Sabtu, Juni 27, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kraton dan Negara: Antara Simbol Budaya dan Bayangan Kekuasaan

by Tabooo
Oktober 11, 2025
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id – Nasional: Di tengah arus demokrasi yang kian deras, lembaga monarki seperti kraton dan kesultanan di Indonesia masih berdiri tegak, meski tanpa mahkota kekuasaan politik. Dari Yogyakarta yang diakui “istimewa” secara hukum, hingga Surakarta yang kehilangan statusnya. Kisah mereka bukan sekadar nostalgia sejarah, tapi cermin tarik-menarik antara tradisi, hukum, dan politik modern.

Berdasarkan Pasal 18B UUD 1945, negara memang “mengakui dan menghormati kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat.” Kalimat itu terdengar inklusif, tapi di baliknya tersembunyi perbedaan nasib yang mencolok di antara kerajaan-kerajaan Nusantara.

Yogyakarta: Tahta yang Tetap Bertakhta Secara Hukum

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) adalah satu-satunya monarki yang berhasil bertransformasi menjadi bagian sah dari arsitektur negara modern. Melalui UU Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY, Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman memiliki lima kewenangan khusus: tata cara penetapan gubernur dan wakil gubernur, kelembagaan pemerintahan, kebudayaan, pertanahan, dan tata ruang.

Kraton dan Negara: Antara Simbol Budaya dan Bayangan Kekuasaan
Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat (Tabooo)

Inilah bentuk “monarki demokratis” paling sukses di Indonesia. Kepala daerahnya, Sultan dan Adipati, ditetapkan, bukan dipilih lewat pemilu. Sistem ini meniadakan risiko konflik politik lokal dan sekaligus memastikan stabilitas pemerintahan.

“Stabilitas adalah harga yang dibayar dengan kepercayaan sejarah,” ujar salah satu akademisi hukum tata negara dari UGM.

Ini Belum Selesai

TABOOO Corner Hadir di Winongo, Buka Ruang Membaca Realitas

Spektra Carnival 2026: Saat Madiun Menyalakan Identitasnya

Selain politik, kekuatan ekonomi juga berpihak pada Yogyakarta. Sultan Ground dan Paku Alam Ground, tanah milik keraton yang diakui secara legal, memberi fondasi ekonomi yang tidak dimiliki kerajaan lain. Dengan itu, Keraton Yogyakarta bukan hanya simbol budaya, tapi juga aktor ekonomi dan tata ruang yang sah dalam sistem negara.

Surakarta: Keistimewaan yang Hilang, Wibawa yang Retak

Berbeda nasib dengan saudara tuanya, Kasunanan Surakarta harus melepas gelar “Daerah Istimewa” lewat UU Nomor 10 Tahun 1950. Status hukum ini membuat Surakarta hanya menjadi bagian administratif dari Provinsi Jawa Tengah tanpa hak istimewa.

Penyebabnya klasik tapi menyakitkan: konflik internal dan politik. Di era pasca-kemerdekaan, dua entitas, Kasunanan dan Mangkunegaran, tidak mampu bersatu mendukung Republik secara solid. Ditambah lagi, gerakan anti-swapraja mengguncang legitimasi mereka. Negara pun mencabut keistimewaan Surakarta, menjadikannya sekadar simbol sejarah.

Kraton dan Negara: Antara Simbol Budaya dan Bayangan Kekuasaan
Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (Tabooo)

Kini, masalah itu berulang dalam bentuk baru. Sengketa suksesi, dualisme kepemimpinan, hingga perebutan aset tanah memperlemah wibawa Keraton Surakarta. Bahkan konflik internal sempat sampai ke Mahkamah Agung. Dari istana yang dulu menjadi pusat kerajaan Mataram, kini tersisa tembok yang menahan memori dan perebutan legitimasi moral.

Namun di tengah situasi itu, suara dari dalam dinding istana masih berusaha menjaga marwah budaya. KPA. H. Dany Nur Adiningrat, Pengageng Sasana Wilapa Kraton Kasunanan Surakarta, menegaskan bahwa konflik internal tidak boleh menenggelamkan misi luhur keraton sebagai penjaga moral dan budaya Jawa.

