Senin, Agustus 24, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Komodo dan Otonomi yang Pincang: Siapa Sebenarnya Untung?

by teguh
April 25, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on Facebook
Share on Twitter
Taman Nasional Komodo terus menghasilkan uang untuk negara. Wisatawan datang, devisa masuk, PNBP menembus Rp100 miliar. Tapi di balik angka itu, Manggarai Barat justru bertanya satu hal sederhana daerah dapat apa? Di Labuan Bajo, tarik-ulur lama kembali muncul. Siapa yang berhak menentukan nasib kawasan strategis pusat saja, atau daerah yang menanggung dampaknya setiap hari?.

Tabooo.id: Nasional – Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi meminta rencana kajian ulang kuota pengunjung Taman Nasional Komodo tidak diputuskan sepihak. Ia menegaskan kebijakan sebesar itu harus melibatkan semua pihak, terutama pemerintah daerah. Pernyataan itu disampaikan saat kunjungan Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto bersama anggota dewan dan Wakil Kementerian Kehutanan Rohmat Marzuki di Labuan Bajo, Jumat (24/04/2026) hingga Sabtu (25/04/2026).

“Mesti ada rapat bersama karena kalau hanya Kementerian Kehutanan, tidak akan menyelesaikan persoalan,” kata Endi.

Menurutnya, pengaturan kuota bukan sekadar soal konservasi. Di dalamnya ada urusan transportasi, ekonomi warga, pariwisata, pelabuhan, hingga ekosistem laut. Karena itu, ia meminta keterlibatan lintas kementerian.

“Kementerian Kehutanan menetapkan terkait kuota, tapi ingat pintu masuknya tetap di Kementerian Perhubungan,” ujarnya.

Otonomi Daerah yang Sering Berhenti di Pintu Gerbang

Masalahnya bukan hanya jumlah wisatawan. Ini soal pola lama pusat mengambil keputusan, daerah menerima akibat.

Ini Belum Selesai

Bukan Cuma Soal Motor, Ketika Komunitas Jadi Tempat Mencari Arah

Desa Adat Sade Terbakar, Ratusan Rumah Sasak Ludes dalam Semalam

Guru Besar Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada Prof. Dr. Agus Pramusinto pernah menegaskan bahwa desentralisasi akan kehilangan makna bila daerah hanya menjadi pelaksana teknis tanpa ruang menentukan kebijakan strategis (Seminar Nasional Tata Kelola Daerah, Yogyakarta, 12/08/2024).

“Otonomi daerah bukan hadiah administratif. Ia adalah hak mengelola kepentingan lokal secara rasional,” ujarnya. Kalimat itu terasa relevan di Komodo hari ini.

Manggarai Barat menghadapi lonjakan wisatawan, tekanan sampah, kemacetan kawasan, kebutuhan air bersih, hingga beban infrastruktur. Namun saat keputusan kuota dibahas, suara daerah justru kerap datang belakangan.

Rp100 Miliar Masuk Negara, Daerah Nol?

Dalam kesempatan yang sama, Endi menyoroti pembagian pendapatan dari kunjungan wisata Komodo. Menurutnya, penerimaan negara bukan pajak dari kawasan itu telah melampaui Rp100 miliar tahun lalu.

Namun daerah, kata dia, belum merasakan pembagian langsung.

“Kita tidak dapat apa-apa, bu. Nol bahkan buntung,” kata Endi.

Kalimat itu tajam karena sederhana. Negara menikmati pemasukan. Daerah menanggung beban pelayanan.

Ekonom pariwisata Universitas Indonesia Dr. Fithra Faisal Hastiadi dalam diskusi ekonomi kawasan, Jakarta (17/11/2025), menyebut destinasi premium hanya sehat jika nilai ekonomi mengalir ke masyarakat sekitar.

“Kalau uang berputar di pusat saja, daerah akan menjadi panggung tanpa pemain utama,” ujarnya.

Usul Destinasi Alternatif

Endi juga meminta Pemkab Manggarai Barat dilibatkan agar bisa menyiapkan titik wisata baru di luar kawasan inti Komodo. Tujuannya agar kunjungan tidak menumpuk di satu lokasi.

“Spot-spot yang belum dikelola karena keterbatasan sarana itu masih sangat banyak dan lebih indah dari yang ada ini,” katanya.

Artinya jelas daerah tidak hanya menuntut jatah. Daerah menawarkan solusi.

DPR Janji Bahas

Menanggapi keluhan itu, Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto menyatakan akan membahas persoalan tersebut dengan pemerintah pusat.

“Karena ini daerah pariwisata yang penting. Turisnya bisa banyak, devisa negaranya lebih banyak masuk. Pemerintah daerah harus kebagian,” ujarnya, Sabtu (25/04/2026).

Komodo Bukan Sekadar Soal Kadal Purba

Isu ini bukan cuma tentang satwa langka atau tiket wisata. Ini cermin hubungan pusat dan daerah di Indonesia.

Saat daerah diminta menjaga alam, merawat warga, dan menyambut wisatawan, logikanya daerah juga harus ikut menentukan arah kebijakan.

Kalau tidak, otonomi tinggal slogan. Dan Komodo hanya jadi etalase mahal yang keuntungannya pergi ke tempat lain. @teguh

Tags: DestinasiEkonomKebijakan PublikKementerian KehutananKomisi IV DPR RIKomodoLabuan BajoNegaraPariwisataPNBPSolusiTaman Nasional Komodo

Kamu Melewatkan Ini

Pawai Pembangunan Solo Digelar, Lingkungan Jadi Pesan Utama

Pawai Pembangunan Solo Digelar, Lingkungan Jadi Pesan Utama

by eko
Agustus 21, 2026

45 peserta meriahkan Pawai Pembangunan Solo 2026 dari Perempatan Gendengan menuju depan Bank Indonesia Solo dengan tema Sayangi Semesta, Hidup...

Karhutla Kalimantan Berulang: Kenapa Selalu Datang Setelah Api Membesar?

Karhutla Kalimantan Berulang: Kenapa Selalu Datang Setelah Api Membesar?

by teguh
Agustus 21, 2026

Musim kering belum selesai, tetapi asap kembali menjadi cerita Karhutla Kalimantan. Per 19/08/2026, data BNPB yang disampaikan Wakil Ketua Komisi...

Dian 19 Tahun: Prestasi Akademik IP 4.0 Tak Menjamin Kuliah Aman

Dian 19 Tahun: Prestasi Akademik IP 4.0 Tak Menjamin Kuliah Aman

by teguh
Agustus 16, 2026

Prestasi akademik IP 4.0 tak menjamin kuliah aman. Biaya kuliah tetap menjadi tembok bagi mahasiswa dari keluarga rentan. Ada mahasiswa...

Next Post
Raja Mogok: Bangsawan yang Mematikan Kekuasaan dengan Diamnya Buruh Jawa

Raja Mogok: Bangsawan yang Mematikan Kekuasaan dengan Diamnya Buruh Jawa

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id