Tabooo.id: Kriminal – Senin malam di Gresik. Lampu Indomaret Dusun Serembi menyala terang, tapi suasananya mendadak mencekam.
Seorang pria berkaus hitam tiba-tiba meraih uang tunai di meja kasir Rp3 juta yang bukan miliknya.
Teriakan dua karyawan perempuan memecah udara. Dalam hitungan detik, warga berlari, menangkap, dan hampir menghakimi pria itu.
Untung, polisi datang cepat. Malam itu, bukan hanya uang yang diselamatkan tapi juga satu nyawa.
Pelaku bernama Muhammad Ardian Kurniawan (34), warga Bantul, DIY.
Ia mengaku datang ke Gresik untuk mencari kerja tapi pulang dengan tangan diborgol.
Kasus ini bukan sekadar pencurian receh di toko waralaba. Ini potret lain dari keputusasaan ekonomi yang sering tak terlihat orang yang kepepet, kalah dari tekanan hidup, lalu mengambil jalan paling cepat, paling salah.
Rp3 juta bagi sebagian orang mungkin seharga makan malam keluarga di restoran.
Tapi bagi sebagian lain, angka itu bisa berarti sebulan bertahan hidup.
Kita terlalu sering menertawakan pelaku kecil, sementara lupa bertanya: kenapa banyak orang merasa jalan keluar mereka hanya ada di meja kasir?
Tabooo tidak membenarkan pencurian. Tapi mari jujur: sistem sosial kita sering kali hanya cepat menghukum, lambat memahami.
Pelaku ditangkap, diborgol, dijerat Pasal 362 KUHP ancaman lima tahun penjara. Sementara di luar sana, pencuri yang lebih halus menjarah dengan dasi, bukan dengan tangan.
Kita hidup di negeri yang keras terhadap yang lemah, tapi lembut pada yang berkuasa.
Seseorang mencuri karena lapar dipermalukan di depan kamera, sementara koruptor tersenyum saat konferensi pers.
Ironi yang kita telan setiap hari bersama berita pagi.
Malam itu, polisi menyelamatkan pelaku dari amuk massa dan mungkin dari dirinya sendiri.
Rp3 juta kembali ke laci kasir. Tapi luka sosial tetap tertinggal bahwa di tengah banyaknya toko yang buka 24 jam, masih ada orang yang tak tahu harus ke mana saat lapar datang.
Mungkin bukan uang yang ia curi tapi perhatian kita yang hilang lebih dulu. @teguh




