Tabooo.id: Vibes – Ada yang menarik kalau kita buka kembali lembaran sejarah Jawa. Ternyata, jauh sebelum bandara ramai oleh turis Korea dan Eropa yang bawa kamera mirrorless, tanah Jawa sudah jadi tempat nongkrong para “bule kuno.” Dulu mereka datang bukan buat bikin konten sunrise di Borobudur, tapi buat berdagang rempah, logam, sampai agama. Dan uniknya, pemerintah kerajaan di masa itu dari Airlangga sampai Majapahit sudah lebih dulu bikin policy untuk urusan “orang asing”.
Jadi kalau sekarang kita punya imigrasi dan visa, di abad ke-11 sudah ada versi lokalnya, juru kling, juru hunjeman, dan paranakan. Bukan nama user Facebook, tapi jabatan resmi di kerajaan.
Dari Sanskerta ke Srilangka
Sebelum ada bahasa Inggris di baliho kampus, aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta sudah lebih dulu jadi bukti pergaulan internasional Nusantara. Prasasti Kutai di Kalimantan dan Tarumanegara di Jawa menandai abad ke-5 sebagai era “globalisasi dini”.
Namun, baru di masa Raja Airlangga (1019-1042) tercatat jelas keberadaan orang asing dalam prasasti. Dalam Prasasti Kamalagyan (1037), tertulis nama-nama seperti orang dari Kalingga, Arya, Srilangka, Campa, Khmer, dan Remin. Dunia benar-benar sedang mampir ke Jawa.
Saking banyaknya tamu internasional, Airlangga sampai menunjuk petugas khusus buat ngatur mereka. Ada juru kling buat mengurus pedagang India, juru hunjeman buat kelompok dagang dari Persia, dan paranakan buat mereka yang sudah campur kawin dengan orang Jawa.
Sistemnya jelas, rapi, dan… kena pajak. Yup, setiap orang asing yang berdagang kena dua jenis pajak: profesi dan pajak orang asing (kikeran). Pemerintahan Airlangga tampaknya sudah memahami satu hal penting: “Kalau banyak tamu datang, jangan lupa kas negara juga harus senang.”
Dari Pesisir ke Panggung Dunia
Mereka datang lewat laut, bukan pesawat. Kapal-kapal dari India, Persia, dan Sri Lanka bersandar di pelabuhan Jawa, membawa barang dagangan sekaligus cerita. Hubungan lintas budaya pun terjalin di pasar-pasar pesisir.
Pada masa Majapahit, interaksi ini makin ramai. Prasasti Balawi (1305) mencatat daftar panjang tamu internasional: Keling, Singhala, Arya, Cina, Campa, Khmer, bahkan Bebel dan Mambang. Bayangkan pelabuhan di Tuban atau Gresik waktu itu seperti bandara internasional tanpa aspal ramai, penuh dialek, aroma rempah, dan suara tawar-menawar.
Kakawin Nagarakrtagama (1365) bahkan menggambarkan suasana pasar saat para pedagang asing melakukan transaksi dagang. Bukan cuma ekonomi yang tumbuh, tapi juga budaya. Hubungan diplomatik antarnegara dibangun; dari Kamboja sampai Siam, dari Jambudwipa (India) sampai Cina.
Dari Ma Huan ke Majapahit
Catatan paling menarik datang dari Ma Huan, penerjemah Laksamana Cheng Ho. Dalam Yingya Shenglan, ia menulis tentang kehidupan di Jawa abad ke-15. Menurutnya, di pesisir utara seperti Tuban, Gresik, dan Surabaya, banyak orang asing menetap: Arab, Cina, India, Asia Tenggara. Mereka berdagang, menikah, dan hidup berdampingan dengan orang Jawa.
Ma Huan bahkan membagi penduduk Jawa jadi tiga golongan:
- Orang Arab (atau Muslim) yang berdagang dan berpenampilan rapi,
- Orang Cina yang datang dari Guangdong, Zhangzhou, dan Quanzhou,
- Orang Jawa lokal yang sudah lebih dulu menetap.
Yang menarik, Ma Huan tidak menulis adanya bentrokan atau konflik antar etnis. Sebaliknya, ia mencatat bahwa pendatang diterima dengan hangat. Seolah-olah tanah Jawa memang punya karakter bawaan: ramah pada perbedaan.
Ketika Dunia Datang dan Kita Menyambut
Mpu Prapanca dalam Nagarakrtagama menulis dengan indah bahwa “semua orang datang dari negeri lain, berangkat dari tempat asalnya dengan kapal bersama pedagang.” Kalimat ini bukan cuma catatan sejarah, tapi juga potret sikap: keterbukaan.
Dari situ kita bisa melihat, toleransi di Jawa bukan konsep baru yang diajarkan di seminar, tapi warisan lama yang hidup di pelabuhan-pelabuhan, pasar, dan perkampungan. Kita tumbuh dari budaya yang tidak takut pada “asing,” justru menyerapnya menjadi bagian dari diri sendiri.
Itulah kenapa budaya Jawa tidak kaku ia adaptif, lentur, seperti air yang mengalir dari sungai kecil ke lautan luas. Dari pengaruh India lahir aksara dan sastra; dari Persia datang kosmologi dari Cina muncul tradisi dagang dan kuliner. Semuanya dilebur, bukan ditolak.
Refleksi Tabooo: Dari Juru Kling ke Global Citizen
Lucunya, kalau dipikir-pikir, dulu kerajaan sudah bikin sistem sensus dan imigrasi, sementara kita hari ini masih ribut soal “pendatang.” Dulu orang asing diurus biar tertib berdagang; sekarang, orang lokal kadang justru ribut di kolom komentar.
Fenomena ini mengajak kita berkaca: globalisasi bukan hal baru, yang baru hanyalah kecepatannya. Dulu pertemuan budaya butuh berbulan-bulan berlayar, sekarang cukup satu klik “join meeting.” Tapi esensinya sama dunia datang, dan kita harus siap menyambutnya dengan kepala dingin dan hati terbuka.
Jawa, dalam hal ini, memberi pelajaran keterbukaan bukan berarti kehilangan identitas, tapi memperluasnya.
Penutup:
Mungkin kita memang sudah lama hidup di simpang dunia dulu lewat pelabuhan, sekarang lewat layar ponsel. Bedanya, dulu kita sambut tamu asing dengan senyum dan pajak, sekarang kadang kita sambut dengan debat dan cyberbullying.
Sejarahnya jelas dunia pernah datang ke Jawa, dan kita tak kehilangan jati diri karenanya. Jadi mungkin, alih-alih takut “terpengaruh budaya luar”, kita bisa belajar dari leluhur Airlangga dan Majapahit, menyaring, bukan menutup diri.
Karena sejak dulu, yang membuat Jawa bertahan bukan temboknya tapi pintunya yang selalu terbuka. @dimas




