Tabooo.id: Talk – Islamabad kini berubah menjadi kota dengan pengawasan ketat. Aparat Pakistan melarang hampir seluruh aktivitas warga di luar rumah menjelang perundingan sensitif antara Amerika Serikat dan Iran.
Otoritas menutup akses jalan utama dan membatasi pergerakan warga dengan izin khusus. Langkah ini menunjukkan bahwa Pakistan memilih kontrol penuh demi menjaga stabilitas agenda diplomatik global.
10.000 Aparat Menguasai Jalanan Ibu Kota
Pemerintah mengerahkan sekitar 10.000 polisi dan tentara untuk mengamankan Islamabad. Mereka menyebar ke berbagai titik strategis, memperketat pemeriksaan, dan memperkuat blokade wilayah.
Otoritas juga melarang penggunaan perangkat elektronik di sejumlah lokasi untuk mencegah potensi ancaman berbasis teknologi, termasuk risiko ledakan jarak jauh.
Diplomasi Panas di Tengah Ancaman Militer
Perundingan yang dijadwalkan Jumat malam itu menghadirkan dinamika politik tingkat tinggi. JD Vance memimpin delegasi Amerika Serikat dalam upaya meredakan ketegangan dengan Iran.
Sebelumnya, keputusan keamanan di Washington sempat bergejolak. Donald Trump mempertimbangkan opsi militer sebelum akhirnya membatalkan rencana serangan.
Pakistan Mengunci Peran sebagai Penjaga Negosiasi
Shehbaz Sharif memegang peran sentral dalam memastikan jalannya perundingan tetap terkendali. Pemerintah Pakistan tidak memberi ruang kompromi terhadap keamanan, terutama dalam pertemuan yang melibatkan dua kekuatan besar dunia.
Pihak keamanan juga menyiapkan pengamanan berlapis untuk delegasi dari kedua negara.
Jejak Kesepakatan Lama yang Belum Pulih
Dunia masih mengingat Kesepakatan Nuklir Iran (JCPOA) tahun 2015 yang lahir dari diplomasi intens pada era Barack Obama. Kesepakatan itu runtuh setelah AS menarik diri pada 2018, yang kemudian memperburuk ketegangan regional.
Kini, proses baru kembali dimulai dengan tantangan yang jauh lebih kompleks.
Dua Proposal, Satu Jurang Perbedaan
Amerika Serikat membawa 15 poin proposal yang menekan pembatasan nuklir Iran dan pengurangan pengaruh regional. Sebaliknya, Iran mengajukan 10 poin yang menuntut jaminan non-agresi, hak pengayaan uranium, serta penarikan pasukan asing dari kawasan.
Kedua pihak masih mempertahankan posisi yang saling bertolak belakang, terutama terkait isu nuklir dan keamanan regional.
Ketegangan di Lebanon ikut memperumit situasi. Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer terhadap wilayah yang terkait Hizbullah akan terus berlanjut.
Serangan yang meluas di kawasan itu memperbesar risiko kegagalan diplomasi yang sedang berlangsung di Islamabad.
Vance Jadi Sorotan, Diplomasi AS Masuk Babak Baru
Keterlibatan JD Vance menarik perhatian internasional. Ia membawa pendekatan skeptis terhadap intervensi militer, namun kini menghadapi negosiasi paling kompleks dalam karier politiknya.
Pengamat menilai perannya bisa menjadi penentu arah kebijakan luar negeri AS di masa depan, terutama jika hasil perundingan ini berdampak jangka panjang.
Damai Yang Berjalan di Atas Ketegangan
Perundingan di Islamabad menunjukkan paradoks besar dalam diplomasi modern. Negara-negara berbicara tentang damai, tetapi tetap membangun keamanan dengan pendekatan militer skala besar.
Pakistan menjaga pertemuan ini dengan kekuatan penuh, sementara dunia mengamati apakah dialog benar-benar mampu mengalahkan eskalasi. Jika negosiasi ini gagal, kawasan bisa kembali jatuh ke dalam siklus konflik yang lebih luas. @dimas







