Koperasi Merah Putih membawa investasi Rp240 triliun. Namun, modal besar saja tidak cukup tanpa tata kelola, kepercayaan, dan SDM yang kuat.
Tabooo.id – Setiap 12 Juli, Indonesia memperingati Hari Koperasi. Pemerintah memasang spanduk, para pejabat menyampaikan pidato, dan optimisme kembali menggema. Tahun ini, pemerintah membawa proyek raksasa bernama Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dengan target membangun 80.000 koperasi dan investasi yang diproyeksikan mencapai sekitar Rp240 triliun dalam enam tahun.
Namun, di balik angka yang mengesankan itu, muncul pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar menghitung jumlah koperasi yang berdiri.
Apakah kita benar-benar sedang membangun koperasi, atau hanya membangun proyek berskala besar?
Alih-alih merayakan, banyak masyarakat justru mempertanyakan arah kebijakan tersebut. Pelatihan dasar militer bagi pengelola, konsep gerai yang dianggap belum realistis, hingga keraguan terhadap model bisnis memunculkan perdebatan di ruang publik. Persoalannya bukan lagi besarnya anggaran, melainkan ketepatan arah pembangunan.
Sejarah koperasi di Indonesia berulang kali memberi pelajaran yang sama. Koperasi tidak runtuh karena kekurangan papan nama atau gedung. Sebaliknya, organisasi itu kehilangan daya hidup ketika para pengelolanya gagal membangun tata kelola yang sehat dan dipercaya anggotanya.
Koperasi Selalu Berawal dari Manusia
Selama bertahun-tahun, pembahasan tentang koperasi hampir selalu berputar pada modal, bantuan pemerintah, atau jumlah anggota. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa akar persoalannya berada di tempat lain.
Diskusi kelompok terfokus pada 2023 menemukan bahwa kualitas pengelola menjadi masalah utama koperasi. Banyak pengurus menjalankan koperasi secara paruh waktu. Mereka juga menghadapi lemahnya tata kelola, rendahnya disiplin organisasi, serta keterbatasan kemampuan mengelola keuangan, membaca pasar, dan menciptakan inovasi.
Modal memang penting.
Namun, kapasitas manusia jauh lebih menentukan.
Tanpa pengelola yang kompeten, modal justru berubah menjadi beban yang memperbesar risiko kegagalan.
Gedung dapat selesai dalam beberapa bulan.
Sebaliknya, kepercayaan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh.
Rp240 Triliun Tidak Otomatis Melahirkan Kepercayaan
Pemerintah tampak yakin bahwa investasi besar akan menghasilkan dampak besar.
Namun, dunia usaha tidak bekerja berdasarkan optimisme semata.
Masyarakat hanya akan mempercayai koperasi ketika mereka benar-benar merasakan manfaatnya.
Dalam praktik bisnis, anggota bertahan karena koperasi mampu meningkatkan pendapatan, memperluas akses pasar, atau menekan biaya usaha. Jika organisasi itu gagal memberikan manfaat tersebut, koperasi hanya akan hidup di atas dokumen administrasi.
Penelitian Hariance dan tim (2026) mengingatkan bahwa petani dan pelaku usaha kecil bertindak secara rasional. Mereka bergabung jika keuntungan yang diperoleh lebih besar daripada biaya, tenaga, dan waktu yang harus mereka keluarkan.
Solidaritas memang penting.
Meski demikian, solidaritas tanpa manfaat ekonomi sulit bertahan dalam kehidupan sehari-hari.
Perubahan Selalu Berawal dari Masalah Nyata
Sejumlah koperasi mampu bertahan selama puluhan tahun karena mereka memulai langkah dari persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat.
Penelitian Silfia dan kolega (2020) menunjukkan bahwa sebuah koperasi kopi berhasil berkembang bukan karena memperoleh suntikan modal besar.
Para pendirinya lebih dulu memetakan persoalan petani.
Harga kopi rendah.
Petani bergantung pada tengkulak.
Kualitas panen belum mampu bersaing.
