Air bisa mengalir tanpa manusia mengadakan ritual. Namun, bagi masyarakat Jatinom, mata air bukan sekadar tempat mengambil kebutuhan hidup. Ada kepercayaan, tanggung jawab, dan ikatan sosial yang tumbuh di sekitarnya. Tradisi Kenduri Dawet di Umbul Kroman memperlihatkan bagaimana masyarakat merawat hubungan dengan alam melalui cara yang diwariskan leluhur.
Tabooo.id: Di tengah kehidupan yang semakin modern, masyarakat sering membutuhkan aturan untuk mengingatkan mereka agar menjaga lingkungan. Namun, jauh sebelum istilah konservasi menjadi bagian dari percakapan publik, sebagian masyarakat Jawa sudah mengenal cara lain untuk merawat alam: menjadikannya bagian dari kehidupan spiritual dan budaya.
Di Desa Mranggen, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, terdapat tradisi Dawetan yang memperlihatkan hubungan tersebut. Warga merawat mata air melalui kerja bakti, doa bersama, kirab budaya, hingga prosesi menuangkan dawet ke sumber air.
Tradisi yang berpusat di Umbul Kroman ini bukan sekadar perayaan kuliner atau pertunjukan budaya. Di balik dawet, kendi, dan iring-iringan warga, tersimpan cara masyarakat membangun hubungan dengan alam, leluhur, dan sesama manusia.
Jatinom dan Kehidupan yang Bertumpu pada Mata Air
Jatinom memiliki lanskap alam yang erat dengan keberadaan sumber air alami. Masyarakat setempat mengenal mata air dengan sebutan umbul atau sendang.
Keberadaan sumber air tersebut menopang kebutuhan sehari-hari, termasuk pengairan lahan pertanian. Karena itu, mata air memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat agraris.
Namun, hubungan masyarakat dengan air tidak berhenti pada kebutuhan ekonomi dan domestik. Dalam kebudayaan lokal, sumber air juga memiliki dimensi spiritual yang diwariskan antargenerasi.
Pandangan tersebut terlihat dalam berbagai tradisi masyarakat Jatinom. Salah satunya Saparan Yaa Qowiyyu, tradisi sebaran apem yang berkaitan dengan warisan dakwah Ki Ageng Gribig.
Selain itu, terdapat tradisi Plegung Sapi yang memadukan aktivitas memandikan ternak dengan konsumsi dawet.
Di antara berbagai ekspresi budaya tersebut, Dawetan memiliki karakter tersendiri. Tradisi ini menempatkan pelestarian mata air sebagai pusat kegiatan masyarakat.
Warga Desa Mranggen, khususnya kawasan Umbul Kroman, menjalankan tradisi tersebut sebagai bentuk syukur atas keberadaan sumber air sekaligus pengingat untuk merawat lingkungan.
Dari Bersih Sendang Menjadi Festival Budaya
Dawetan tidak muncul sebagai festival besar sejak awal. Akar tradisinya berasal dari praktik bersih sendang atau bersih umbul yang masyarakat wariskan secara turun-temurun.
Pada masa awal, warga melaksanakan kegiatan ini secara sederhana. Mereka berkumpul untuk membersihkan kawasan mata air dari sedimentasi tanah, dedaunan, dan berbagai kotoran.
Setelah kerja bakti selesai, warga biasanya duduk bersama di sekitar sendang sambil menikmati dawet.
Aktivitas sederhana tersebut memperlihatkan dua kepentingan yang berjalan beriringan. Masyarakat membersihkan sumber air sekaligus memperkuat hubungan sosial melalui kebersamaan.
Seiring perkembangan zaman, tradisi tersebut mengalami perubahan bentuk. Kegiatan yang sebelumnya berlangsung secara internal mulai berkembang menjadi festival budaya bertajuk Kirab Budaya Dawetan Umbul Kroman.
“Kalau tradisi ini sudah sangat lama, sejak nenek moyang kita. Baru dua tahun belakangan ini dikemas menjadi perayaan budaya yang lebih besar seperti sekarang.”
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa festival bukan sekadar upaya menarik perhatian pengunjung. Warga juga ingin menjadikan perayaan sebagai pengingat tentang tanggung jawab bersama terhadap sumber air.
Perubahan ini memperluas fungsi Dawetan yang tidak lagi hanya menjadi kegiatan warga setempat, tetapi juga ruang untuk memperkenalkan identitas budaya Jatinom kepada masyarakat luas.
Namun, ada satu hal yang tetap menjadi fondasinya: keberadaan mata air sebagai pusat kehidupan.
Ketika Dawet Jadi Bahasa Simbolik
Salah satu bagian paling menarik dari Dawetan terletak pada penggunaan dawet dalam prosesi ritual.
