Tabooo.id: Nasional – Suksesi di Karaton Kasunanan Surakarta kembali jadi panggung drama sejarah. Setelah Sri Susuhunan Pakoe Boewono XIII berpulang, takhta bergeser cepat. Hanya tiga hari berselang, Rabu (5/11/2025), KGPAA Hamangkunegara resmi bersabda, naik tahta menjadi SISKS Pakoe Boewono XIV.
Proses ini begitu cepat, seolah waktu tak mau memberi ruang kosong di jantung Kraton. Deklarasi dilakukan di tengah duka, saat upacara pelepasan jenazah almarhum Raja di Sasana Sewaka, berlandaskan Kintaka Rukma, surat emas warisan Pakoe Boewono XIII yang disebut berisi mandat suksesi rahasia.
Langkah kilat ini memicu tanya, adakah percepatan ini bagian dari strategi menjaga wibawa, atau sekadar antisipasi perpecahan di internal Sentana Dalem?
Aksesi Duluan, Resepsi Belakangan
Fakta penting yang perlu dipahami adalah Jumeneng Dalem Nata Binayangkare S.I.S.K.S. Pakoe Boewono XIV yang bakal digelar pada 15 November 2025 mendatang bukanlah penetapan takhta, melainkan resepsi pengukuhan.
Dalam tradisi Karaton, ini semacam “pernikahan adat” antara raja dan rakyat, bukan ijab pertama, tapi pesta syukuran yang meneguhkan sabda yang sudah diucap.
“Raja sudah jumeneng (bertahta) pada tanggal 5 November 2025, ini adalah fakta. Acara hari Sabtu (15 November) adalah Jumeneng Dalem dalam artian perayaan, sebagai wujud syukur dan untuk mengukuhkan secara adat dan publik di hadapan seluruh Sentana dan Abdi Dalem. Tidak benar anggapan bahwa Beliau baru bertahta di tanggal 15,” ujar KPAAd. Nur Wijaya Adiningrat, Rabu (12/11/2025).
Sementara itu, KPA. H. Andri Winarso Wartonagoro menambahkan, “Kami mengapresiasi kecepatan suksesi ini karena menghindari potensi friksi. Jumeneng Dalem sebagai resepsi ini sangat penting untuk menunjukkan kepada publik bahwa kepemimpinan kraton tetap utuh dan berjalan. Sinuhun sudah resmi, sekarang saatnya kita semua mendukung visi kepemimpinan Beliau ke depan,”
Antara Tradisi dan Transisi
Suksesi kilat ini menunjukkan satu hal, Kraton tak lagi sekadar simbol masa lalu, tapi lembaga yang sadar akan waktu. Di era digital, bahkan darah biru pun dituntut gesit. Namun di balik akselerasi itu, ada pertanyaan besar, bisakah harmoni yang diwariskan leluhur bertahan di tengah percepatan zaman?
Dengan SISKS Pakoe Boewono XIV kini memegang komando, publik berharap Kraton tak hanya jadi museum adat, tapi pusat hidup kebudayaan Jawa yang adaptif. Sebuah momen untuk membuktikan pepatah tua: “Mikul dhuwur mendhem jero”—menjunjung tinggi yang luhur, mengubur yang retak.
Lalu, mampukah sang Raja muda merangkai harmoni di antara darah, adat, dan generasi baru? @tabooo