“Kraton bukan sekadar rumah bangsawan. Ini rumah bagi jiwa Jawa. Kalau kita hanya sibuk berebut tahta, yang hilang bukan sekadar gelar, tapi jati diri bangsa,” ujarnya saat ditemui Tabooo, Kamis (9/10/2025) malam.

Pandangan serupa disampaikan KPA. Hari Andri Winarso Wartonagoro, Sentana Dalem sekaligus pemerhati sejarah politik kraton. Menurutnya, persoalan legitimasi di Surakarta lebih tepat dilihat sebagai persoalan struktural yang membutuhkan kepastian hukum, bukan sekadar rekonsiliasi personal.

“Negara perlu hadir, bukan untuk mengatur kraton, tapi melindungi nilai yang diwakilinya. Tanpa dasar hukum yang jelas, monarki tradisional akan terus jadi penonton di tanahnya sendiri,” ujarnya.

Keduanya sepakat, masa depan Kasunanan bukan pada siapa yang duduk di singgasana, tapi pada kemampuan kerabatnya menghidupkan kembali fungsi moral dan kultural kraton di tengah masyarakat modern.

Simbolisme dan Hukum: Antara Pengakuan dan Pembatasan

Secara hukum, Indonesia mengakui eksistensi monarki tradisional hanya sebatas “masyarakat hukum adat”. Artinya, kraton di luar Yogyakarta tak memiliki kekuasaan administratif. Mereka berfungsi sebagai penjaga budaya, bukan pengambil keputusan politik.

Namun di lapangan, batas antara budaya dan politik sering kabur. Dalam banyak kasus, kraton masih memiliki pengaruh sosial kuat—baik sebagai mediator konflik, simbol moral, maupun daya tarik wisata. Di sisi lain, ketiadaan kepastian hukum atas aset membuat banyak kraton hidup dalam paradoks, dihormati secara simbolis, tapi tak punya perlindungan legal yang nyata.

Para ahli menilai, tanpa regulasi baru yang mengatur pengelolaan aset budaya dan mekanisme suksesi, monarki non-DIY akan terus berada dalam posisi rawan. Negara perlu memandang mereka bukan sekadar peninggalan romantik, tapi bagian dari ekosistem budaya yang berhak atas kejelasan hukum.

Perdebatan soal kraton bukan sekadar urusan istana, tapi soal identitas nasional dan cara kita memperlakukan sejarah. Apakah warisan budaya harus tunduk pada logika modern semata, atau bisa hidup berdampingan dengan demokrasi?

Dalam dunia yang serba cepat dan pragmatis, keberadaan kraton mengingatkan bahwa tidak semua nilai harus digantikan oleh algoritma dan angka suara. Kadang, simbol lebih kuat dari struktur.

Dan mungkin, di negeri yang sibuk dengan perebutan kursi kekuasaan, hanya kraton yang masih tahu arti “berkuasa tanpa perlu berkuasa.” @tabooo

Tags: Kraton SoloKraton SurakartaNewsSolo

Kamu Melewatkan Ini

DPR Sahkan RUU Polri, Pengawasan dan Netralitas Jadi Taruhan

DPR Sahkan RUU Polri, Pengawasan dan Netralitas Jadi Taruhan

by Tabooo
Juni 10, 2026

DPR RI resmi sahkan RUU Polri menjadi undang-undang dalam rapat paripurna. DPR menyebut aturan baru ini memperkuat transformasi, pengawasan, netralitas,...

Dua Kirab Malam 1 Suro, Keraton Surakarta Masuk Zona Rawan?

Dua Kirab Malam 1 Suro, Keraton Surakarta Masuk Zona Rawan?

by Tabooo
Juni 9, 2026

Dua Kirab Malam 1 Suro di Keraton Surakarta disebut berpotensi digelar pada tanggal yang sama. Situasi ini memicu kekhawatiran karena...

Anti-Swapraja: Ketika Feodalisme Dianggap Musuh

Anti-Swapraja: Ketika Feodalisme Dianggap Musuh

by Tabooo
Mei 29, 2026

Gerakan anti swapraja Surakarta bukan sekadar penolakan terhadap keraton. Ia lahir dari benturan Republik, feodalisme, ketimpangan agraria, dan kemarahan kelas...

Next Post
Vape Aman Karena Gak Ada Nikotin?

Vape Aman Karena Gak Ada Nikotin?

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id