Tabooo.id: Talk – Setiap Lebaran, kita kembali melihat pemandangan yang sama jalanan padat, koper penuh, dan wajah lelah yang tetap menyimpan harap. Arus balik bukan sekadar soal kemacetan ia menjelma etalase paling jujur tentang mimpi besar bernama “kota”.
Namun di balik hiruk-pikuk itu, satu pertanyaan terus muncul apakah kota benar-benar menjanjikan masa depan, atau kita hanya jatuh cinta pada cerita yang sudah dibaguskan?
Cerita Sukses yang Setengah Jadi
Di ruang tamu, obrolan khas Lebaran terus berulang. Sambil menikmati kue nastar, para perantau berbagi kisah. Mereka mengatakan kerja di kota menjanjikan, asal rajin dan tahan banting. Bahkan, sebagian meyakinkan bahwa peluang terbuka lebar bagi siapa saja.
Sekilas, narasi itu terdengar seperti trailer film sukses. Sayangnya, kita jarang melihat versi lengkapnya. Banyak anak muda berangkat ke kota bukan karena rencana matang, melainkan karena dorongan cerita dari teman, saudara, atau tetangga yang pulang dengan tampilan meyakinkan.
Sering kali, mereka memoles cerita itu. Mereka melebihkan bagian yang indah dan menutupi sisi gelapnya. Tanpa sadar, kita langsung mempercayainya.
Hitung-hitungan yang Tak Pernah Diceritakan
Jika kita hitung secara sederhana, realitasnya tidak selalu seindah cerita. Gaji Rp4 juta di kota besar memang terlihat menarik. Namun setelah membayar kos, makan, transportasi, dan kebutuhan harian, uang yang tersisa sering kali hampir tidak ada.
Meski begitu, banyak perantau tetap tampil “berhasil” saat pulang kampung. Mereka memakai sepatu baru, menggenggam ponsel mahal, dan menunjukkan gaya hidup kekinian. Padahal, sebagian dari mereka bertahan dengan cicilan, bahkan menyewa barang demi menjaga citra.
Fenomena ini bukan sekadar soal gaya hidup. Di desa, kegagalan terasa lebih keras gaungnya. Karena itu, banyak orang memilih menampilkan versi terbaik dirinya, meski realitasnya tidak seindah itu.
Kota: Peluang atau Panggung?
Pada titik tertentu, kota tidak lagi sekadar ruang mencari peluang. Kota berubah menjadi panggung tempat orang bertahan, bukan selalu berkembang. Harga yang harus dibayar pun tidak murah.
Sebagian orang menguras tenaga dengan pekerjaan serabutan setiap hari. Sebagian lain menghadapi tekanan mental yang perlahan menggerus semangat. Bahkan, tidak sedikit yang mengambil dua hingga tiga pekerjaan sekaligus hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Meski demikian, tidak semua cerita berakhir pahit. Ada juga yang benar-benar berhasil. Mereka datang dengan keterampilan, rencana, dan kesiapan mental. Dalam kondisi seperti ini, kota memang bisa menjadi ruang tumbuh.
Karena itu, kita perlu bersikap adil kota bukan penjahat, tetapi juga bukan penyelamat.
Desa yang Terlalu Sering Diremehkan
Di sisi lain, banyak orang masih memandang desa hanya sebagai tempat pulang, bukan tempat berkembang. Padahal, desa menyimpan potensi besar. Sumber daya tersedia, komunitas kuat, dan akses digital kini semakin terbuka.
Masalah utamanya bukan pada desa, melainkan pada cara pandang kita. Banyak anak muda mulai menyadari hal ini. Mereka memilih tinggal, membangun usaha, dan menciptakan peluang di kampung sendiri.
Sayangnya, kisah mereka jarang terdengar. Cerita “bertahan di desa” memang tidak sepopuler narasi “menaklukkan kota”. Padahal, di sanalah muncul alternatif masa depan yang lebih realistis.
Peran Negara yang Tak Bisa Absen
Sementara itu, pemerintah tidak boleh tinggal diam. Desa tidak bisa terus berperan sebagai penyangga kota. Pemerintah harus mendorong perubahan lewat pelatihan keterampilan, akses permodalan, literasi digital, dan pembukaan jaringan pasar.
Tanpa langkah konkret, urbanisasi akan terus berulang setiap tahun. Kita mungkin menganggapnya tradisi, padahal itu tanda ketimpangan yang belum selesai.
Jadi, Kita Sedang Mengejar Apa?
Pada akhirnya, setiap orang berhak merantau. Kota bisa membuka peluang bagi mereka yang datang dengan bekal cukup. Sebaliknya, tanpa persiapan, kota justru berubah menjadi labirin yang menguras tenaga dan harapan.
Karena itu, kita perlu bersikap jujur. Kota bukan tempat ajaib yang otomatis mengubah nasib. Sukses juga tidak selalu berarti harus pergi jauh.
Kadang, pilihan paling berani justru datang dari mereka yang memilih tinggal dan membangun dari tempat yang sering diremehkan.
Sekarang, pertanyaannya sederhana kita sedang mengejar peluang, atau sekadar mengejar pengakuan?
Lalu, kamu di kubu mana? @dimas



