Minggu, Juni 28, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Jejak Gelap Kapolres Bima Kota: Saat Aparat Menjadi Pengedar

by dimas
Februari 16, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Senja itu, Jakarta terasa berat, seolah menelan semua rasa bersalah yang selama ini tersembunyi di balik seragam polisi. Di ruang Mabes Polri, Kadiv Humas Irjen Pol Johnny Eddizon Isir membuka fakta yang mengguncang publik mantan Kapolres Bima Kota, AKBP Didik Putra Kuncoro, terjerat jaringan narkoba.

“AKBP Didik mendapatkan barang bukti dari tersangka AKP ML, salah satu tokoh jaringan dengan inisial E,” ujar Isir tegas, Minggu (15/2/2026).

Dari Aparat ke Bandar: Kronologi Gelap

Didik, seorang perwira yang seharusnya menegakkan hukum, justru menyimpan narkoba untuk dikonsumsi sendiri. Sumbernya jelas: mantan anak buahnya, AKP Maulangi, yang dahulu menjabat Kasat Narkoba Polres Bima Kota. Kedekatan ini memberi Didik akses dan perlindungan sementara, hingga aparat pengawas akhirnya mencium jejaknya.

Polisi menemukan satu koper berisi narkoba di kediaman Aipda Dianita di Tangerang, Banten. Mereka meneliti sabu seberat 16,3 gram, ekstasi 49 butir plus 2 butir sisa pakai (23,5 gram), aprazolam 19 butir, happy five 2 butir, dan ketamin 5 gram. Barang-barang itu menandai garis tebal antara kewenangan dan pelanggaran.

Pemeriksaan urine menunjukkan Didik, istrinya MR, dan mantan anak buah DN negatif. Namun, Propam menemukan uji rambut positif pada Didik, menegaskan narkoba itu memang bagian dari konsumsi pribadinya, meski permukaan terlihat bersih.

Ini Belum Selesai

TABOOO Cultural Production: Dari Budaya Menjadi Karya

Karnaval Usai, Peradaban Diuji: Sampah Jadi Cermin Seperti Apa Kesadaran Publik

Bagaimana Aparat Bisa Terseret

Kasus ini menyingkap ironi tajam: institusi yang dibentuk untuk memberantas narkoba, justru menjadi medium distribusi bagi oknum di dalamnya. Sistem pengawasan internal terbukti rentan terhadap kedekatan personal dan jaringan hierarki.

Para bandar yang memanfaatkan akses aparat mendapat keuntungan besar. Sementara masyarakat yang seharusnya terlindungi menghadapi risiko meningkat akibat lemahnya integritas aparat. Ketika polisi menjadi konsumen dan distributor, hukum kehilangan kredibilitasnya.

Publik Terkoyak: Kepercayaan yang Hancur

Kasus ini tidak sekadar headline. Ia menghancurkan kepercayaan publik terhadap aparat. Warga menaruh harapan pada polisi untuk menegakkan hukum, bukan menjadi bagian dari jaringan kriminal. Anak muda yang seharusnya melihat panutan kini menyaksikan seorang kapolres jatuh dalam jerat narkoba. Ironi sosialnya jelas: institusi perlindungan berubah menjadi sarang risiko bagi masyarakat.

Seorang aktivis anti-narkoba lokal menuturkan, “Kasus Didik membuka mata kita narkoba bukan hanya masalah warga biasa. Ketika penegak hukum yang seharusnya menindak malah terlibat, sistem keadilan menjadi olok-olok.”

Tabooo Menyentil: Kekuasaan dan Kegagalan Sistem

Di balik fakta yang terbuka, tersimpan ironi pahit. Aparat yang seharusnya menegakkan moral publik justru melanggarnya. Kekuasaan memberi akses, kedekatan memberi perlindungan sementara, dan lemahnya mekanisme pengawasan memungkinkan jaringan gelap berkembang.

Kasus ini bukan hanya soal satu orang atau satu kota. Ia menjadi cermin nasional: korupsi moral bisa merambah institusi yang paling vital bagi stabilitas hukum dan keamanan masyarakat. Setiap batang narkoba yang lewat bukan hanya merusak tubuh, tetapi juga menodai integritas sistem hukum.

Pertanyaan untuk Publik

Kini, AKBP Didik menghadapi ancaman pidana berat, termasuk potensi penjara seumur hidup. Namun pertanyaan lebih tajam bukan soal hukum, melainkan soal sistem siapa menahan gelombang penyalahgunaan ketika institusi pengawas sendiri terseret? Jika aparat yang seharusnya menjadi panutan bisa jatuh, bagaimana masyarakat bisa sepenuhnya percaya pada hukum?

Kasus ini menegaskan satu hal di negara yang katanya menegakkan hukum, kebenaran bisa diputarbalikkan oleh mereka yang memegang kuasa, sementara masyarakat kecil menanggung risiko nyata. @dimas

Tags: AparatDidik Putra KuncoroIntegritasInvestigasiJaringanKapolres BimaKejahatanKriminal & HukummasyarakatnarkobaPenegakanPolisiterancam

Kamu Melewatkan Ini

Agus Salim: Ketika Kecerdasan Tidak Berujung pada Kekayaan

Agus Salim: Ketika Kecerdasan Tidak Berujung pada Kekayaan

by teguh
Juni 9, 2026

"Agus Salim, Orang tua yang sangat pintar ini seorang jenius dalam bidang bahasa, bicara, dan menulis dengan sempurna, paling sedikit...

Kejahatan Siber Naik Level: Indonesia Tak Lagi Sekadar Pasar, Tapi Markas

Kejahatan Siber Naik Level: Indonesia Tak Lagi Sekadar Pasar, Tapi Markas

by dimas
Mei 10, 2026

Kejahatan siber di Indonesia kian terorganisir dan lintas negara. Namun di balik penggerebekan besar jaringan judi online di Jakarta dan...

Video Bea Cukai: Fakta atau Framing yang Keburu Meledak?

Video Bea Cukai: Fakta atau Framing yang Keburu Meledak?

by teguh
Mei 9, 2026

Video berdurasi 22 detik memicu gelombang opini di media sosial. Dua petugas berseragam Bea Cukai mendatangi Warung Madura pada malam...

Next Post
Kisah Ani: Melestarikan Tempe Tradisional di Tengah Modernisasi

Kisah Ani: Melestarikan Tempe Tradisional di Tengah Modernisasi

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id