Tabooo.id: Global – Aktivitas maritim China kembali memicu perhatian. Selain itu, kapal riset ilmiah Da Yang Yi Hao beroperasi lebih dari sebulan di perairan strategis dekat Timur Tengah. Sementara itu, kapal induk Amerika Serikat tiba di kawasan yang sama. Kedua manuver ini langsung meningkatkan ketegangan yang sudah memanas antara Washington dan Teheran.
Menurut laporan SeaLight, kelompok analisis maritim afiliasi Universitas Stanford, kapal China ini mulai memetakan Laut Arab sejak 19 Desember 2025. Area pengamatan mencakup perairan di lepas pantai Semenanjung Arab, India, dan Pakistan. Lebih lanjut, SeaLight menyebut: “Da Yang Yi Hao membawa sistem pencitraan dasar laut canggih serta kendaraan bawah air kendali jarak jauh untuk pengambilan sampel dan pemetaan medan bawah laut.”
Jejak Kapal dan Jalurnya
Berdasarkan data publik, kapal ini berangkat dari pantai timur laut China, menembus Laut China Selatan, melewati Selat Malaka, dan sampai di Samudra Hindia hingga Laut Arab. Selain itu, empat kapal riset China lainnya juga tercatat beroperasi di Samudra Hindia, menurut analis intelijen sumber terbuka Damien Symon.
Secara strategis, Laut Arab menghubungkan Teluk Persia melalui Selat Hormuz dan Laut Merah melalui Teluk Aden serta Selat Bab el-Mandeb. Akibatnya, kehadiran kapal riset China di jalur ini berpotensi memengaruhi navigasi komersial maupun militer. Apalagi, risiko ini meningkat seiring pengerahan kekuatan militer AS di kawasan.
Ketegangan Politik Meningkat
Kehadiran kapal China muncul setelah Presiden Donald Trump mengancam perubahan rezim di Iran menyusul penindasan protes anti-pemerintah. Sebagai respons, militer AS diperintahkan siap menghadapi kemungkinan serangan, lapor The Wall Street Journal.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyatakan: “China berharap Iran menjaga stabilitas nasional dan semua pihak menyelesaikan perbedaan melalui dialog, menghargai perdamaian, dan menahan diri.” Dengan kata lain, Beijing berupaya menjaga citranya sebagai mediator sekaligus mempertahankan kepentingan strategis di Samudra Hindia.
Teknologi Kapal yang Bisa Ganda
Perlu dicatat, Da Yang Yi Hao, atau Ocean No. 1, bukan sekadar kapal riset ilmiah. Selain meneliti geofisika, kimia laut, biologi, dan akustik, kapal ini mampu memetakan medan laut dalam dan mencegat komunikasi bawah air. Selain itu, pemasangan kendaraan kendali jarak jauh menimbulkan kekhawatiran kapal ini bisa dipakai untuk tujuan militer.
Sementara itu, China juga menempatkan tiga kapal angkatan laut di Teluk Aden untuk mengawal pelayaran komersial. Namun, belum jelas apakah mereka akan menambah armada riset di Samudra Hindia.
Dampak bagi Kawasan dan Masyarakat
Aktivitas ini tidak hanya soal persaingan militer. Sebaliknya, masyarakat di jalur pelayaran utama bisa terdampak ekonomi. Ketegangan dapat menunda pengiriman komoditas, menaikkan harga energi global, dan memicu ketidakpastian bagi industri maritim. Selain itu, negara-negara kecil di pesisir Teluk Arab dan Teluk Aden menjadi pihak yang paling rentan.
Secara keseluruhan, para pengamat menilai setiap langkah di laut kini seperti permainan geopolitik yang bisa mengorbankan stabilitas regional. Dengan kata lain, ketegangan ini lebih menyerupai catur laut daripada sekadar penelitian ilmiah. @dimas




