Rabu, Juli 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ketika Grup Chat Kampus Berubah Jadi Ruang Pelecehan

by dimas
April 15, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Kampus selama ini dipahami sebagai ruang intelektual, tempat lahirnya insan berpendidikan dan beradab. Namun, bagaimana jika ruang yang seharusnya menjunjung etika justru justru berubah menjadi tempat percakapan yang merendahkan martabat manusia?

Kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia kembali memunculkan pertanyaan yang lebih dalam dari sekadar viral di media sosial. Publik kini tidak hanya melihatnya sebagai tindakan individu, tetapi juga mulai menyoroti pola budaya yang dibiarkan tumbuh tanpa kontrol yang tegas.

Pelecehan Mahasiswa Kok Bisa?

Kasus ini mulai mencuat setelah tangkapan layar percakapan dari grup yang diduga berisi mahasiswa FH UI menyebar luas di platform X melalui akun @sampahfhui pada Minggu (12/04/2026).

Percakapan tersebut memicu kemarahan publik karena mengandung dugaan unsur pelecehan dan objektifikasi terhadap perempuan. Salah satu kalimat yang paling banyak mendapat sorotan berbunyi “diam berarti dikabulkan” atau “diam berarti consent”, yang publik nilai menormalkan kekerasan seksual secara verbal.

Permintaan Maaf atau Pengalihan?

Sehari sebelum kasus ini viral, para mahasiswa angkatan 2023 menyampaikan permintaan maaf di grup percakapan internal. Namun, publik menilai permintaan maaf itu belum memberikan penjelasan yang utuh terkait konteks maupun tanggung jawab moral.

Ini Belum Selesai

Indonesia Kaya, Mengapa Rakyat Belum Sejahtera?

Nasionalisme atau Kapitalisme Negara? Arah Baru Ekonomi Indonesia

Ketua BEM FH UI, Anandaku Dimas Rumi Chattaristo, menegaskan bahwa percakapan tersebut tidak bisa dianggap sebagai candaan biasa.

“Pesan-pesan itu merendahkan harkat martabat teman-teman di FH, dengan nuansa seksual,” ujarnya.

UI Turun Tangan: Kampus Mulai Mengambil Sikap

Universitas Indonesia merespons kasus ini dengan melibatkan Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS UI).

Direktur Humas UI, Erwin Agustian Panigoro, menegaskan bahwa kampus tidak akan menoleransi pelanggaran jika terbukti benar.

“Termasuk sanksi akademik hingga pemberhentian sebagai mahasiswa,” ujarnya.

Suara Korban Mulai Terungkap: Luka yang Sudah Berjalan Lama

Pendamping korban, kuasa hukum Timotius Rajagukguk, mengungkap bahwa dugaan kekerasan ini sudah berlangsung sejak 2025 dan terjadi secara berulang.

Korban mengaku terus berada dalam tekanan psikologis setiap kali berada di lingkungan kampus.

“Setiap kali masuk kelas, mereka tahu kapan pun pelaku bisa membicarakan mereka,” katanya.

Data yang beredar menyebutkan 27 korban terdampak, terdiri dari 20 mahasiswa dan 7 dosen.

Ini Bukan Sekadar Viral: Pola yang Lebih Dalam dari Kasus Individu

Kasus ini tidak berhenti sebagai isu viral. Peristiwa ini menunjukkan pola yang lebih luas di dalam ekosistem pendidikan.

Masalah tidak hanya muncul dari percakapan yang tidak pantas, tetapi juga dari budaya yang membiarkan candaan melampaui batas, relasi kuasa yang tidak setara, serta normalisasi objektifikasi di ruang akademik.

Pengamat pendidikan dari JPPI, Ubaid Matraji, menyebut kondisi ini sebagai alarm serius.

“Kekerasan di dunia pendidikan sudah bergeser dari kasus per kasus menjadi pola sistemik,” ujarnya.

Kampus yang Kehilangan Rasa Aman

Kasus ini tidak hanya berdampak pada institusi, tetapi juga langsung memengaruhi rasa aman mahasiswa dan tenaga pendidik.

Korban kekerasan seksual di lingkungan pendidikan sering memilih diam karena tekanan sosial, rasa takut, dan ketimpangan relasi kuasa yang mereka hadapi setiap hari.

Dalam kondisi seperti ini, ruang kelas tidak lagi mereka rasakan sebagai tempat belajar, tetapi berubah menjadi ruang kewaspadaan.

Kekerasan yang Tumbuh di Ruang Terbuka

Kasus ini memperlihatkan bahwa kekerasan tidak selalu muncul dalam bentuk fisik atau ruang tersembunyi. Kekerasan justru tumbuh di ruang yang tampak normal, termasuk grup percakapan, organisasi, hingga ruang kelas.

Masalah utama tidak hanya terletak pada individu pelaku, tetapi juga pada sistem yang belum mampu menarik batas tegas antara candaan, pelecehan verbal, dan kekerasan.

Ironisnya, publik sering baru memberi perhatian serius setelah kasus ini viral di media sosial.

Pendidikan yang Perlu Kita Pertanyakan Ulang

Jika ruang pendidikan tidak lagi mampu memberikan rasa aman bagi warganya, maka kita perlu mempertanyakan ulang arah pendidikan itu sendiri.

Kasus ini tidak hanya berbicara tentang satu peristiwa. Kasus ini memaksa kita bertanya lebih jauh sebenarnya pendidikan sedang membentuk manusia seperti apa? @dimas

Tags: Kekerasan SeksualPelecehan SeksualPendidikan IndonesiaRelasi KuasaSatgas PPKS

Kamu Melewatkan Ini

Kalau Polisi Harus Membangun Sekolah, Negara Sedang Sibuk Membangun Apa?

Kalau Polisi Harus Membangun Sekolah, Negara Sedang Sibuk Membangun Apa?

by teguh
Juli 17, 2026

Pagi di pelosok Sukabumi selalu datang dengan cara yang sederhana. Kabut turun perlahan, jalanan tanah mulai dipenuhi langkah anak-anak yang...

Kampus Tak Boleh Menjarah Hak Mahasiswa Miskin

Kampus Tak Boleh Menjarah Hak Mahasiswa Miskin

by dimas
Juli 16, 2026

Kampus tak boleh menjarah hak mahasiswa miskin. Dugaan penyimpangan KIP Kuliah menguji integritas pendidikan dan keadilan bagi generasi penerus bangsa....

Satu Pelaku Lagi Tertangkap, Tragedi Sampang Belum Berakhir

Satu Pelaku Lagi Tertangkap, Tragedi Sampang Belum Berakhir

by dimas
Juli 14, 2026

Satu pelaku lagi tertangkap dalam kasus pemerkosaan remaja di Sampang. Namun, 14 pelaku masih buron, sementara korban terus menjalani pemulihan...

Next Post
Jejak Kasus Maidi Terbuka: Saksi Bertambah, Aset Mulai Ditelusuri

Jejak Kasus Maidi Terbuka: Saksi Bertambah, Aset Mulai Ditelusuri

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id