Tabooo.id: Global – Ketika banyak negara mencoba membuka jalur damai, Iran justru memilih jalan berbeda. Teheran menutup pintu perundingan dengan Amerika Serikat dan menolak tawaran mediasi dari berbagai pihak, termasuk Indonesia. Sikap ini menandai babak baru eskalasi konflik di Timur Tengah yang semakin sulit diprediksi.
Iran Tegas: Tidak Ada Negosiasi dengan Amerika Serikat
Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menegaskan bahwa pemerintah Iran tidak akan membuka ruang dialog dengan Amerika Serikat dalam bentuk apa pun. Ia menyampaikan sikap tersebut saat ditemui di kediamannya di Jakarta, Kamis.
Boroujerdi merespons pernyataan Kementerian Luar Negeri Indonesia yang sebelumnya menyatakan kesiapan untuk memfasilitasi dialog demi meredakan ketegangan di Timur Tengah. Presiden Prabowo Subianto juga sempat menyatakan kesediaannya menjadi mediator agar konflik tidak semakin meluas.
Namun Iran menolak gagasan tersebut.
“Usulan dari pemerintah Indonesia kami hargai. Tetapi kami tidak akan melakukan negosiasi dalam bentuk apa pun dengan pihak yang kami anggap sebagai musuh. Kami sudah tidak percaya lagi pada proses negosiasi,” tegas Boroujerdi.
Pernyataan ini menunjukkan betapa dalamnya ketidakpercayaan Teheran terhadap Washington. Bagi Iran, pengalaman masa lalu membuat diplomasi dengan Amerika Serikat dianggap tidak lagi relevan.
Tiga Kali Negosiasi, Tiga Kali Kepercayaan Patah
Boroujerdi menjelaskan bahwa Iran sebenarnya tidak menutup pintu dialog sejak awal. Dalam beberapa tahun terakhir, Teheran bahkan telah mencoba berunding dengan Amerika Serikat dalam beberapa kesempatan. Namun setiap upaya itu, menurutnya, selalu berakhir dengan kegagalan.
Negosiasi pertama berkaitan dengan kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada 2015. Perjanjian itu melibatkan Iran dan sejumlah negara besar dunia yang berupaya membatasi program nuklir Iran dengan imbalan pelonggaran sanksi ekonomi.
Kesepakatan tersebut sempat menjadi simbol keberhasilan diplomasi internasional. Namun situasi berubah ketika Amerika Serikat memutuskan menarik diri dari JCPOA secara sepihak. Keputusan itu membuat hubungan kedua negara kembali memburuk.
Upaya negosiasi kedua berlangsung melalui lima putaran dialog yang bertujuan meredakan ketegangan. Tetapi menurut Boroujerdi, proses tersebut kembali gagal ketika Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran pada Juni 2025, bahkan saat pembicaraan masih berlangsung.
Negosiasi ketiga terjadi melalui jalur tidak langsung dengan Oman sebagai mediator. Delegasi Iran dan Amerika Serikat kala itu menjalani putaran dialog di Jenewa, Swiss. Namun harapan diplomasi kembali runtuh ketika operasi militer antara kedua negara pecah sebelum perundingan mencapai kesimpulan.
Rangkaian pengalaman tersebut, kata Boroujerdi, menjadi alasan utama mengapa Iran kini menolak setiap tawaran dialog baru.
Iran Pilih Jalur Konfrontasi
Setelah tiga kali perundingan berakhir tanpa hasil, Iran mengambil sikap yang jauh lebih keras. Boroujerdi menegaskan bahwa pemerintahnya tidak akan lagi membuka ruang negosiasi.
Bagi Teheran, yang dibutuhkan saat ini bukan diplomasi baru, melainkan komitmen untuk mempertahankan posisi negara.
“Ini soal komitmen terhadap sebuah negosiasi dan jaminan bahwa proses itu benar-benar dihormati sampai menghasilkan kesepakatan. Kali ini kami tidak akan menerima negosiasi apa pun. Kami akan mengejar konflik ini sampai kemenangan Iran,” ujar Boroujerdi.
Pernyataan tersebut menunjukkan perubahan strategi Iran dari diplomasi menuju konfrontasi yang lebih terbuka. Sikap ini juga membuat peluang meredakan konflik dalam waktu dekat semakin kecil.
Upaya Mediasi Dunia Terus Bermunculan
Meski Iran menolak, sejumlah negara tetap mencoba membuka jalur diplomasi. Indonesia termasuk salah satu negara yang secara terbuka menawarkan diri sebagai mediator.
Pemerintah Indonesia menilai dialog menjadi satu-satunya jalan untuk mencegah konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. Stabilitas kawasan tersebut sangat penting karena berkaitan langsung dengan keamanan energi global dan stabilitas ekonomi dunia.
Selain Indonesia, Rusia juga menyampaikan kesiapan untuk memainkan peran serupa. Presiden Rusia Vladimir Putin bahkan menawarkan diri menjadi perantara dalam komunikasi antara negara-negara yang terlibat konflik.
Menurut pernyataan Kremlin, Putin menyampaikan tawaran tersebut saat melakukan percakapan telepon dengan Presiden Uni Emirat Arab Mohammed bin Zayed Al Nahyan. Dalam pembicaraan itu, Putin juga menyinggung kekhawatiran negara-negara Teluk terhadap serangan yang terjadi di kawasan.
Namun tanpa kesediaan Iran untuk duduk di meja perundingan, berbagai tawaran mediasi tersebut kemungkinan hanya akan menjadi sinyal diplomatik tanpa hasil nyata.
Dampak Global yang Tak Terhindarkan
Ketegangan Iran dan Amerika Serikat tidak hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah. Konflik ini juga mempengaruhi stabilitas ekonomi global, terutama sektor energi.
Setiap eskalasi militer di kawasan tersebut hampir selalu memicu kenaikan harga minyak dunia. Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, biasanya merasakan dampaknya melalui lonjakan biaya energi dan tekanan terhadap harga bahan bakar.
Selain itu, ketegangan geopolitik juga dapat memicu gangguan jalur perdagangan internasional, terutama di wilayah Teluk Persia dan Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur pengiriman minyak terbesar di dunia.
Bagi masyarakat global, konflik yang terus memanas berarti risiko ekonomi yang semakin besar.
Di tengah berbagai upaya diplomasi yang masih berlangsung, satu hal kini terlihat jelas: ketika kepercayaan antarnegara sudah runtuh, meja perundingan sering kali menjadi tempat yang paling sepi.
Dan di Timur Tengah hari ini, suara senjata tampaknya masih lebih keras daripada suara diplomasi. @dimas





