Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ketika Kamera Tak Lagi Dipegang: Apakah Fotografi Masih Butuh Manusia?

by dimas
Mei 8, 2026
in Reality, Teknologi
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Teknologi – Pernah nggak sih kamu lihat foto di media sosial yang saking sempurnanya sampai kamu mikir, “Ini beneran difoto, atau hasil AI?” Ya, itu bukan cuma kamu. Dunia fotografi lagi geger karena sesuatu yang bahkan nggak bisa difoto: kecerdasan buatan.

Sekarang, siapa pun bisa bikin foto “keren” tanpa kamera, tanpa lighting mahal, bahkan tanpa keluar rumah. Cukup ketik, “cewek pakai jaket kulit berdiri di bawah hujan neon Tokyo,” dan boom! lahirlah karya visual seolah diambil fotografer profesional. Dalam hitungan detik, AI seperti Midjourney, Firefly, atau DALL·E bisa menghasilkan gambar yang bikin fotografer sungguhan ngerasa… agak tersinggung.

Ketika Mesin Jadi Fotografer Baru

Fenomena ini jadi bahasan seru di episode terbaru podcast Antarmuka KompasTekno, bareng Hesti Hidayat, fotografer dan founder komunitas CPMotobareng. Hesti ngomong jujur AI memang keren, tapi juga bikin resah.

“AI bisa belajar dari ribuan gaya visual, meniru tone, komposisi, bahkan emosi dalam foto manusia,” ujar Hesti. “Masalahnya, apa yang tersisa buat fotografer kalau mesin bisa meniru semuanya?”

Pertanyaan itu jadi momok bagi banyak pelaku kreatif. Menurut riset Adobe Creative Trends 2025, lebih dari 62% pekerja kreatif global udah pakai AI dalam proses kerja mereka mulai dari retouching, color grading, sampai komposisi. Tapi di sisi lain, 48% fotografer profesional justru takut kehilangan identitas visual mereka karena AI bisa memproduksi gambar serupa dengan gaya mereka.

Ini Belum Selesai

DPR Sahkan RUU Polri, Pengawasan dan Netralitas Jadi Taruhan

Chatib Basri Dipanggil ke Istana, Apakah Purbaya Akan Diganti?

Dari Asisten Kreatif ke Kompetitor

Kalau dulu AI cuma dianggap “asisten pintar” bantu edit, bersihin noise, atau atur pencahayaan otomatis sekarang AI justru naik jabatan jadi kompetitor.

Bayangin, kamu baru aja begadang dua malam buat motret sunrise di pantai, tapi seseorang bisa bikin “foto” yang mirip (bahkan lebih dramatis) hanya dengan mengetik prompt tiga kalimat. Rasanya kayak udah latihan maraton berbulan-bulan, tapi yang menang malah orang yang naik mobil listrik.

Tapi Hesti nggak mau pesimis. Dia percaya bahwa AI bukan akhir dari fotografi, melainkan babak evolusi baru.

“Fotografi itu bukan cuma tentang gambar. Itu tentang cara kita melihat dunia, menangkap momen, dan menyampaikan rasa. AI nggak punya pengalaman itu,” tambahnya.

Dan mungkin dia benar. Mesin bisa meniru visual, tapi belum tentu bisa meniru intuisi insting manusia saat menekan shutter di detik yang tepat.

Kenapa Kita Begitu Tergoda dengan Gambar Sempurna?

Sebetulnya, kenapa sih kita begitu terpesona dengan hasil foto AI? Karena manusia memang suka perfection illusion. Kita pengin visual yang “ideal”, tanpa noise, tanpa blur, tanpa cacat. AI tahu itu, dan dia kasih semua dalam satu klik.

Masalahnya, dunia nyata nggak sesempurna itu. Fotografi sejatinya lahir dari ketidaksempurnaan dari goyangan tangan, dari cahaya yang salah arah, dari ekspresi spontan yang nggak bisa diulang. Itulah yang bikin foto manusia terasa hidup.

Ketika AI masuk, kita mulai kehilangan lapisan “realitas” itu. Gambar jadi indah tapi steril. Emosional tapi kosong. Seolah momen itu pernah ada, padahal cuma ilusi algoritma.

Jadi, Fotografi Akan Mati?

Mungkin nggak. Tapi definisinya akan berubah. Fotografi bukan lagi sekadar hasil visual, melainkan soal siapa yang di baliknya. Ketika siapa pun bisa membuat gambar dengan AI, maka nilai seni justru akan kembali ke identitas dan kejujuran manusia di balik prosesnya.

Hesti menutup podcast itu dengan kalimat yang cukup menampar,

“AI bisa bikin foto, tapi nggak bisa jatuh cinta pada momen.”

Dan mungkin itu yang jadi pembeda. Kamera hanyalah alat, AI hanyalah teknologi tapi rasa, kepekaan, dan pengalaman manusia tetap jadi inti dari setiap gambar yang berarti.

Apa Dampaknya Buat Kamu?

Kalau kamu suka dunia kreatif, kamu nggak harus takut pada AI tapi juga nggak bisa menutup mata. Dunia digital berubah cepat. Mereka yang bertahan bukan yang paling berbakat, tapi yang paling adaptif.

Kamu bisa marah karena AI “mengambil pekerjaan”, atau kamu bisa menjadikannya alat untuk memperluas imajinasi. Gunakan AI untuk bantu ide, bukan ganti rasa. Karena pada akhirnya, yang membedakan manusia dan mesin bukan pada hasil tapi pada cerita yang kita ciptakan dari setiap klik, setiap cahaya, dan setiap detik yang nggak bisa diulang. @dimas

Tags: Gaya Hidup

Kamu Melewatkan Ini

Vape Rasa Buah Terasa Manis, Tapi Kenapa Ribuan Gen Tubuh Ikut Berubah?

Vape Rasa Buah Terasa Manis, Tapi Kenapa Ribuan Gen Tubuh Ikut Berubah?

by teguh
Juni 7, 2026

Mangga, semangka, stroberi, hingga campuran buah tropis membuat vape semakin populer di kalangan anak muda. Banyak pengguna juga meyakini vape...

Fashion 2026: Ini Bukan Lagi Soal Gaya, Tapi Cara Kamu Bertahan

Fashion 2026: Ini Bukan Lagi Soal Gaya, Tapi Cara Kamu Bertahan

by Naysa
Mei 8, 2026

Dulu, fashion cuma soal terlihat keren. Sekarang, itu sudah tidak cukup. Tahun 2026 mengubah semuanya, baju bukan lagi sekadar gaya,...

Singkong Keju: Murah di Ladang, Mahal di Etalase, Berbahaya di Dapur

Singkong Keju: Murah di Ladang, Mahal di Etalase, Berbahaya di Dapur

by Anisa
Mei 2, 2026

Aroma gurih singkong keju terasa sederhana, tapi ceritanya tidak sesederhana itu. Harga melonjak, branding terlihat meyakinkan, namun dapur di baliknya...

Next Post
Bitcoin Jatuh Bebas ke Bawah 100.000 Dolar: Uang Digital, Panik Nyata

Bitcoin Jatuh Bebas ke Bawah 100.000 Dolar: Uang Digital, Panik Nyata

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id