• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Jumat, Maret 27, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home News

Jelang Ramadhan, Harga Cabai Rawit Tembus Rp100 Ribu di Semarang

Februari 18, 2026
in News, Regional
A A
Jelang Ramadhan, Harga Cabai Rawit Tembus Rp100 Ribu di Semarang

Ilustrasi cabai rawit merah di pasar tradisional yang harganya melonjak jelang Ramadhan. (Foto ilustrasi Tabooo.id/Dimas P)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Regional – Menjelang Ramadhan 2026, harga cabai rawit di sejumlah pasar permukiman Kota Semarang melonjak tajam. Di kawasan Perumahan Palir, Kecamatan Ngaliyan, pedagang menjual cabai rawit hingga Rp90.000 sampai Rp100.000 per kilogram. Kenaikan ini langsung menekan daya beli warga, terutama rumah tangga yang mengandalkan cabai sebagai bumbu pokok harian.

Lonjakan harga tidak terjadi tiba-tiba. Pedagang mengaku sudah merasakan tekanan sejak menjelang perayaan Imlek. Harga terus merangkak naik seiring pasokan yang semakin terbatas.

Siti (45), pedagang sembako setempat, mengatakan ia tidak punya banyak pilihan selain mengikuti harga dari pemasok.

“Dari agen sudah mahal, jadi terpaksa kami jual hampir Rp100.000 per kilo. Katanya di tingkat petani banyak yang gagal panen karena cuaca,” ujar Siti, Rabu (18/2/2026).

Pernyataan itu menggambarkan satu rantai masalah yang panjang. Cuaca buruk memukul produksi petani. Pasokan berkurang. Harga naik di tingkat agen. Pada akhirnya, konsumen yang harus menanggung beban.

Pasokan Terganggu, Harga Bergerak Naik Tanpa Rem

Pedagang merasakan kenaikan harga secara bertahap, bukan sekaligus. Namun, justru pola ini membuat dampaknya terasa lebih luas. Setiap kenaikan kecil di tingkat distribusi langsung diteruskan ke pembeli.

Cuaca menjadi faktor utama. Hujan yang tidak menentu merusak tanaman cabai di banyak sentra produksi. Akibatnya, jumlah cabai yang masuk ke pasar turun drastis.

Situasi ini semakin rumit karena permintaan biasanya meningkat menjelang Ramadhan. Ketika pasokan turun dan permintaan naik, harga hampir pasti melambung.

Kombinasi inilah yang kini terjadi di Semarang.

Pemerintah Siapkan Operasi Pasar, Tapi Skala Terbatas

Pemerintah Kota Semarang tidak tinggal diam. Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, memastikan pihaknya terus memantau pergerakan harga melalui sistem digital.

Ia juga menyiapkan operasi pasar untuk menahan kenaikan lebih lanjut. Namun, pemerintah tidak akan langsung menggelar operasi besar.

Sebaliknya, mereka memilih intervensi skala kecil yang langsung menyasar titik-titik perdagangan di permukiman warga.

“Dinas Ketahanan Pangan dan Dinas Perdagangan akan melakukan operasi pasar kecil-kecil yang mengintervensi pasar dan spot perdagangan,” ujar Agustina.

Strategi ini bertujuan menahan harga sebelum melonjak lebih tinggi.

Namun, pendekatan terbatas ini juga menunjukkan kenyataan lain: pemerintah berusaha mengendalikan pasar tanpa benar-benar bisa mengontrol produksi.

Rumah Tangga Jadi Korban Pertama

Kenaikan harga cabai langsung terasa di dapur rumah tangga. Warga mulai mengubah pola belanja mereka agar pengeluaran tetap terkendali.

Wulandari (30), warga Ngaliyan, mengaku harus mengurangi jumlah pembelian.

“Biasanya beli setengah kilo, sekarang paling seperempat kilo,” jelasnya.

Keputusan ini terlihat sederhana. Namun, jika terjadi secara massal, fenomena ini menunjukkan tekanan nyata terhadap daya beli masyarakat.

Cabai mungkin hanya satu komoditas. Tetapi kenaikannya sering menjadi simbol tekanan ekonomi yang lebih luas.

Pedagang dan Pembeli Sama-Sama Terjepit

Pedagang juga tidak sepenuhnya diuntungkan. Harga tinggi memang menaikkan nilai jual. Namun, jumlah pembelian sering turun karena pelanggan mengurangi konsumsi.

Siti mengatakan kenaikan harga menjelang Ramadhan memang sering terjadi. Namun, kecepatan kenaikan tahun ini membuat banyak pelanggan terkejut.

Pembeli menahan belanja. Pedagang kehilangan volume penjualan. Keduanya sama-sama menanggung dampaknya.

Inflasi Mengintai dari Dapur

Pemerintah menyadari risiko yang lebih besar. Kenaikan harga pangan bisa memicu inflasi. Jika inflasi berlangsung lama, dampaknya bisa merembet ke seluruh sektor ekonomi.

Agustina mengingatkan pedagang agar tidak menaikkan harga secara berlebihan.

Ia menegaskan inflasi yang tidak terkendali bisa merusak ekonomi secara keseluruhan.

RelatedPosts

MotoGP Brasil 2026: Semua Nol Lagi, Tapi Marquez Punya Satu Keunggulan

Pemerintah Resmi Tetapkan Idul Fitri 1447 H pada Sabtu 21 Maret 2026

Jika daya beli jatuh, masyarakat berhenti belanja. Ketika itu terjadi, pedagang pun kehilangan pembeli.

Pada akhirnya, kenaikan harga yang terlalu tinggi tidak menguntungkan siapa pun.

Menjelang Ramadhan, cabai rawit kembali membuktikan satu hal lama dalam ekonomi sehari-hari, gejolak terbesar sering kali tidak datang dari pasar saham melainkan dari bumbu dapur. @dimas

Tags: 100 Ribu2026Cabai RawitdapurEkonomiHargaInflasiJawa TengahKebutuhanKenaikanKrisisPanganrakyatRamadhanSemarang
Next Post
Viral! 12 Agustus 2026 Dunia Tanpa Gravitasi, Faktanya Hoaks

Viral! 12 Agustus 2026 Dunia Tanpa Gravitasi, Faktanya Hoaks

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Bersua Sang Raja: Momen Langka Warga Bisa Bertatap Langsung dengan Raja Surakarta

    Bersua Sang Raja: Momen Langka Warga Bisa Bertatap Langsung dengan Raja Surakarta

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bersua Sang Raja: No Jeans, No Kaos

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mudik Belum Selesai? 71 Persen Kendaraan Masih di Jawa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KRI Prabu Siliwangi Masuk Surabaya: Kekuatan Baru atau Sinyal Laut Makin Memanas?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mutasi Elite TNI Bergerak: Regenerasi atau Sekadar Rotasi Kekuasaan?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.