Istilah “kelinci percobaan” kerap digunakan dalam hoaks kesehatan untuk memicu ketakutan publik. Mengapa narasi ini efektif, dan bagaimana cara kerjanya di era media sosial?
Tabooo.id – Setiap kali muncul penelitian vaksin atau obat baru, istilah “kelinci percobaan” hampir selalu ikut beredar di media sosial. Dua kata itu memicu ketakutan, membangun kecurigaan, dan mendorong banyak orang meragukan proses ilmiah. Mengapa narasi ini terus berulang, dan bagaimana hoaks kesehatan memanfaatkan emosi publik untuk mengalahkan fakta?
Ketika Dua Kata Bisa Mengalahkan Ribuan Fakta
Tidak ada istilah yang lebih cepat memancing emosi publik selain “kelinci percobaan”.
Dua kata itu langsung membangkitkan rasa takut, curiga, dan marah. Begitu sebuah unggahan menampilkan istilah tersebut, banyak orang segera membayangkan manusia menjadi objek eksperimen tanpa hak dan tanpa perlindungan.
Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks.
Dalam beberapa tahun terakhir, narasi “kelinci percobaan” terus muncul setiap kali publik membahas vaksin, obat baru, atau penelitian kesehatan. Baru-baru ini, narasi itu kembali ramai setelah beredar klaim bahwa Indonesia menjadi “kelinci percobaan” dalam uji klinis vaksin tuberkulosis (TBC).
Narasi tersebut bukan sekadar informasi yang keliru. Pembuat hoaks sengaja memanfaatkannya sebagai senjata psikologis untuk menumbuhkan rasa takut.
Hoaks Tidak Menjual Kebohongan, Hoaks Menjual Ketakutan
Banyak orang mengira hoaks menang karena isinya terdengar meyakinkan.
Padahal, hoaks justru menang karena mampu memancing kemarahan atau ketakutan sebelum orang sempat berpikir kritis.
Media sosial ikut memperkuat pola itu. Algoritma lebih sering mendorong konten yang memicu emosi karena pengguna cenderung memberi komentar, membagikan, dan memperdebatkannya.
Akibatnya, narasi emosional sering mengalahkan informasi yang berbasis bukti.
Istilah “kelinci percobaan” menjadi contoh yang paling jelas. Kata-kata itu tidak menjelaskan proses ilmiah, tetapi langsung menggiring publik pada kesimpulan bahwa seseorang sedang mengorbankan manusia.
Mengubah “Uji Klinis” Menjadi “Eksperimen Manusia”
Hoaks modern tidak selalu memalsukan data.
Pelaku justru lebih sering memanipulasi pilihan kata.
Mereka mengganti istilah ilmiah seperti uji klinis dengan metafora “kelinci percobaan” agar publik langsung merasa takut. Pergeseran satu frasa saja mampu mengubah cara orang memandang sebuah penelitian.
Padahal, uji klinis merupakan tahapan penting dalam pengembangan obat dan vaksin.
Peneliti menjalankan proses itu secara bertahap. Mereka memulai penelitian di laboratorium, melanjutkannya ke pengujian praklinis, lalu memasuki beberapa fase uji klinis pada manusia. Setiap tahap harus memenuhi standar etik, mengikuti aturan internasional, dan memperoleh persetujuan sukarela dari peserta.
Karena itu, peserta penelitian bukan “kelinci percobaan” seperti yang sering digambarkan hoaks. Mereka berpartisipasi dalam proses ilmiah yang bertujuan memastikan keamanan dan efektivitas suatu produk kesehatan.
Algoritma Menyukai Konten yang Membuat Orang Marah
Media sosial tidak bekerja untuk mencari informasi yang paling benar.
Platform digital bekerja untuk mempertahankan perhatian pengguna.
Karena itu, algoritma lebih sering mengangkat konten yang memancing emosi dibanding penjelasan ilmiah yang penuh konteks.
Kata-kata seperti “racun”, “konspirasi”, “dipaksa”, “eksperimen manusia”, atau “kelinci percobaan” jauh lebih mudah viral.
Pembuat hoaks memahami pola tersebut. Mereka sengaja memilih diksi yang memicu ketakutan karena rasa takut mendorong orang membagikan informasi tanpa lebih dulu memeriksa kebenarannya.
Saat Krisis Kepercayaan Menjadi Lahan Subur Hoaks
Narasi “kelinci percobaan” mudah berkembang karena muncul di tengah krisis kepercayaan.
Sebagian masyarakat meragukan transparansi pemerintah, industri farmasi, maupun lembaga kesehatan internasional. Keraguan itu membuka ruang yang lebih besar bagi teori konspirasi.
Hoaks tidak membutuhkan bukti yang kuat.
Pembuatnya hanya perlu menyusun cerita yang terdengar masuk akal bagi orang yang sejak awal sudah menyimpan rasa curiga.
Dengan cara itu, hoaks tidak menciptakan ketidakpercayaan dari nol. Hoaks memanfaatkan rasa curiga yang sudah lebih dulu tumbuh di masyarakat.
Korban Pertama Hoaks Bukan Ilmu Pengetahuan, Melainkan Keputusan Publik
Dampak hoaks kesehatan tidak berhenti di media sosial.
Sebagian orang menolak vaksin.
Sebagian lainnya menunda pengobatan.
Ada pula yang mulai meragukan tenaga kesehatan dan hasil penelitian ilmiah.
Dalam kasus penyakit menular seperti TBC, keputusan-keputusan tersebut dapat memperlambat pengendalian penyakit dan meningkatkan risiko penularan.
Hoaks bukan hanya mengubah opini. Hoaks juga memengaruhi cara masyarakat mengambil keputusan yang berkaitan langsung dengan keselamatan diri sendiri dan orang lain.
Ketika Ketakutan Menjadi Komoditas, Kebenaran Selalu Datang Terlambat
Hoaks kesehatan tidak lagi bergantung pada kebohongan besar.
Pelakunya cukup memilih kata yang tepat untuk membangkitkan rasa takut.
Istilah “kelinci percobaan” bukan lagi sekadar metafora. Hoaks telah mengubahnya menjadi alat propaganda yang mampu menggeser percakapan dari fakta menuju kepanikan.
Inilah wajah baru disinformasi. Pelaku tidak selalu memalsukan data, tetapi mereka membelokkan makna agar publik menarik kesimpulan yang keliru.
Di era digital, tantangan terbesar bukan lagi mencari informasi.
Tantangan sesungguhnya adalah menjaga nalar ketika emosi mengambil alih.
Sebab, ketika masyarakat lebih mempercayai ketakutan daripada bukti, yang kalah bukan hanya kebenaran. Ilmu pengetahuan kehilangan kepercayaan, keputusan publik kehilangan pijakan, dan kesehatan bersama ikut menanggung akibatnya.@eko





