Sabtu, Juni 6, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Jaksa Agung: Kades Bukan Target Mudah

by teguh
April 21, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter
Selasa, 21/04/2026, Jakarta memunculkan pertanyaan penting: apakah semua kesalahan kepala desa harus berujung borgol? Jaksa Agung ST Burhanuddin menjawab tegas, tidak. Ia meminta seluruh jajaran kejaksaan di daerah berhenti menjerat kepala desa jika masalahnya hanya administratif. Pernyataan itu muncul dalam forum Asosiasi Badan Permusyawaratan Desa Nasional (ABPEDNAS) di Hotel Fairmont, Jakarta. Kalimatnya singkat, tetapi dampaknya bisa panjang.

Tabooo.id: Nasional – Burhanuddin menegaskan dirinya tidak bangga bila Kejari atau Kejati berlomba menetapkan kepala desa sebagai tersangka.

“Sudah beberapa kali saya sampaikan, jangan ada lagi kriminalisasi terhadap aparat desa. Saya tidak akan bangga kalau kalian di daerah menjadikan kepala desa adalah tersangka.”

Menurut dia, banyak kepala desa berasal dari warga biasa yang sebelumnya tidak pernah mengelola anggaran besar. Kini mereka harus memegang dana miliaran rupiah dengan tuntutan administrasi yang rumit.

“Kita bayangkan saja mereka tidak pernah memegang uang Rp1,5 miliar, kemudian pegang uang Rp1,5 miliar. Kalau tanpa pembinaan, mereka tidak tahu bagaimana mengelola uang ini.”

Pesan utamanya jelas negara harus membina, bukan langsung menghukum.

Kalau Menyalahgunakan Dana, Proses Hukum Jalan

Burhanuddin juga memberi batas tegas. Jika kepala desa memakai dana desa untuk kepentingan pribadi, aparat penegak hukum harus bertindak.

“Kecuali memang uangnya dipakai kepala desa, mungkin untuk nikah lagi atau apa. Kalau uangnya betul-betul digunakan, silakan.”

Ia membedakan dua hal yang sering bercampur kesalahan administrasi dan korupsi.

Ini Belum Selesai

Harley, Valas, dan Uang Rp145 Miliar: Jejak Korupsi Silmy Karim

Timnas Indonesia Hajar Oman 3-0, Herdman: Ini Kemenangan Kami Tunggu 38 Tahun

Ahli Hukum: Pidana Harus Jadi Jalan Terakhir

Guru Besar Hukum Pidana Universitas Jenderal Soedirman, Prof. Hibnu Nugroho, menilai hukum pidana seharusnya menjadi ultimum remedium atau jalan terakhir.

“Jika pelanggaran masih bisa selesai lewat pembinaan administratif dan pengembalian kerugian, negara tidak perlu buru-buru mempidanakan.”

Pandangan itu sejalan dengan sikap Jaksa Agung. Negara perlu membedakan niat jahat dengan ketidaktahuan teknis.

Sosiolog: Desa Sering Tersandung Sistem Rumit

Sosiolog pedesaan dari IPB University, Prof. Dwi Narwoko, menilai banyak desa tersandung bukan karena niat mencuri, melainkan karena sistem birokrasi terlalu rumit.

“Kita meminta perangkat desa bekerja seperti auditor profesional, padahal banyak dari mereka belajar sambil berjalan.”

Regulasi sering berubah cepat. Sementara itu, pelatihan kerap datang terlambat.

Pengawas Korupsi Ingatkan Risiko Celah

Peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) Kurnia Ramadhana mengingatkan bahwa dana desa tetap rawan bocor jika pengawasan melemah.

“Pendekatan pembinaan penting, tetapi jangan sampai menjadi tameng bagi pelaku korupsi.”

Karena itu, aparat harus jeli membedakan pejabat yang bingung dengan pejabat yang sengaja menyimpang.

Yang Sedang Dipertaruhkan

Ini bukan sekadar soal kepala desa. Ini soal cara negara memperlakukan pemerintahan paling dekat dengan rakyat.

Jika aparat terlalu cepat menghukum, banyak kepala desa akan takut mengambil keputusan.

Namun jika aparat terlalu longgar, korupsi bisa tumbuh diam-diam. Negara harus tegas sekaligus adil.

Closing

Ucapan Jaksa Agung membuka diskusi besar apakah hukum kita terlalu cepat menghukum, tetapi terlalu lambat membina?

Desa bukan sekadar objek pembangunan. Desa adalah tempat jutaan orang hidup dan berharap. Jika pemimpinnya takut bergerak, siapa yang akan menanggung akibatnya?

Tags: AparatBirokrasiHotel FairmontJakartaKadesKorupsi di IndonesiaKriminal & HukumprosesSistemSosiologTarget

Kamu Melewatkan Ini

Patung Pancoran: Monumen Pengorbanan atau Tamparan untuk Pemimpin?

Patung Pancoran: Monumen Pengorbanan atau Tamparan untuk Pemimpin?

by teguh
Juni 2, 2026

Di tengah badai ekonomi, ketegangan politik, dan masa depan Indonesia yang penuh ketidakpastian pada pertengahan 1960-an, Presiden Soekarno mengambil langkah...

Patung Pancoran yang Dibayar dengan Pengorbanan

Patung Pancoran yang Dibayar dengan Pengorbanan

by teguh
Juni 1, 2026

Jakarta memiliki banyak bangunan yang menjulang tinggi. Sebagian menjadi simbol kekuasaan. Lainnya tumbuh sebagai pusat ekonomi dan aktivitas masyarakat. Namun...

Patung Pancoran: Sebuah Monumen Lebih Jujur daripada Zaman yang Mengelilinginya

Patung Pancoran: Sebuah Monumen Lebih Jujur daripada Zaman yang Mengelilinginya

by teguh
Mei 31, 2026

Patung pancoran ini seakan definisi dari Indonesia? Apa yang bisa kita banggakan? Keberaniannya! Jiwa patriotisme itulah kebanggaan kita. Tabooo.id -...

Next Post
Ketika Kepala Desa Pegang Miliaran, Tapi Negara Minim Membimbing

Ketika Kepala Desa Pegang Miliaran, Tapi Negara Minim Membimbing

Madilog Series

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026
Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Mei 25, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id