Melihat kondisi tersebut, sekelompok anak muda menawarkan cara baru mengelola usaha melalui koperasi. Mereka tidak datang membawa bantuan tunai. Sebaliknya, mereka menawarkan model bisnis yang lebih adil sekaligus lebih menguntungkan.
Langkah pertama mereka ialah membangun kepercayaan.
Setelah kepercayaan tumbuh, organisasi pun berkembang.
Urutan sederhana itu justru sering terlupakan.
Bahaya Merasa Sudah Memahami Segalanya
Banyak proyek pembangunan berskala besar menghadapi jebakan yang sama.
Semakin besar proyeknya, semakin besar pula keyakinan bahwa semua rencana sudah benar.
Padahal, Forsman (2021) menemukan tiga penyebab utama kegagalan organisasi baru. Banyak organisasi terlalu percaya pada ide sendiri, merasa sudah memahami pasar, dan menolak mengubah strategi ketika kenyataan tidak sesuai harapan.
Gejala tersebut juga sering muncul dalam berbagai kebijakan publik.
Perencanaan memang tampak rapi di atas kertas.
Program kemudian meluncur dalam skala besar dengan optimisme tinggi.
Sayangnya, evaluasi baru hadir ketika persoalan telanjur membesar.
Koperasi Tidak Hidup karena Gedung
Selama ini perhatian publik lebih banyak tertuju pada jumlah koperasi, jenis gerai, atau besarnya anggaran.
Padahal, gedung bukan jantung koperasi.
Manusialah yang menghidupkan koperasi.
Games dan tim (2024) menjelaskan bahwa banyak pelaku usaha kecil mengalami inertia, yaitu keengganan atau ketidakmampuan mengadopsi inovasi. Namun, pengusaha yang visioner justru mampu mengubah kondisi tersebut menjadi kekuatan baru.
Karena itu, pemerintah seharusnya lebih memprioritaskan pembangunan manusia daripada pembangunan fisik.
Koperasi membutuhkan wirausahawan sosial yang mampu membaca kebutuhan masyarakat, memetakan peluang pasar, membangun jejaring, dan memastikan setiap anggota memperoleh manfaat ekonomi yang nyata.
Ketika manfaat itu hadir, masyarakat akan bergabung secara sukarela.
Bukan karena mobilisasi.
Ketika Penelitian Berjalan di Belakang Kebijakan
Hari Koperasi seharusnya menjadi ruang evaluasi, bukan sekadar seremoni tahunan.
Sayangnya, banyak kebijakan publik justru melaju lebih cepat daripada proses belajar.
Banyak kebijakan lahir lebih dulu daripada proses pembelajaran yang memadai.
Penelitian sering hadir belakangan sebagai pelengkap.
Akibatnya, evaluasi baru dilakukan setelah persoalan membesar.
Pola seperti itu membuat negara berisiko mengulang kesalahan lama dalam skala yang jauh lebih besar.
Masalahnya bukan terletak pada niat.
Masalahnya terletak pada fondasi kebijakan yang belum cukup kuat.
Jalan Kita Memang Masih Panjang
Masa depan Koperasi Desa Merah Putih tidak bergantung pada jumlah koperasi yang berdiri.
Keberhasilannya bergantung pada satu hal yang jauh lebih mendasar.
Apakah masyarakat benar-benar merasakan manfaat koperasi dalam kehidupan mereka?
Gedung bukan ukuran utama keberhasilan koperasi.
Besarnya anggaran juga tidak otomatis menjamin keberhasilan.
Justru kepercayaan masyarakatlah yang membuat koperasi benar-benar hidup.
Pidato tidak akan melahirkan kepercayaan.
Seremoni pun tidak cukup untuk membuat masyarakat yakin.
Rasa percaya baru tumbuh ketika koperasi benar-benar memperbaiki kehidupan anggotanya dari hari ke hari.
Jalan menuju koperasi yang berdaya memang masih panjang.
Namun, pertanyaan yang jauh lebih penting bukanlah seberapa panjang jalan itu.
Pertanyaannya, apakah kita sedang melangkah ke arah yang benar? @dimas







