Sabtu, Juli 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ini Bukan Sekadar Es di Puncak Jaya, Ini Alarm Krisis Iklim Global

by dimas
April 12, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Kita sering menganggap gletser sebagai sesuatu yang jauh, dingin, dan tidak berhubungan langsung dengan hidup sehari-hari. Namun, perlahan tapi pasti, lapisan es itu justru menghilang di depan mata kita. Lebih jauh lagi, perubahan ini bukan terjadi sesekali, melainkan berlangsung semakin cepat dari tahun ke tahun.

Gletser Dunia Masuk Fase Penyusutan Ekstrem

Menurut studi terbaru dalam Climate Chronicles dari Nature Reviews Earth & Environment edisi April 2026, kondisi gletser global menunjukkan tren yang semakin mengkhawatirkan. Selain itu, tahun 2025 tercatat sebagai salah satu tahun terburuk dalam sejarah pencatatan kehilangan es sejak 1975.

Lebih lanjut, penelitian yang melibatkan World Glacier Monitoring Service (WGMS) mencatat sekitar 408 gigaton es hilang pada 2025. Dengan demikian, angka tersebut menandai percepatan signifikan dalam satu dekade terakhir.

Sebagai perbandingan, laju kehilangan es kini hampir empat kali lebih tinggi dibandingkan akhir abad ke-20. Oleh karena itu, para peneliti menyebut situasi ini bukan lagi variasi alam biasa, melainkan perubahan sistemik.

Semua Wilayah Gletser Mengalami Tekanan Serentak

Tidak hanya itu, pada 2025 seluruh 19 wilayah gletser utama di dunia mengalami kehilangan massa bersih untuk tahun keempat berturut-turut. Sementara itu, dampak terbesar tercatat di Amerika Utara bagian barat serta Eropa Tengah.

Ini Belum Selesai

Canting Kuning: Ketika Batik Tulis Berjuang Melawan Zaman

Supersemar: Ketika Selembar Surat Mengubah Arah Republik

Di sisi lain, data jangka panjang menunjukkan bahwa dunia telah kehilangan hampir 10.000 gigaton es sejak 1975. Bahkan, hampir 80 persen dari total tersebut terjadi setelah tahun 2000. Dengan kata lain, percepatan terjadi dalam dua dekade terakhir.

Suara Ilmuwan: Perubahan Ini Sudah Tidak Lagi Lambat

Menurut peneliti Monash University, Levan Tielidze, fenomena ini sudah memasuki fase yang sangat serius. Selain itu, ia menekankan bahwa gletser adalah indikator paling jelas dari perubahan iklim global.

“Gletser adalah salah satu indikator perubahan iklim yang paling jelas, dan kita sekarang menyaksikan hilangnya es global yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Tielidze.

Lebih jauh lagi, ia menjelaskan bahwa enam tahun dengan kehilangan es paling ekstrem justru terjadi dalam tujuh tahun terakhir. Artinya, percepatan ini berlangsung sangat cepat dan konsisten.

Selain itu, ia juga menegaskan bahwa perubahan ini tidak hanya mengubah lanskap, tetapi juga memengaruhi kenaikan permukaan laut serta ketersediaan air bagi jutaan orang.

Puncak Jaya: Sinyal Paling Dekat dari Indonesia

Sementara itu, di Indonesia, kondisi serupa juga terjadi di Puncak Jaya, Papua. Gletser di kawasan Pegunungan Sudirman terus menyusut secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan data BMKG, luas es turun dari 0,23 km² pada 2022 menjadi 0,11-0,16 km² pada 2024. Dengan demikian, penurunan ini tergolong sangat cepat dalam skala geografis kecil.

Selain itu, Koordinator Bidang Standardisasi Instrumen Klimatologi BMKG, Donaldi Sukma Permana, menyampaikan bahwa gletser tersebut berpotensi hilang sebelum 2026.

“Sesuai studi kami sebelumnya, gletser di Puncak Jaya ini berpotensi hilang sebelum 2026,” ujarnya.

Oleh karena itu, Indonesia berpotensi kehilangan satu-satunya gletser tropis yang berada di garis khatulistiwa.

Twist: Bukan Sekadar Proses Alam

Pada titik ini, yang terjadi bukan hanya pencairan es biasa. Sebaliknya, ini menunjukkan bagaimana sistem iklim global sedang bergerak menuju ketidakseimbangan baru.

Dengan kata lain, gletser tidak hanya menyusut, tetapi juga mengirim sinyal bahwa suhu bumi telah memasuki fase tekanan yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Human Impact: Ini Dampaknya Buat Kamu

Akibatnya, dampak dari perubahan ini tidak berhenti di wilayah kutub atau pegunungan tinggi saja. Justru sebaliknya, efeknya akan merambat ke kehidupan sehari-hari.

Misalnya, kenaikan permukaan laut, perubahan pola cuaca, hingga gangguan ketersediaan air bersih dapat terjadi secara bertahap. Selain itu, dampak ini sering tidak disadari hingga sudah mulai terasa langsung.

Dengan demikian, krisis ini sebenarnya tidak jauh dari kehidupan kita, meskipun sering dianggap sebagai isu global yang abstrak.

Analisis Tabooo

Jika dilihat lebih dalam, fenomena ini menunjukkan bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan. Sebaliknya, ia sudah menjadi realitas yang sedang berlangsung saat ini.

Namun demikian, respons manusia masih cenderung lambat dibandingkan laju perubahan yang terjadi. Di sisi lain, kesadaran publik sering tertinggal oleh angka dan data ilmiah yang terus berkembang.

Oleh karena itu, yang menjadi persoalan bukan hanya alam yang berubah, tetapi juga cara kita memahami dan merespons perubahan tersebut.

Penutup

Pada akhirnya, pertanyaannya menjadi semakin sederhana, tetapi juga semakin berat.

Jika gletser terus menghilang secepat ini, apakah kita masih punya waktu untuk menganggapnya sekadar berita alam biasa? @dimas

Tags: bmkgDuniaIklimKrisis GlobalLingkunganPerubahan Iklim

Kamu Melewatkan Ini

Krisis Iklim yang Diam-Diam Menguras Dompet

Krisis Iklim yang Diam-Diam Menguras Dompet

by dimas
Juli 17, 2026

Krisis iklim tak hanya menaikkan suhu, tetapi juga menggerus pendapatan, kesehatan, dan biaya hidup jutaan masyarakat. Panas ekstrem kini menjadi...

Kemarau Meluas, Benarkah Indonesia Sudah Kekeringan?

Kemarau Meluas, Benarkah Indonesia Sudah Kekeringan?

by eko
Juli 14, 2026

Benarkah Indonesia sudah mengalami kekeringan? Simak cek fakta berdasarkan data BMKG mengenai musim kemarau, curah hujan rendah, serta perbedaan kemarau...

BMKG: Separuh Indonesia Masuk Kemarau, Ancaman Kekeringan Kian Meluas

BMKG: Separuh Indonesia Masuk Kemarau, Ancaman Kekeringan Kian Meluas

by eko
Juli 14, 2026

BMKG menyebut 48,9 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Sebanyak 92,64 persen wilayah diprakirakan mengalami curah hujan rendah, meningkatkan...

Next Post
Ikatan Darah: Aksi Silat atau Cermin Utang yang Mencekik?

Ikatan Darah: Aksi Silat atau Cermin Utang yang Mencekik?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id