Tabooo.id: Teknologi – Pernah nggak sih kamu lihat foto di media sosial yang saking sempurnanya sampai kamu mikir, “Ini beneran difoto, atau hasil AI?” Ya, itu bukan cuma kamu. Dunia fotografi lagi geger karena sesuatu yang bahkan nggak bisa difoto: kecerdasan buatan.
Sekarang, siapa pun bisa bikin foto “keren” tanpa kamera, tanpa lighting mahal, bahkan tanpa keluar rumah. Cukup ketik, “cewek pakai jaket kulit berdiri di bawah hujan neon Tokyo,” dan boom! lahirlah karya visual seolah diambil fotografer profesional. Dalam hitungan detik, AI seperti Midjourney, Firefly, atau DALL·E bisa menghasilkan gambar yang bikin fotografer sungguhan ngerasa… agak tersinggung.
Ketika Mesin Jadi Fotografer Baru
Fenomena ini jadi bahasan seru di episode terbaru podcast Antarmuka KompasTekno, bareng Hesti Hidayat, fotografer dan founder komunitas CPMotobareng. Hesti ngomong jujur AI memang keren, tapi juga bikin resah.
“AI bisa belajar dari ribuan gaya visual, meniru tone, komposisi, bahkan emosi dalam foto manusia,” ujar Hesti. “Masalahnya, apa yang tersisa buat fotografer kalau mesin bisa meniru semuanya?”
Pertanyaan itu jadi momok bagi banyak pelaku kreatif. Menurut riset Adobe Creative Trends 2025, lebih dari 62% pekerja kreatif global udah pakai AI dalam proses kerja mereka mulai dari retouching, color grading, sampai komposisi. Tapi di sisi lain, 48% fotografer profesional justru takut kehilangan identitas visual mereka karena AI bisa memproduksi gambar serupa dengan gaya mereka.
Dari Asisten Kreatif ke Kompetitor
Kalau dulu AI cuma dianggap “asisten pintar” bantu edit, bersihin noise, atau atur pencahayaan otomatis sekarang AI justru naik jabatan jadi kompetitor.
Bayangin, kamu baru aja begadang dua malam buat motret sunrise di pantai, tapi seseorang bisa bikin “foto” yang mirip (bahkan lebih dramatis) hanya dengan mengetik prompt tiga kalimat. Rasanya kayak udah latihan maraton berbulan-bulan, tapi yang menang malah orang yang naik mobil listrik.
Tapi Hesti nggak mau pesimis. Dia percaya bahwa AI bukan akhir dari fotografi, melainkan babak evolusi baru.
“Fotografi itu bukan cuma tentang gambar. Itu tentang cara kita melihat dunia, menangkap momen, dan menyampaikan rasa. AI nggak punya pengalaman itu,” tambahnya.
Dan mungkin dia benar. Mesin bisa meniru visual, tapi belum tentu bisa meniru intuisi insting manusia saat menekan shutter di detik yang tepat.
Kenapa Kita Begitu Tergoda dengan Gambar Sempurna?
Sebetulnya, kenapa sih kita begitu terpesona dengan hasil foto AI? Karena manusia memang suka perfection illusion. Kita pengin visual yang “ideal”, tanpa noise, tanpa blur, tanpa cacat. AI tahu itu, dan dia kasih semua dalam satu klik.
Masalahnya, dunia nyata nggak sesempurna itu. Fotografi sejatinya lahir dari ketidaksempurnaan dari goyangan tangan, dari cahaya yang salah arah, dari ekspresi spontan yang nggak bisa diulang. Itulah yang bikin foto manusia terasa hidup.
Ketika AI masuk, kita mulai kehilangan lapisan “realitas” itu. Gambar jadi indah tapi steril. Emosional tapi kosong. Seolah momen itu pernah ada, padahal cuma ilusi algoritma.
Jadi, Fotografi Akan Mati?
Mungkin nggak. Tapi definisinya akan berubah. Fotografi bukan lagi sekadar hasil visual, melainkan soal siapa yang di baliknya. Ketika siapa pun bisa membuat gambar dengan AI, maka nilai seni justru akan kembali ke identitas dan kejujuran manusia di balik prosesnya.
Hesti menutup podcast itu dengan kalimat yang cukup menampar,
“AI bisa bikin foto, tapi nggak bisa jatuh cinta pada momen.”
Dan mungkin itu yang jadi pembeda. Kamera hanyalah alat, AI hanyalah teknologi tapi rasa, kepekaan, dan pengalaman manusia tetap jadi inti dari setiap gambar yang berarti.
Apa Dampaknya Buat Kamu?
Kalau kamu suka dunia kreatif, kamu nggak harus takut pada AI tapi juga nggak bisa menutup mata. Dunia digital berubah cepat. Mereka yang bertahan bukan yang paling berbakat, tapi yang paling adaptif.
Kamu bisa marah karena AI “mengambil pekerjaan”, atau kamu bisa menjadikannya alat untuk memperluas imajinasi. Gunakan AI untuk bantu ide, bukan ganti rasa. Karena pada akhirnya, yang membedakan manusia dan mesin bukan pada hasil tapi pada cerita yang kita ciptakan dari setiap klik, setiap cahaya, dan setiap detik yang nggak bisa diulang. @dimas







