Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kemlu Upayakan Pemulangan Tiga WNI yang Tertahan di Sokotra, Yaman

by dimas
Januari 9, 2026
in Global, Reality
A A
Home Reality Global
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Global – Di tengah ketegangan geopolitik yang kembali membara di Jazirah Arab, tiga warga negara Indonesia (WNI) terjebak jauh dari rumah. Sejak 3 Januari 2026, mereka tertahan di Pulau Sokotra, Yaman sebuah pulau eksotis yang mendadak berubah menjadi ruang tunggu tak pasti akibat perang yang kian meluas.

Penutupan wilayah udara Yaman oleh Arab Saudi menjadi pemicunya. Langkah itu menyusul serangan militer ke Pelabuhan Makala pada 30 Desember lalu, yang memperparah eskalasi konflik di kawasan selatan Yaman. Akibatnya, seluruh penerbangan dihentikan. Tidak ada jalan keluar. Tidak ada kepastian waktu.

Di situlah tiga WNI itu berada. Terisolasi. Menunggu.

Dari Wisata ke Wilayah Konflik

Kementerian Luar Negeri RI menjelaskan, ketiga WNI tersebut masuk ke Pulau Sokotra melalui operator wisata berbasis Uni Emirat Arab. Awalnya, perjalanan itu murni wisata. Namun situasi berubah cepat.

“Mereka terjebak di Sokotra akibat wilayah udara di Yaman ditutup oleh pemerintah Saudi pada saat serangan militer ke Pelabuhan Makala,” ujar Pelaksana Tugas Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI, Heni Hamidah, dalam taklimat media di Jakarta, Kamis (8/1/2026).

Ini Belum Selesai

BBM Belum Normal, ASN Jember WFH: Siapa Menjamin Layanan Publik Tetap Jalan?

Prabowo dan Guterres Bertemu di Hambalang, Apa Agenda Indonesia di Panggung Dunia?

Pulau Sokotra memang kerap disebut “pulau alien” karena lanskap alamnya yang unik. Namun dalam konteks konflik, keindahan itu tidak banyak berarti. Ketika pesawat berhenti terbang, pulau itu berubah menjadi kantong isolasi.

Meski begitu, Kemlu memastikan kondisi ketiga WNI tersebut aman. Mereka masih dapat berkomunikasi dengan perwakilan Indonesia. Negara, setidaknya, belum kehilangan kontak.

Perlombaan dengan Jadwal Penerbangan

Kabar baik datang pada 7 Januari. Otoritas setempat mulai membuka kembali penerbangan terbatas. Momentum itu langsung dimanfaatkan.

Perwakilan RI di Muscat dan Abu Dhabi bergerak cepat. Mereka berkoordinasi dengan otoritas penerbangan dan maskapai agar ketiga WNI dapat ikut penerbangan keluar dari Yaman pada Kamis dan Jumat, 9-10 Januari 2026.

“Kami terus mendorong agar ketiga WNI tersebut bisa ikut penerbangan tersebut. Kasus ini terus kami kawal,” jelas Heni.

Namun dalam situasi konflik, jadwal penerbangan bukan janji. Ia bisa berubah sewaktu-waktu, tergantung dinamika militer dan keputusan politik regional.

Bagi keluarga di Indonesia, setiap jam penundaan berarti kecemasan yang memanjang.

Diplomasi di Atas, Kewaspadaan di Bawah

Di saat yang sama, Kemlu RI menegaskan posisi diplomatik Indonesia. Juru Bicara Kemlu, Vahd Nabyl A Mulachela, menyatakan Indonesia menyambut baik langkah Arab Saudi yang memfasilitasi dialog internasional terkait Yaman.

Konferensi-konferensi di Riyadh, menurut Nabyl, bertujuan membuka ruang dialog inklusif antar-elemen di Yaman demi menjaga perdamaian dan keutuhan wilayah.

Namun diplomasi tingkat tinggi berjalan paralel dengan kenyataan di lapangan yang jauh lebih rapuh.

Karena itu, Kemlu kembali mengingatkan WNI agar menghindari wilayah konflik, terutama di Yaman Selatan. Hingga kini, pemerintah belum menerima laporan adanya WNI yang menjadi korban langsung konflik di wilayah tersebut.

“Prioritas utama pemerintah adalah keselamatan dan keamanan WNI,” ujar Nabyl, seraya menegaskan komitmen Indonesia mendorong penyelesaian damai tanpa kekerasan.

Konflik yang Terus Bergeser

Situasi Yaman sendiri terus bergerak. Sejak akhir Desember, ketegangan meningkat tajam setelah kelompok Dewan Transisi Selatan (STC) merebut kendali atas Hadramaut dan Al-Mahra dua provinsi strategis yang mencakup hampir setengah wilayah Yaman dan berbatasan langsung dengan Arab Saudi.

Arab Saudi menuding Uni Emirat Arab mendorong operasi militer STC di kawasan tersebut. Tuduhan itu dibantah Abu Dhabi. Sementara itu, STC menilai pemerintah Yaman meminggirkan wilayah selatan dan kembali menyerukan pemisahan. Pemerintah Yaman bersikukuh mempertahankan persatuan nasional.

Di tengah tarik-menarik itulah warga sipil termasuk WNI sering kali terjebak tanpa suara.

Catatan Akhir: Ketika Paspor Tak Cukup

Kasus tiga WNI di Sokotra kembali mengingatkan satu hal sederhana paspor tidak selalu menjamin jalan pulang. Dalam konflik, warga sipil kerap menjadi catatan kaki dari keputusan politik dan militer yang lebih besar.

Negara boleh berbicara di meja diplomasi. Namun bagi mereka yang terjebak di pulau kecil di tengah Samudra Hindia, yang paling dibutuhkan bukan pernyataan melainkan tiket pulang.

Dan waktu, dalam situasi seperti ini, selalu berpihak pada siapa yang paling cepat bergerak. @dimas

Tags: Diplomasi IndonesiaEvakuasiKeamanan NegaraKonflik DuniaKrisis GlobalPerlindungan

Kamu Melewatkan Ini

Prabowo Bertemu Guterres di Hambalang: Diplomasi Akrab, Hasilnya Harus Terukur

Prabowo Bertemu Guterres di Hambalang: Diplomasi Akrab, Hasilnya Harus Terukur

by teguh
Oktober 19, 2026

Diplomasi sering dimulai dari sebuah jabat tangan. Dua tokoh bertemu yaitu, Prabowo Bertemu Guterres di Hambalang kamera merekam, lalu pernyataan...

Prabowo dan Guterres Bertemu di Hambalang, Apa Agenda Indonesia di Panggung Dunia?

Prabowo dan Guterres Bertemu di Hambalang, Apa Agenda Indonesia di Panggung Dunia?

by teguh
Oktober 19, 2026

Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), António Guterres, di kediaman pribadinya di Hambalang, Jawa Barat, Minggu...

El-Sisi Kunjungi Indonesia, Visa dan Kesehatan Masuk Agenda Bilateral

El-Sisi Kunjungi Indonesia, Visa dan Kesehatan Masuk Agenda Bilateral

by dimas
Oktober 11, 2026

El-Sisi mengunjungi Indonesia dan bertemu Prabowo di Jakarta. Keduanya membahas kerja sama visa, kesehatan, serta penguatan hubungan bilateral Indonesia-Mesir. Tabooo.id:...

Next Post
Konsep Otomatis

Prabowo Beri Bonus Rp1 Miliar kepada Peraih Emas SEA Games 2025

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id