Tabooo.id: Life – Hujan deras di Sumatera telah meninggalkan jejak lumpur, rumah-rumah terendam, dan wajah-wajah yang pucat karena kehilangan. Tapi di seberang pulau, di dataran tinggi Papua Pegunungan, seorang bocah SD duduk di lantai kamar dengan celengan Doraemon di tangan. Pison Kogoya, 10 tahun, menatap tumpukan koin dan lembaran rupiah yang telah ia kumpulkan selama setahun, seakan menimbang bukan sekadar uang, tapi pilihan hidupnya.
Ia seharusnya bersiap berlibur ke Jayapura, membayangkan mandi di pantai, minum air kelapa, dan mengitari Danau Sentani. Namun layar ponsel gurunya menampilkan berita banjir bandang di Sumatera, dan sesuatu dalam hatinya berubah. Dengan tangan gemetar, ia membuka celengannya, menghitung satu per satu uangnya, lalu menarik napas panjang. Sisa mimpi liburan itu perlahan-lahan ia tukar menjadi kepedulian.
“Jadi disumbangkan?” tanya gurunya dalam video berdurasi kurang dari dua menit yang diunggah akun Instagram @merawatpapua. Pison mengangguk, menatap kamera dengan mata serius tapi hangat. “Sumbangan untuk Sumatera yang banjir, dan tidak jadi ke Jayapura.” Satu kalimat sederhana, tapi lebih berat dari celengan yang ia pegang di pangkuannya.
Tabungan yang Menjadi Solidaritas
Rp 1.653.000. Angka itu terlihat sederhana, tapi bagi Pison, itu representasi impian, kesenangan, dan waktu yang ia habiskan mengumpulkan koin demi koin. Dari jumlah itu, Rp 163.000 ia simpan untuk membeli kalung anjingnya. Sisanya, Rp 1.500.000, ia kirimkan melalui Kitabisa.com untuk membantu korban banjir bandang di Sumatera. Tidak ada pamer, tidak ada sorak-sorai hanya hati yang memutuskan untuk berbagi.
Di era ketika anak-anak sebaya sibuk dengan game online dan konten TikTok, Pison memilih memanifestasikan empati dengan cara paling konkret: uang yang telah dikumpulkan dengan susah payah. Solidaritasnya bukan retorika, bukan hashtag, tapi tindakan nyata yang menembus jarak ribuan kilometer. Papua dan Sumatera seakan disatukan oleh satu gerakan kecil dari seorang bocah.
Data resmi BNPB menyebut bencana banjir di beberapa daerah Sumatera pada akhir November 2025 telah menelan ratusan rumah terendam, ratusan orang mengungsi, dan anak-anak kehilangan sekolah sementara. Dalam konteks ini, Rp 1,5 juta Pison mungkin terlihat kecil bagi dunia, tapi besar bagi hati manusia dan lebih besar dari banyak orang dewasa yang menunggu “waktu yang tepat” untuk menolong.
Paradoks dan Dilema: Kecil Tapi Berarti
Ada paradoks yang tajam di sini. Seorang bocah yang hampir tidak pernah menjejak pantai memutuskan menunda kebahagiaannya demi orang yang mungkin tidak pernah ia kenal. Sementara banyak orang dewasa, dengan akses, sumber daya, dan pengalaman, masih menimbang-nimbang antara menolong atau menunggu “yang lebih penting”. Dunia seringkali absurd; yang kecil kadang lebih besar dari yang besar, yang muda kadang lebih bijak dari yang tua.
Pison menyalurkan sumbangannya melalui platform digital, Kitabisa.com, tapi hati yang bergerak adalah hal yang tidak bisa diukur oleh teknologi. Dalam video itu, ketika ia mengatakan, “Untuk teman-teman yang terdampak banjir di Sumatera, semangat ya, peluk jauh dari Papua,” kita melihat ekspresi kepedulian yang murni. Tidak ada basa-basi politik, tidak ada pencitraan. Hanya ketulusan yang menembus batas geografis.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: apakah kita, yang hidup dengan kemudahan, sudah belajar memedulikan sesama seperti seorang bocah SD di pegunungan Papua? Apakah empati masih bisa murni, atau selalu ternodai oleh kepentingan dan ego?
Tabooo: Ketajaman Refleksi dalam Keberanian Hati
Di sinilah Tabooo hadir, bukan untuk menyanjung atau menghakimi, tapi untuk menyorot kenyataan manusia dengan tajam dan empatik. Kisah Pison mengingatkan kita bahwa kemanusiaan bukan soal usia, status, atau harta, tapi soal keberanian menanggalkan ego dan memberi.
Bocah ini menaburkan kebaikan ketika dunia sedang sibuk menimbang untung-rugi. Ia menyalurkan empati tanpa perhitungan politis atau sosial. Ia menunjukkan bahwa kebaikan tidak harus monumental untuk menjadi monumental. Setiap koin yang ia lepaskan adalah bunyi denting kemanusiaan yang nyaring, lebih keras daripada banyak pidato besar tentang kepedulian yang tak pernah diterjemahkan menjadi tindakan.
Netizen pun menanggapi dengan hangat: “Mulia sekali kamu nak. Semoga Tuhan ganti dengan yang lebih. Amin,” tulis akun @riapiyek. “MasyaAllah deekkk. Sungguh kamu mempunyai hati yang lembut dan tulus,” imbuh @sarirahmadhani2022. Kata-kata ini seperti gema, membuktikan bahwa kepedulian, sekecil apa pun, bisa menular dan memberi inspirasi.
Celengan Doraemon, Pelajaran Hidup
Saat Pison memeluk celengannya yang kosong, ia mungkin tidak menyadari bahwa dunia sedang menatapnya. Kita, para “orang besar”, dapat belajar banyak dari satu tindakan sederhana. Bahwa berbagi tidak selalu harus dengan jumlah besar, tetapi dengan hati yang besar. Bahwa empati bisa melintasi jarak ribuan kilometer, dan ketulusan tidak mengenal usia.
Maka, pertanyaan yang tersisa bukan “berapa banyak yang bisa kita beri?”, tapi “seberapa besar hati kita untuk memberi saat kesempatan muncul?” Di dunia yang sering kali sinis dan individualistis, Pison Kogoya menantang kita untuk membuka celengan hati kita sendiri. Karena terkadang, yang kecil-lah yang mengajarkan kita arti terbesar dari kemanusiaan.
Dan di ujung kata, kita hanya bisa berharap: semoga lebih banyak Pison di luar sana, yang dengan tabungan, waktu, atau sekadar perhatian, menyalakan cahaya kecil yang cukup terang untuk menembus banjir lumpur keserakahan dan apatisme dunia. @dimas