Dawet merupakan minuman tradisional yang memadukan cendol berbahan tepung beras, santan, dan gula merah. Dalam tradisi Umbul Kroman, minuman ini memiliki makna yang melampaui fungsi konsumsi.
Warga membawa dawet menggunakan wadah gerabah. Kemudian, seorang pembawa uba rampe membawa wadah tersebut menuju kawasan mata air sebagai bagian dari rangkaian prosesi.
Dua penari tampil di tengah kolam. Sementara itu, warga mengikuti jalannya ritual dengan suasana khidmat, diiringi kesenian tradisional dan rangkaian doa.
Setelah doa bersama, tokoh masyarakat menerima wadah gerabah tersebut. Ia kemudian menuangkan dawet tepat di titik munculnya gelembung air dari dalam tanah, yang masyarakat kenal sebagai umbulan.
Tindakan tersebut menjadi simbol harapan atas kesegaran hidup, ketenteraman, dan keberkahan bagi masyarakat.
Tokoh masyarakat sekaligus pengelola Sanggar Sayuk Rukun, Muhammad Ansori atau Gus Ansori, menjelaskan bahwa dawet bukan sekadar sajian dalam ritual. Rasa manisnya menyimpan harapan agar Umbul Kroman terus memberikan manfaat bagi kehidupan warga. Lebih dari itu, tradisi ini mencerminkan cara masyarakat memahami hubungan antara kelestarian alam dan keberlangsungan hidup mereka, dikutip dari Nawacita, Senin (2/11/2026).
“Ini adalah wujud kebijaksanaan masyarakat lokal dalam menjaga kelestarian siklus ekologi agar bisa terus memberikan manfaat, baik untuk keberlangsungan hidup maupun efek ekonomi.”
Penjelasan itu membuat prosesi menuangkan dawet memiliki makna yang lebih luas. Dawet menjadi simbol rasa syukur atas manfaat mata air sekaligus harapan agar sumber kehidupan tersebut terus memberikan kebaikan.
Kendi gerabah juga memiliki makna simbolik sebagai representasi bumi atau tanah. Sementara itu, rasa manis dawet menggambarkan keharmonisan dan kesegaran kehidupan.
Dengan demikian, dawet tidak sekadar menjadi sajian dalam sebuah perayaan. Ia menjadi bahasa budaya untuk menyampaikan rasa syukur dan penghormatan terhadap sumber kehidupan.
Kiai dan Nyai Mardani: Spiritualitas yang Menjaga Alam
Dimensi spiritual Dawetan juga terlihat melalui kepercayaan masyarakat terhadap sosok Kiai Mardani dan Nyai Mardani.
Dalam kepercayaan lokal, keduanya merupakan entitas penjaga atau danyang Umbul Kroman.
Kehadiran dua penari di tengah kolam menjadi personifikasi visual atas figur tersebut. Representasi ini menghubungkan pertunjukan seni dengan kepercayaan masyarakat mengenai keberadaan penjaga mata air.
Cerita tentang Kiai dan Nyai Mardani juga memiliki fungsi sosial. Masyarakat meyakini bahwa tindakan merusak lingkungan, mencemari air, atau menebang pohon sembarangan dapat mengundang kemarahan penjaga mata air.
Kepercayaan tersebut membentuk batas moral dalam hubungan manusia dengan alam.
Menariknya, mekanisme perlindungan ini tidak hanya bertumpu pada aturan formal. Ada norma sosial dan keyakinan spiritual yang mendorong masyarakat untuk menjaga lingkungan.
Di sinilah Dawetan memperlihatkan hubungan antara mitologi dan konservasi.
Masyarakat tidak harus memahami istilah ekosistem atau daerah resapan air untuk menyadari bahwa sumber air membutuhkan perlindungan. Mereka memiliki bahasa budaya sendiri untuk menyampaikan pesan tersebut.
Namun, kepercayaan spiritual bukan pengganti pengelolaan lingkungan secara ilmiah. Keduanya dapat berjalan berdampingan sebagai landasan kesadaran dan tindakan kolektif.
Beringin, Tumpeng, dan Makna Kebersamaan
Dawetan tidak berhenti setelah prosesi penuangan dawet.
Rangkaian kegiatan juga mencakup penanaman bibit pohon beringin di tepi kolam. Pohon ini memiliki makna perlindungan dan pengayoman dalam simbolisme budaya Jawa.
Selain itu, masyarakat menutup rangkaian kegiatan dengan pembagian dawet dan kembul bujana. Warga menikmati tumpeng, ayam ingkung, serta berbagai hasil bumi atau krowotan.
Ayam ingkung melambangkan keutuhan, kepasrahan, dan kerukunan. Sementara itu, hasil bumi mencerminkan rasa syukur atas kesuburan tanah dan hasil kerja masyarakat.
