Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ketua Umum PSHT Melayat ke Keraton Surakarta: Antara Persaudaraan dan Doa

by dimas
November 3, 2025
in Reality
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: News – Solo tenggelam dalam kesunyian yang berbeda. Langit mendung, udara lembap, dan langkah-langkah pelan terdengar di halaman Keraton Kasunanan Surakarta. Ketua Umum Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Pusat Madiun, Kangmas Moerdjoko, datang bersama putranya. Bukan untuk upacara, bukan untuk seremoni mereka datang membawa doa, memberi penghormatan terakhir kepada Sri Susuhunan Pakubuwono XIII, pada Minggu (2/11/2025) malam.

Sekitar pukul delapan malam, suasana di kompleks keraton begitu hening. Tak ada musik, tak ada riuh kamera hanya aroma dupa yang menguar dan nyala lilin yang bergetar tertiup angin. Bangsal Parasdya, tempat jenazah Sinuhun disemayamkan, dipenuhi abdi dalem dan warga yang datang menundukkan kepala. Kangmas Moerdjoko berdiri di antara mereka, diam, menatap peti yang terbungkus kain putih. Kesedihan bukan hanya milik keluarga keraton, tapi juga seluruh mereka yang memahami arti ketulusan dalam menjaga budaya.

Sri Susuhunan Pakoe boewono XIII, yang akrab disapa Pakoe Boewono XIII, wafat di usia 77 tahun setelah dirawat akibat komplikasi penyakit. Dua dekade kepemimpinannya menandai masa penting dalam perjalanan Keraton Surakarta Hadiningrat masa ketika tradisi harus bersanding dengan dunia modern. Di tengah gempuran zaman, PB XIII tetap berdiri sebagai simbol keseimbangan: tegas dalam adat, lembut dalam tutur. Dari Sekaten, Grebeg, hingga Kirab Malam 1 Sura, ia hadir bukan sekadar pemimpin upacara, melainkan penjaga napas kebudayaan Jawa.

Rencananya, jenazah sang raja akan dimakamkan pada Rabu, 5 November 2025, di Kompleks Makam Raja-Raja Mataram, Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Hingga hari itu tiba, ribuan warga Solo dipersilakan datang ke keraton untuk memberikan penghormatan terakhir. Di setiap bunga yang diletakkan, di setiap doa yang dibisikkan, ada rasa kehilangan yang tak bisa ditulis oleh waktu.

Kedatangan Kangmas Moerdjoko ke keraton adalah lebih dari sekadar belasungkawa ini simbol lintas nilai dan rasa hormat antara dua pusat budaya padepokan dan istana. Di tengah dunia yang makin cepat dan dangkal, momen ini mengingatkan kita bahwa kebesaran bukan soal gelar, melainkan kesetiaan menjaga akar. Pakoe Boewono XIII bukan hanya raja adat, tapi penjaga identitas kolektif bangsa yang kian rapuh oleh arus modernitas. Saat budaya sering dianggap hanya tontonan, kepergian beliau memaksa kita bertanya, masihkah kita punya ruang untuk menghormati nilai-nilai yang membentuk siapa kita?

Ini Belum Selesai

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Malam itu, Solo tak sekadar berduka ia berkaca. Di balik dinding keraton, gema gamelan seolah berhenti, meninggalkan sunyi yang panjang. Dan di antara dupa dan doa, @dimas

Kamu Melewatkan Ini

VOC Runtuh karena Korupsi, Kenapa Indonesia Mengulang Pola yang Sama?

VOC Runtuh karena Korupsi, Kenapa Indonesia Mengulang Pola yang Sama?

by dimas
Mei 13, 2026

VOC runtuh karena korupsi besar, penggelapan uang, dan permainan elite kekuasaan. Dua abad berlalu, Indonesia masih menghadapi pola lama jabatan...

Kenapa Kucumbu Tubuh Indahku Membuat Banyak Orang Tidak Nyaman?

Kenapa Kucumbu Tubuh Indahku Membuat Banyak Orang Tidak Nyaman?

by eko
Mei 13, 2026

Kucumbu Tubuh Indahku bukan sekadar film yang memancing kontroversi. Film karya Garin Nugroho itu berubah menjadi simbol benturan besar antara...

Reformasi 1998: Luka yang Masih Menunggu Keadilan

Reformasi 1998: Luka yang Masih Menunggu Keadilan

by Naysa
Mei 13, 2026

Reformasi 1998 tidak hanya menjatuhkan rezim Orde Baru, tapi juga membuka janji besar tentang demokrasi, hukum, dan hak asasi manusia....

Next Post
Prabowo di APEC: AI Senjata Baru Indonesia Perangi Kemiskinan dan Krisis Pangan

Prabowo di APEC: AI Senjata Baru Indonesia Perangi Kemiskinan dan Krisis Pangan

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id