-benar diterima masyarakat.

Apresiasi pencapaian, kritik terhadap masalah, dan kehati-hatian dalam menarik kesimpulan harus berjalan beriringan.

Demokrasi tidak membutuhkan pendukung yang selalu membenarkan. Demokrasi membutuhkan warga yang berani memeriksa.

Kekuasaan Bukan Alasan untuk Kebal Kritik

Ada perbedaan antara menjelaskan mengapa sebuah kebijakan menghadapi hambatan dan menggunakan hambatan sebagai alasan untuk menghindari pertanggungjawaban.

Pemerintahan memang tidak selalu bisa menyelesaikan masalah dalam waktu singkat. Kebijakan juga dapat menghadapi keterbatasan anggaran, penolakan, atau persoalan pelaksanaan.

Karena itu, evaluasi yang adil harus mempertimbangkan konteks.

Namun, konteks tidak menghapus kewajiban pemerintah untuk menjelaskan keputusan, membuka informasi yang relevan, memperbaiki kekurangan, dan menunjukkan perkembangan yang dapat diperiksa.

Publik tidak harus menuntut semua persoalan selesai dalam semalam.

Publik berhak meminta pemerintah menjelaskan progres pekerjaan, kendala yang dihadapi, dan indikator yang digunakan untuk mengukur keberhasilan.

Di sinilah perbedaan antara kepemimpinan dan sekadar penguasaan jabatan terlihat.

Jabatan memberikan kewenangan. Akan tetapi, kewenangan juga membawa konsekuensi.

Semakin besar kekuasaan yang dipegang, semakin besar pula kebutuhan untuk mempertanggungjawabkannya.

Dulu Menagih Jawaban, Sekarang Menjadi Orang yang Ditanya

Inilah ironi yang selalu mengikuti perjalanan dari oposisi menuju kekuasaan.

Ketika berada di luar pemerintahan, seorang politisi dapat membangun citra sebagai pihak yang memahami apa yang salah. Ketika memimpin, ia harus membuktikan bahwa pemahamannya menghasilkan perubahan.

Peralihan itu tidak otomatis membuat seseorang munafik. Perubahan posisi memang membawa tanggung jawab dan tantangan yang berbeda.

Namun, peralihan tersebut juga tidak otomatis membuktikan bahwa seseorang lebih mampu daripada pendahulunya.

Kemampuan memimpin harus diuji melalui keputusan, proses, dan hasil.

Karena itu, kita perlu menguji konsistensi pandangan Prabowo dari masa lalu hingga sekarang melalui kebijakan yang ia jalankan dan pertanggungjawabannya kepada publik.

Sebab, politik bukan hanya soal siapa yang berhasil merebut kekuasaan. Politik juga soal siapa yang bersedia diperiksa setelah mendapatkannya.

Kritik Tidak Kehilangan Nilai Setelah Pemilu

Kemenangan dalam pemilu memberikan mandat untuk memerintah. Namun, mandat tersebut bukan izin untuk menghentikan pertanyaan.

Prabowo berhak menjalankan agenda pemerintahannya. Pendukungnya berhak berharap program-program itu berhasil. Pengkritiknya juga berhak menguji keputusan dan hasilnya.

Semua pihak tetap harus tunduk pada fakta yang sama.

Nilai kebijakan harus diukur melalui bukti, ditelaah dari penyebabnya, dan dinilai secara hati-hati ketika data belum memadai.

Tidak perlu mengubah setiap persoalan menjadi perang antara pendukung dan penentang.

Pada akhirnya, ukuran pemerintahan bukan seberapa keras pendukung membelanya atau seberapa tajam lawan menyerangnya. Ukurannya adalah bagaimana kekuasaan digunakan dan apa dampaknya bagi masyarakat.

Karena mengkritik pemerintah memang mudah saat belum memegang kendali. Yang jauh lebih sulit adalah membuktikan bahwa kita mampu melakukan sesuatu yang lebih baik ketika kendali itu akhirnya berada di tangan sendiri.

Dan ketika hari itu tiba, publik tidak membutuhkan lebih banyak alasan untuk percaya. Publik membutuhkan bukti. @naysa

Tags: Akuntabilitas PublikDemokrasi IndonesiaKekuasaan Politikkritik pemerintahPrabowo Subianto

Kamu Melewatkan Ini

Prabowo Bertemu Guterres di Hambalang: Diplomasi Akrab, Hasilnya Harus Terukur

Prabowo Bertemu Guterres di Hambalang: Diplomasi Akrab, Hasilnya Harus Terukur

by teguh
Oktober 19, 2026

Diplomasi sering dimulai dari sebuah jabat tangan. Dua tokoh bertemu yaitu, Prabowo Bertemu Guterres di Hambalang kamera merekam, lalu pernyataan...

Prabowo dan Guterres Bertemu di Hambalang, Apa Agenda Indonesia di Panggung Dunia?

Prabowo dan Guterres Bertemu di Hambalang, Apa Agenda Indonesia di Panggung Dunia?

by teguh
Oktober 19, 2026

Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), António Guterres, di kediaman pribadinya di Hambalang, Jawa Barat, Minggu...

Survei SMRC: Kepuasan Publik terhadap Prabowo Anjlok ke 44,5 Persen

Survei SMRC: Kepuasan Publik terhadap Prabowo Anjlok ke 44,5 Persen

by eko
Oktober 18, 2026

Survei SMRC mencatat kepuasan publik terhadap Prabowo turun menjadi 44,5 persen. Harga sembako, ekonomi, penegakan hukum, dan program pemerintah menjadi...

Next Post
Di Balik Serangan Houthi, Apa yang Dipertaruhkan Arab Saudi?

Di Balik Serangan Houthi, Apa yang Dipertaruhkan Arab Saudi?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id