Di balik serangan Houthi ke Arab Saudi, tersimpan konflik blokade, perebutan kekuasaan di Yaman, dan strategi menekan Riyadh. Apa yang sebenarnya dipertaruhkan?
Tabooo.id – Mengapa Houthi menyerang Arab Saudi ketika perang Yaman kembali membara? Jawabannya tidak berhenti pada rudal yang menghantam Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Di balik serangan itu, ada tuntutan pencabutan blokade, perebutan kekuasaan di Yaman, dan strategi memaksa Riyadh membayar mahal atas keterlibatannya dalam konflik.
Serangan pada 10 Oktober 2026 dilaporkan menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya. Sehari kemudian, serangan lain kembali menimbulkan korban jiwa. Houthi mengakui melancarkan operasi terhadap bandara tersebut, sementara koalisi pimpinan Arab Saudi mengecam serangan itu sebagai kejahatan perang.
Namun, untuk memahami alasan di balik serangan tersebut, kita perlu melihat hubungan panjang antara Houthi dan Riyadh. Keduanya bukan sekadar dua pihak yang bertukar serangan. Mereka berada dalam konflik yang menyangkut siapa yang menguasai Yaman dan siapa yang menentukan masa depan negara tersebut.
Blokade Dibalas Blokade
Houthi menyebut pengepungan Yaman melalui jalur darat, udara, dan laut sebagai alasan utama meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi.
Kelompok yang secara resmi bernama Ansar Allah itu menuntut penghentian agresi Saudi dan pencabutan pengepungan terhadap wilayah yang mereka kuasai. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, juga mengancam akan melanjutkan eskalasi jika tuntutan tersebut tidak terpenuhi.
Prinsip mereka terang-terangan: tekanan dibalas dengan tekanan.
Menurut laporan Al Jazeera, Houthi memandang serangan terhadap bandara Saudi sebagai bagian dari strategi blokade dibalas blokade. Mereka menempatkan serangan itu sebagai respons terhadap serangan Saudi terhadap bandara Sana’a dan Hodeidah.
Di sinilah logika pembalasan bekerja. Ketika satu pihak menggunakan kekuatan militer untuk menekan lawannya, pihak yang diserang dapat membalas dengan menciptakan biaya yang lebih besar.
Houthi tidak harus mengalahkan seluruh kekuatan militer Saudi untuk menjalankan strategi tersebut. Mereka cukup menciptakan ancaman berulang terhadap infrastruktur penting, mengganggu penerbangan, dan meningkatkan tekanan keamanan di wilayah Saudi.
Namun, strategi ini membawa risiko besar. Ketika serangan menjangkau bandara yang melayani penerbangan sipil, masyarakat yang tidak terlibat dalam pertempuran ikut menghadapi bahaya.
Pembalasan menjelaskan alasan di balik serangan, tetapi tidak serta-merta membenarkan cara pelaku melancarkannya.
Mengapa Arab Saudi Menjadi Sasaran?
Ada alasan strategis mengapa Houthi mengarahkan serangan kepada Riyadh.
Arab Saudi mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan membantu pasukannya melawan Houthi. Ketika pasukan pemerintah Yaman meningkatkan serangan balasan, Houthi menghadapi tekanan militer di dalam wilayah yang mereka kuasai.
Dalam situasi tersebut, serangan lintas perbatasan dapat menjadi cara untuk memperluas medan tekanan. Riyadh bukan hanya pusat pemerintahan Saudi, tetapi juga simbol kekuatan negara yang mendukung lawan mereka di Yaman.
Laporan The Guardian pada 12 Oktober 2026 menjelaskan bahwa serangan Houthi terhadap bandara dan infrastruktur energi Saudi berlangsung ketika pasukan pemerintah Yaman melancarkan serangan balasan terhadap posisi kelompok tersebut.
Dengan menyerang wilayah Saudi, Houthi berusaha menunjukkan bahwa keterlibatan Riyadh dalam perang Yaman memiliki konsekuensi langsung bagi keamanan kerajaan.
Strategi itu juga berpotensi memaksa Saudi membagi perhatian antara operasi militernya di Yaman dan perlindungan terhadap infrastruktur di dalam negeri.
Meski demikian, keberhasilan strategi tersebut belum tentu menghasilkan konsesi politik. Saudi bisa memilih meningkatkan pertahanan, memperluas serangan balasan, atau mencari jalur diplomasi. Setiap pilihan membawa konsekuensi berbeda bagi konflik.
Perebutan Kekuasaan yang Belum Selesai
Konflik ini tidak bisa dipahami hanya sebagai perselisihan antara Houthi dan Saudi. Akar persoalannya juga berada di dalam Yaman.
Houthi muncul di wilayah utara Yaman pada 1990-an. Gerakan tersebut kemudian berkembang menjadi kekuatan politik dan bersenjata. Pada September 2014, mereka merebut Sana’a, ibu kota Yaman.
Arab Saudi kemudian memimpin koalisi militer pada Maret 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Sejak saat itu, perang berkembang menjadi pertarungan panjang mengenai pemerintahan, wilayah kekuasaan, dan legitimasi politik.
Bagi Houthi, mempertahankan wilayah yang mereka kuasai tidak lagi cukup. Kelompok tersebut juga menginginkan pengakuan sebagai otoritas pemerintahan. Sementara itu, pemerintah Yaman yang didukung Saudi berupaya mempertahankan kedudukan politiknya.
