Minggu, Juni 28, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Krisis Pangan dan Iklim, Pakar Dorong Serangga Jadi Protein Nasional

by dimas
Desember 19, 2025
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Harga pangan terus bergerak naik. Cuaca semakin sulit diprediksi. Di tengah situasi itu, satu pertanyaan mulai mengetuk kesadaran publik sampai kapan Indonesia bergantung pada daging sapi, ayam, dan ikan sebagai sumber protein utama?

Jawaban alternatif itu muncul dalam talkshow Melacak Jejak Pangan Nusantara yang digelar Kompasiana di Studio KompasTV, Jakarta, Kamis (18/12/2025). Di forum tersebut, para pakar mendorong publik untuk melirik kembali serangga Nusantara belalang, jangkrik, ulat sagu, hingga laron sebagai sumber protein masa depan.

Bagi sebagian orang, ide ini terdengar ekstrem. Namun bagi sains dan lingkungan, justru sebaliknya.

Serangga: Kecil Bentuknya, Besar Manfaatnya

Pakar entomologi Dadan Hindayana menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan telah lama mengenal konsep edible insects. Kelompok ini mencakup serangga yang aman, bergizi, dan layak dikonsumsi manusia. Di dalamnya terdapat belalang, jangkrik, ulat jati, dan laron jenis yang sebenarnya sudah akrab dalam tradisi pangan lokal.

“Serangga mengandung protein sangat tinggi dan jauh lebih efisien diproduksi dibandingkan ternak konvensional,”jelas Dadan.

Ini Belum Selesai

Suran Agung PSHW ke-123: Madiun Mengawal Persaudaraan

TABOOO Corner Hadir di Winongo, Buka Ruang Membaca Realitas

Ia menjelaskan, jangkrik hanya membutuhkan pakan sekitar enam kali lebih sedikit dibanding sapi untuk menghasilkan protein dalam jumlah setara. Selain itu, serangga menghasilkan emisi gas rumah kaca dan amonia yang jauh lebih rendah. Artinya, dapur berbasis serangga meninggalkan jejak karbon yang lebih ringan.

Dari sisi rasa, Dadan menyebut banyak orang menilai belalang dan jangkrik mirip udang. Keduanya sama-sama hewan beruas dan memiliki kedekatan evolusi.

Dunia Bergerak Cepat, Indonesia Masih Menimbang

Sejumlah negara telah melangkah lebih dulu. China, misalnya, membudidayakan belalang secara masif dengan teknologi sederhana dan lahan terbatas. Produk tersebut bahkan menembus pasar ekspor.

Indonesia justru masih berkutat pada praktik tradisional berbasis tangkapan alam. Pola ini membuat pasokan tidak stabil dan nilai ekonominya belum berkembang.

Menurut Dadan, tantangan terbesar bukan terletak pada teknologi, melainkan pada kebiasaan makan.

“Apa yang tidak dibiasakan akan terasa asing,” ujarnya.

Di meja makan, serangga sering kalah bukan karena rasa, melainkan karena stigma.

Politik Selera di Balik Piring Makan

Research Director Center for Sustainable Indonesian Food and Agriculture (CS-IFA), Repa Kustipia, melihat isu ini sebagai persoalan yang lebih struktural. Ia menilai pangan selalu berkaitan erat dengan sejarah dan kekuasaan.

Dalam perjalanan Nusantara dari masa pemburu-peramu, pertanian awal, hingga kolonialisme selera makan ikut berubah. Sistem perdagangan global dan kebijakan kolonial mendorong pergeseran konsumsi dan menyingkirkan banyak pangan lokal.

Repa menyebut kondisi ini sebagai gustatory politics atau politik selera. Menurutnya, pilihan pangan masyarakat tidak lahir semata dari lidah, tetapi juga dari kebijakan, struktur ekonomi, dan rantai pasok global.

“Diversifikasi pangan, termasuk serangga, menjadi cara untuk merebut kembali kedaulatan pangan,” ujar Repa.

Sayangnya, banyak pangan endemik Nusantara belum terdokumentasi dengan baik. Akibatnya, negara sulit mengembangkan potensi tersebut secara berkelanjutan dan bernilai ekonomi tinggi.

Riset, Genetik, dan Pekerjaan Rumah Negara

Dari sisi riset, Kepala Riset Hortikultura dan Perkebunan BRIN, Dwininta Wika Utami, menegaskan bahwa Indonesia menyimpan kekayaan genetik pangan yang sangat besar. Selain padi putih, Indonesia memiliki padi merah, hitam, dan ungu, serta sorgum, sagu, hanjeli, dan beragam umbi lokal.

Menurut Dwininta, kekayaan ini merupakan aset strategis negara. Namun aset itu membutuhkan pengelolaan kolaboratif. Peneliti, pemerintah daerah, dan masyarakat harus bergerak bersama.

“Riset tidak boleh berhenti di laboratorium. Ia harus sampai ke masyarakat,” tegasnya.

BRIN, lanjutnya, telah meneliti berbagai komoditas lokal, termasuk tanaman yang selama ini hanya dikenal sebagai hiasan, tetapi memiliki potensi pangan dan kesehatan. Melalui hilirisasi riset, pangan alternatif termasuk serangga bisa memperkuat ketahanan dan kemandirian pangan nasional.

Dari Jijik ke Masuk Akal

Perdebatan tentang serangga sebagai pangan sering berakhir pada satu kata: jijik. Namun di tengah krisis iklim dan keterbatasan sumber daya, persoalan pangan seharusnya berangkat dari logika, bukan sekadar selera.

Belalang mungkin belum siap menggantikan ayam goreng di meja makan nasional. Namun menolaknya mentah-mentah juga bukan sikap visioner. Di tengah tekanan global, mungkin yang paling aneh bukan memakan serangga melainkan tetap bersikeras bahwa masa depan protein hanya boleh datang dari sapi dan ayam. @dimas

Tags: Ketahanan PanganKrisis Pangan

Kamu Melewatkan Ini

Dari Buku ke Perubahan: Saat Ibu Rumah Tangga Menjadi Agen Iklim Indonesia

Dari Buku ke Perubahan: Saat Ibu Rumah Tangga Menjadi Agen Iklim Indonesia

by teguh
Juni 18, 2026

Selama bertahun-tahun, krisis iklim Indonesia dibahas dalam ruang-ruang formal. Pemerintah menyusun kebijakan. Akademisi menerbitkan riset. Aktivis menggelar kampanye. Perusahaan meluncurkan...

Menteri Pertanian Ajak Kampus ke Sawah: Bisakah Riset Menjawab Krisis Pangan?

Menteri Pertanian Ajak Kampus ke Sawah: Bisakah Riset Menjawab Krisis Pangan?

by teguh
Juni 8, 2026

Di atas panggung Auditorium Mokodompit Universitas Halu Oleo, Kendari, Sabtu 6 Juni 2026, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman tidak sekadar...

Mentan Tantang Kampus Wujudkan Swasembada Pangan

Mentan Tantang Kampus Wujudkan Swasembada Pangan

by teguh
Juni 6, 2026

Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, mengajak seluruh perguruan tinggi di Indonesia mengambil peran lebih besar dalam mewujudkan swasembada...

Next Post
Smartphone Makin Mahal, Pasar Global Resmi Masuk Fase Rem

Smartphone Makin Mahal, Pasar Global Resmi Masuk Fase Rem

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id