Makan bersama juga menghapus sekat sosial dalam ruang perayaan. Warga dari berbagai kelompok usia berkumpul dan menikmati hidangan yang sama.
Dengan cara sederhana, Dawetan menghidupkan kembali semangat gotong royong yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat desa.
Mata Air dalam Lanskap Budaya Jatinom
Tradisi Dawetan juga perlu dipahami dalam konteks bentang alam Jatinom yang memiliki sejumlah mata air dengan karakter berbeda.
Di Desa Mranggen, terdapat Umbul Gotan yang berperan sebagai sumber pengairan persawahan. Warga juga mengenal tradisi Nawu Sendang, yaitu kegiatan menguras dan membersihkan sumber air.
Sementara itu, Desa Gedaren memiliki Umbul Gedaren yang terdiri atas dua kawasan mata air, yakni Umbul Lanang dan Umbul Wadon.
Kedua sumber air tersebut memiliki cerita rakyat yang berkaitan dengan Dewi Siti Sundari atau Gendari.
Masyarakat juga menghubungkan Umbul Wadon dengan kepercayaan mengenai kecantikan perempuan.
Karena itu, Dawetan tidak berdiri sebagai fenomena yang terpisah. Tradisi ini merupakan bagian dari lanskap kebudayaan yang lebih besar.
Dari Kesakralan Menuju Pariwisata: Apa yang Berubah?
Perkembangan Dawetan menjadi festival budaya membawa peluang sekaligus tantangan.
Dari sisi sosial, persiapan kirab, pembuatan perlengkapan ritual, latihan tari, hingga pelaksanaan acara mempertemukan warga dalam aktivitas kolektif.
Dari sisi kelembagaan, pemerintah desa mulai menempatkan Dawetan sebagai agenda budaya tahunan. Pengembangan fasilitas pendukung seperti gazebo dan kawasan pemandian juga dilakukan secara bertahap.
Sementara itu, festival berpotensi menarik wisatawan dan membuka peluang ekonomi bagi pedagang makanan tradisional, pelaku UMKM, serta penyedia jasa wisata lokal.
Pengelolaan Umbul Kroman juga menerapkan prinsip akses terbuka. Pengunjung tidak dibebani tarif tiket masuk yang mengikat, tetapi dapat memberikan kontribusi sukarela untuk perawatan lingkungan.
Namun, perkembangan pariwisata selalu membawa pertanyaan penting. Bagaimana masyarakat menjaga keseimbangan antara daya tarik wisata dan kesakralan sumber air?
Festival memang dapat memperkenalkan tradisi kepada generasi muda. Wisatawan juga bisa membantu menggerakkan ekonomi desa. Tetapi, peningkatan kunjungan harus berjalan bersama tanggung jawab menjaga kebersihan dan kelestarian kawasan.
Jangan sampai tradisi yang awalnya mengajarkan penghormatan terhadap alam justru berubah menjadi aktivitas yang membebani alam.
Dawetan dan Pelajaran tentang Cara Merawat Kehidupan
Tradisi Dawetan memperlihatkan bahwa pelestarian lingkungan tidak selalu bermula dari kebijakan pemerintah atau program konservasi berskala besar.
Ia juga dapat tumbuh dari kebiasaan masyarakat, kepercayaan lokal, dan kesadaran bahwa kehidupan manusia bergantung pada alam.
Dari kerja bakti membersihkan sendang hingga penanaman pohon beringin, setiap bagian Dawetan memiliki hubungan dengan keberlanjutan mata air.
Dari doa bersama hingga kembul bujana, tradisi ini juga memperkuat hubungan antarmanusia. Inilah lapisan penting yang membuat Dawetan lebih dari sekadar festival budaya.
Di tengah krisis lingkungan dan semakin besarnya tekanan terhadap sumber daya alam, masyarakat modern sering membicarakan konservasi melalui regulasi, teknologi, dan program pembangunan. Namun, ada satu pertanyaan yang tidak kalah penting: apakah manusia masih memiliki ikatan emosional dengan alam yang menopang kehidupannya?
Dawetan menawarkan satu gambaran tentang ikatan tersebut. Masyarakat tidak hanya mengambil manfaat dari mata air. Mereka merawatnya melalui ritual, gotong royong, dan pewarisan nilai kepada generasi berikutnya. Sebab, ketika mata air kehilangan kesakralannya, manusia berisiko melihatnya hanya sebagai sumber daya yang bisa terus diambil.
Dawetan mengingatkan bahwa air bukan sekadar sesuatu yang mengalir dari tanah. Ia adalah bagian dari kehidupan, kebudayaan, dan tanggung jawab bersama.
Dan mungkin, itulah pesan paling penting dari tradisi di Jatinom: menjaga alam seharusnya bukan sekadar kewajiban, melainkan bagian dari cara manusia menghormati kehidupannya sendiri. @waras