Karena itu, serangan terhadap Riyadh memiliki dimensi domestik sekaligus regional. Houthi menghadapi lawan di Yaman, tetapi mereka juga berusaha menekan negara yang menopang lawan tersebut.
Inilah salah satu alasan mengapa gencatan senjata saja belum tentu menyelesaikan konflik. Selama kedua pihak belum menemukan kesepakatan tentang pembagian kekuasaan dan masa depan pemerintahan Yaman, sumber ketegangan tetap ada.
Bandara dan Minyak sebagai Alat Tekanan
Serangan terhadap bandara juga memiliki makna strategis yang lebih luas.
Bandara Riyadh merupakan pintu masuk penting bagi perjalanan internasional, aktivitas bisnis, dan mobilitas masyarakat. Gangguan terhadap operasionalnya dapat menimbulkan dampak ekonomi sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan kerajaan.
Houthi juga meningkatkan ancaman terhadap fasilitas energi dan jalur pelayaran. Menurut analisis The Guardian, serangan terhadap infrastruktur berprofil tinggi dapat memperbesar biaya yang harus ditanggung Saudi sekaligus menyoroti kerentanan keamanan negara tersebut.
Sementara itu, posisi geografis Yaman memberi Houthi peluang untuk mengganggu pelayaran di sekitar Selat Bab el-Mandeb. Selat tersebut menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi jalur penting menuju Terusan Suez.
Artinya, konflik lokal dapat menjalar ke kepentingan ekonomi internasional. Gangguan berkepanjangan terhadap penerbangan, energi, dan pelayaran berpotensi meningkatkan biaya transportasi serta menambah ketidakpastian perdagangan.
Namun, dampak itu tidak otomatis berarti Houthi mampu mengendalikan perekonomian Saudi atau perdagangan global. Besarnya tekanan bergantung pada kemampuan mereka mempertahankan serangan, efektivitas pertahanan Saudi, dan respons negara-negara lain.
Iran Memperluas Konteks, tetapi Yaman Tetap Pusat Konflik
Hubungan Houthi dengan Iran membuat konflik ini semakin rumit.
Teheran mendukung Houthi dan memasukkan kelompok tersebut ke dalam poros perlawanan regional. Dukungan itu memperkuat posisi Houthi dalam menghadapi lawan-lawan mereka.
Namun, Houthi membantah bahwa mereka merupakan proksi Iran. Hubungan strategis dan dukungan persenjataan tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa Teheran mengendalikan setiap keputusan kelompok tersebut.
Eskalasi terbaru juga berlangsung di tengah konflik yang lebih luas antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Situasi regional ini membuka peluang bagi Houthi untuk memperluas tekanan terhadap Saudi, sekaligus meningkatkan risiko keterlibatan aktor lain.
Meski demikian, menjelaskan serangan terhadap Riyadh hanya sebagai bagian dari persaingan Iran melawan Amerika Serikat akan mengabaikan akar konflik Yaman.
Houthi memiliki kepentingan politik sendiri. Mereka ingin mempertahankan wilayah kekuasaan dan memperkuat posisi dalam menentukan masa depan pemerintahan Yaman.
Dengan kata lain, konflik regional dapat memperbesar peluang dan daya tawar mereka, tetapi tidak menggantikan tujuan politik domestik yang telah lama mereka perjuangkan.
Siapa yang Membayar Harga Strategi Ini?
Serangan Houthi terhadap Riyadh memperlihatkan upaya kelompok tersebut mengubah tekanan militer menjadi tekanan politik. Mereka ingin membuat keterlibatan Saudi dalam konflik Yaman semakin mahal.
Namun, strategi tersebut juga memperbesar risiko bagi warga sipil, baik di Saudi maupun Yaman. Serangan terhadap bandara mengancam keselamatan penumpang dan pekerja, sedangkan serangan balasan berpotensi memperburuk kondisi masyarakat di wilayah yang dikuasai Houthi.
Di Yaman, konflik berkepanjangan telah merusak kehidupan sosial dan ekonomi. Ketika pertempuran kembali meningkat, warga menghadapi ancaman pengungsian, gangguan layanan dasar, dan ketidakpastian masa depan.
Pada saat yang sama, masyarakat di luar kawasan berpotensi merasakan dampak tidak langsung melalui gangguan penerbangan, perdagangan, dan distribusi energi.
Inilah paradoks perang para pemimpin dan kelompok bersenjata bernegosiasi melalui kekuatan, tetapi masyarakat biasa sering menanggung akibat yang tidak mereka pilih.
Pada akhirnya, pertanyaan utamanya bukan sekadar mengapa Houthi menyerang Arab Saudi. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah strategi saling menekan itu dapat menghasilkan kesepakatan politik atau justru memperpanjang perang.
Selama blokade dibalas blokade dan serangan dibalas serangan, setiap pihak mungkin merasa sedang memperkuat posisi tawarnya. Namun, tanpa penyelesaian politik yang menyentuh akar konflik Yaman, kemenangan militer sekalipun belum tentu membawa perdamaian.
Houthi ingin membuat Saudi merasakan biaya perang Yaman. Namun, siapa yang akan menghentikan lingkaran pembalasan sebelum warga sipil kembali menjadi korban berikutnya? @dimas








