KM Virgo 8 masih berada di Laut Jawa setelah terbalik. Pemilik menargetkan pengangkatan pada Oktober, sementara proses tender kontraktor salvage masih berlangsung.
Tabooo.id – Target pengangkatan bangkai KM Virgo Transport 8 jatuh pada Oktober 2026. Namun, proses tender asuransi masih menentukan siapa yang akan menjalankan operasi salvage.
Laut Jawa belum benar-benar menutup cerita KM Virgo Transport 8.
Di bawah permukaan laut, bangkai kapal itu masih menjadi bagian dari pencarian dan penanganan korban. Di daratan, pekerjaan berikutnya bergerak melalui proses tender perusahaan asuransi.
Juru Bicara Owner KM Virgo Transport 8, Simson Fransiscus Riki, menargetkan pengangkatan bangkai kapal pada Oktober 2026.
Target itu semakin dekat. Namun, Simson belum berani memastikan waktunya.
“Insya Allah (bulan ini terangkat). Kami tak bisa memastikan,” ujar Simson, dikutip dari TribunBanjarmasin, Kamis (1/10/2026).
Pernyataan tersebut menunjukkan persoalan setelah kapal ditemukan. Tim tidak bisa langsung menarik bangkai kapal dari laut. Mereka harus menentukan kontraktor, metode kerja, peralatan, serta risiko operasi.
Semua tahapan itu menentukan kapan KM Virgo benar-benar dapat keluar dari Laut Jawa.
Dari hilang kontak menuju dasar Laut Jawa
KM Virgo Transport 8 kehilangan kontak pada Minggu, 13 September 2026 sekitar pukul 02.00 Wita.
Saat itu, kapal tengah berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin.
Komunikasi kemudian terputus. Tim pencarian bergerak hingga akhirnya menemukan KM Virgo dalam kondisi terbalik di Laut Jawa.
Penemuan kapal tidak langsung mengakhiri persoalan.
Tim masih harus menangani korban. Pada saat yang sama, pemilik kapal menghadapi pekerjaan besar untuk mengangkat bangkai kapal dari dasar laut.
Tahap kedua inilah yang membutuhkan operasi salvage.
Pengangkatan kapal membutuhkan perhitungan teknis. Posisi bangkai, kondisi struktur, kedalaman laut, cuaca, arus, hingga peralatan akan menentukan metode yang dapat digunakan.
Karena itu, pemilik kapal tidak bisa memilih perusahaan hanya berdasarkan kecepatan kerja.
Kemampuan teknis juga menjadi pertimbangan utama.
Dua vendor mulai mengerucut
Simson menjelaskan bahwa proses salvage masuk dalam pertanggungan asuransi perusahaan.
Karena itu, pihak asuransi menjalankan proses pemilihan perusahaan yang akan menangani pengangkatan KM Virgo.
Tender sudah berjalan.
Beberapa perusahaan mengikuti pembahasan. Dari proses tersebut, kandidat pelaksana kini mengerucut menjadi dua vendor.
Namun, pihak terkait belum menetapkan kontraktor secara resmi.
“Sejauh ini vendor sudah mengerucut, saya belum bisa menyebutkan perusahaannya, karena masih dalam proses. Tapi yang saya konfirmasi hari ini sudah ada dua nama,” kata Simson.
Perusahaan lokal maupun internasional memiliki peluang mengikuti proses tersebut.
Jika perusahaan asing terpilih, mereka harus bekerja bersama mitra lokal di Indonesia.
Proses itu membuat pengangkatan KM Virgo melibatkan banyak kepentingan. Asuransi, kontraktor, pemilik kapal, regulator, dan pihak terkait lain harus menyelaraskan langkah sebelum operasi berjalan.
Mengangkat kapal bukan pekerjaan sederhana
Bangkai kapal yang terbalik tidak bisa begitu saja ditarik ke permukaan.
Tim salvage harus memahami kondisi struktur kapal terlebih dahulu. Mereka juga perlu menentukan peralatan dan metode yang sesuai.
