Tabooo.id: Nasional – Di Kabupaten Pati, seorang bupati mengubah kursi jabatan menjadi mesin cetak uang. Namanya Sudewo. Pada Jumat (23/1/2026), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Sudewo sebagai tersangka pemerasan calon perangkat desa. Nilai yang diperkirakan? Puluhan miliar rupiah jika praktik itu meluas ke seluruh kecamatan.
Faktanya, di satu kecamatan saja, Jaken, Sudewo berhasil mengumpulkan Rp 5,2 miliar dari calon perangkat desa. KPK menyita Rp 2,6 miliar dalam operasi tangkap tangan (OTT). Namun, Kabupaten Pati memiliki 21 kecamatan dan 601 formasi perangkat desa kosong. Jika Sudewo menerapkan modus yang sama di seluruh kecamatan, KPK memperkirakan uang hasil pemerasan bisa menembus lebih dari Rp 50 miliar.
“Dari satu kecamatan saja barang bukti Rp 2,6 miliar. Kalau diulang di 21 kecamatan, angkanya bisa sekitar Rp 50-an miliar,” jelas Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan.
Kronologi Pemerasan
Modusnya sederhana tapi kejam: calon perangkat desa harus membayar tarif tertentu agar lolos seleksi. Sudewo memasang tarif Rp 125-150 juta per calon, sementara anak buahnya menaikkan menjadi Rp 165-225 juta. Operasi tangkap tangan menjerat Sudewo dan tiga kepala desa lain Abdul Suyono (Karangrowo), Sumarjiono (Arumanis), dan Karjan (Sukorukun).
Selain menyita uang, KPK menerima laporan bahwa masyarakat mengembalikan sebagian hasil pemerasan melalui pengepul. KPK mendorong pengembalian uang itu langsung ke penyidik agar menjadi barang bukti sekaligus mempermudah penyidikan.
Sudewo dan anak buahnya mengubah kursi perangkat desa menjadi mesin cetak jutaan rupiah bagi diri mereka sendiri. Negara pun mendapatkan legitimasi simbolis KPK menampilkan aksinya menjerat pejabat nakal. Namun, rakyat membayar mahal hanya untuk kesempatan melayani desa sendiri. Pejabat menguasai sistem sehingga calon perangkat desa, yang seharusnya bekerja murni untuk masyarakat, justru terseret ke dalamnya.
Media pun ikut terkena efek domino. Setiap pemberitaan OTT menimbulkan sensasi, tetapi jarang menyoroti dilema calon perangkat desa: mereka harus menyeimbangkan kebutuhan ekonomi, rasa takut gagal, dan integritas yang terjepit.
Perspektif Korban
Bayangkan posisi calon perangkat desa: mereka ingin berkontribusi pada masyarakat, tetapi harus membayar ratusan juta untuk duduk di kursi yang diidamkan. Banyak yang meminjam uang, menjual aset, atau tergiur janji manis pejabat agar ‘lolos’. Ketika OTT terjadi, bukan hanya Sudewo yang terseret, tetapi calon perangkat desa juga menanggung trauma psikologis dan reputasi rusak. Mereka terjebak dalam permainan sistem yang memanfaatkan jabatan publik untuk kepentingan pribadi.
Bagi mereka, OTT bukan sekadar penegakan hukum. OTT menjadi pengingat pahit bahwa integritas dan keberanian bisa kalah oleh kekuasaan uang.
Tabooo Mengulik: Ironi dan Pelajaran
Di Indonesia, pejabat kerap menjadikan jabatan publik sebagai tambang pribadi. ronisnya, rakyat yang mencoba membela desanya justru diperas, sementara pejabat nakal menikmati puluhan miliar. Kasus Sudewo menunjukkan hukum menegakkan keadilan, tapi juga menegaskan paradoks sosial: integritas sering merugikan yang mempertahankannya, sementara kekuasaan memberi keuntungan besar bagi mereka yang memanfaatkannya.
KPK bertindak sebagai penyelamat moral, tetapi kasus ini memunculkan pertanyaan lebih dalam: berapa banyak kursi publik di seluruh Indonesia masih dijual beli secara terselubung? Dan seberapa cepat kita, sebagai masyarakat, akan menyadari bahwa integritas pejabat adalah barang mewah yang langka?
Penutup yang Menyentil
Sudewo kini menjadi contoh publik tentang risiko dan godaan kekuasaan. Puluhan miliar bisa berpindah tangan, tetapi moral dan kepercayaan masyarakat tetap tak ternilai. Jika kursi jabatan bisa ‘dijual’, jangan heran bila demokrasi kadang terasa seperti pasar malam: ramai, meriah, tapi sarat tipu daya.
Di Pati, harga sebuah kursi desa bukan hanya ratusan juta, tetapi juga harga kesabaran, keberanian, dan keyakinan bahwa hukum akan menegakkan keadilan. Pelajaran hari ini sederhana, di negeri ini uang sering menguji integritas, dan rasa takut menantang keberanian. (red)