Simson menyebut pengalaman, kemampuan teknis, peralatan, serta metode kerja menjadi bagian dari pertimbangan pemilihan kontraktor.
Risikonya tidak berhenti pada kegagalan operasi.
Struktur kapal dapat mengalami kerusakan ketika tim mengangkatnya. Kondisi tersebut bahkan berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan.
“Tidak bisa sembarangan mengangkat ini, ada risiko kapal bisa patah dan menyebabkan polusi pada laut,” ujar Simson.
Peringatan itu menunjukkan bahwa operasi salvage memiliki dua tuntutan sekaligus.
Tim harus bekerja cepat. Namun, mereka juga harus memastikan proses tersebut tidak menimbulkan masalah baru.
Kecepatan saja tidak cukup.
Kontraktor harus mampu mengangkat bangkai kapal dengan metode yang sesuai kondisi di bawah laut.
Owner meminta proses bergerak lebih cepat
Waktu terus berjalan, sementara kontraktor belum ditetapkan.
Owner KM Virgo kemudian mengirim surat kepada perusahaan asuransi untuk mendorong percepatan proses penunjukan kontraktor.
Simson mengatakan pihaknya juga terus berkomunikasi dengan sejumlah pemangku kepentingan.
“Kami bahkan sudah mengajukan surat kepada pihak insurance, pertama kali adalah menunjuk, kemudian ada tahapan lagi, tahapan itu yang kami minta dipercepat. Ini juga sudah banyak menguras waktu dan tenaga,” katanya.
Dorongan tersebut tetap harus berhadapan dengan kebutuhan teknis.
Kontraktor perlu memeriksa kondisi bangkai kapal sebelum menentukan metode kerja. Pihak asuransi juga harus menilai risiko dan memastikan pelaksanaan operasi sesuai pertanggungan.
Kondisi laut turut menentukan.
Cuaca, arus, kedalaman, jarak pandang di bawah air, serta kondisi struktur kapal dapat mengubah rencana operasi.
Karena itu, proses yang lebih cepat tidak selalu berarti proses yang lebih sederhana.
Oktober menjadi target, bukan kepastian
Oktober kini menjadi bulan yang ditunggu.
Namun, target waktu tidak sama dengan jadwal pasti.
Jika proses penunjukan kontraktor berjalan cepat, operasi dapat segera memasuki tahap pelaksanaan. Sebaliknya, kebutuhan kajian teknis atau kendala lain dapat membuat jadwal kembali berubah.
Simson sendiri tidak memberikan kepastian bahwa bangkai KM Virgo pasti terangkat pada Oktober.
Ia hanya menyampaikan target dan harapan.
Perbedaan itu penting.
Operasi salvage membutuhkan keputusan yang tepat karena satu kesalahan dapat memperbesar risiko. Pemilik kapal dan kontraktor harus memperhitungkan kondisi bangkai sebelum menentukan langkah.
Cerita KM Virgo belum selesai
Kecelakaan KM Virgo menunjukkan bahwa penemuan kapal bukan akhir dari sebuah musibah.
Keluarga korban masih menunggu kepastian. Pemilik kapal masih menghadapi tanggung jawab penanganan. Perusahaan asuransi masih harus menyelesaikan proses pemilihan kontraktor.
Di tengah semua itu, Laut Jawa juga menghadapi risiko.
Bangkai kapal dapat menimbulkan persoalan baru jika proses pengangkatan tidak berjalan dengan tepat. Karena itu, operasi salvage tidak hanya menyangkut pemindahan kapal.
Ada keselamatan, tanggung jawab, waktu, dan lingkungan yang harus diperhitungkan bersamaan.
Owner menyatakan akan terus menjalankan tanggung jawab sampai penanganan KM Virgo selesai.
Kini perhatian mengarah pada Oktober.
Apakah bulan itu benar-benar menjadi titik ketika KM Virgo akhirnya keluar dari Laut Jawa?
Jawabannya masih bergantung pada satu rangkaian keputusan: siapa kontraktornya, metode apa yang mereka gunakan, dan seberapa siap mereka menghadapi risiko di bawah permukaan laut. @dimas








