Tabooo.id: Deep – Kita sering menganggap gletser sebagai sesuatu yang jauh, dingin, dan tidak berhubungan langsung dengan hidup sehari-hari. Namun, perlahan tapi pasti, lapisan es itu justru menghilang di depan mata kita. Lebih jauh lagi, perubahan ini bukan terjadi sesekali, melainkan berlangsung semakin cepat dari tahun ke tahun.
Gletser Dunia Masuk Fase Penyusutan Ekstrem
Menurut studi terbaru dalam Climate Chronicles dari Nature Reviews Earth & Environment edisi April 2026, kondisi gletser global menunjukkan tren yang semakin mengkhawatirkan. Selain itu, tahun 2025 tercatat sebagai salah satu tahun terburuk dalam sejarah pencatatan kehilangan es sejak 1975.
Lebih lanjut, penelitian yang melibatkan World Glacier Monitoring Service (WGMS) mencatat sekitar 408 gigaton es hilang pada 2025. Dengan demikian, angka tersebut menandai percepatan signifikan dalam satu dekade terakhir.
Sebagai perbandingan, laju kehilangan es kini hampir empat kali lebih tinggi dibandingkan akhir abad ke-20. Oleh karena itu, para peneliti menyebut situasi ini bukan lagi variasi alam biasa, melainkan perubahan sistemik.
Semua Wilayah Gletser Mengalami Tekanan Serentak
Tidak hanya itu, pada 2025 seluruh 19 wilayah gletser utama di dunia mengalami kehilangan massa bersih untuk tahun keempat berturut-turut. Sementara itu, dampak terbesar tercatat di Amerika Utara bagian barat serta Eropa Tengah.
Di sisi lain, data jangka panjang menunjukkan bahwa dunia telah kehilangan hampir 10.000 gigaton es sejak 1975. Bahkan, hampir 80 persen dari total tersebut terjadi setelah tahun 2000. Dengan kata lain, percepatan terjadi dalam dua dekade terakhir.
Suara Ilmuwan: Perubahan Ini Sudah Tidak Lagi Lambat
Menurut peneliti Monash University, Levan Tielidze, fenomena ini sudah memasuki fase yang sangat serius. Selain itu, ia menekankan bahwa gletser adalah indikator paling jelas dari perubahan iklim global.
“Gletser adalah salah satu indikator perubahan iklim yang paling jelas, dan kita sekarang menyaksikan hilangnya es global yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Tielidze.
Lebih jauh lagi, ia menjelaskan bahwa enam tahun dengan kehilangan es paling ekstrem justru terjadi dalam tujuh tahun terakhir. Artinya, percepatan ini berlangsung sangat cepat dan konsisten.
Selain itu, ia juga menegaskan bahwa perubahan ini tidak hanya mengubah lanskap, tetapi juga memengaruhi kenaikan permukaan laut serta ketersediaan air bagi jutaan orang.
Puncak Jaya: Sinyal Paling Dekat dari Indonesia
Sementara itu, di Indonesia, kondisi serupa juga terjadi di Puncak Jaya, Papua. Gletser di kawasan Pegunungan Sudirman terus menyusut secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data BMKG, luas es turun dari 0,23 km² pada 2022 menjadi 0,11-0,16 km² pada 2024. Dengan demikian, penurunan ini tergolong sangat cepat dalam skala geografis kecil.
Selain itu, Koordinator Bidang Standardisasi Instrumen Klimatologi BMKG, Donaldi Sukma Permana, menyampaikan bahwa gletser tersebut berpotensi hilang sebelum 2026.
“Sesuai studi kami sebelumnya, gletser di Puncak Jaya ini berpotensi hilang sebelum 2026,” ujarnya.
Oleh karena itu, Indonesia berpotensi kehilangan satu-satunya gletser tropis yang berada di garis khatulistiwa.
Twist: Bukan Sekadar Proses Alam
Pada titik ini, yang terjadi bukan hanya pencairan es biasa. Sebaliknya, ini menunjukkan bagaimana sistem iklim global sedang bergerak menuju ketidakseimbangan baru.
Dengan kata lain, gletser tidak hanya menyusut, tetapi juga mengirim sinyal bahwa suhu bumi telah memasuki fase tekanan yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Human Impact: Ini Dampaknya Buat Kamu
Akibatnya, dampak dari perubahan ini tidak berhenti di wilayah kutub atau pegunungan tinggi saja. Justru sebaliknya, efeknya akan merambat ke kehidupan sehari-hari.
Misalnya, kenaikan permukaan laut, perubahan pola cuaca, hingga gangguan ketersediaan air bersih dapat terjadi secara bertahap. Selain itu, dampak ini sering tidak disadari hingga sudah mulai terasa langsung.
Dengan demikian, krisis ini sebenarnya tidak jauh dari kehidupan kita, meskipun sering dianggap sebagai isu global yang abstrak.
Analisis Tabooo
Jika dilihat lebih dalam, fenomena ini menunjukkan bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan. Sebaliknya, ia sudah menjadi realitas yang sedang berlangsung saat ini.
Namun demikian, respons manusia masih cenderung lambat dibandingkan laju perubahan yang terjadi. Di sisi lain, kesadaran publik sering tertinggal oleh angka dan data ilmiah yang terus berkembang.
Oleh karena itu, yang menjadi persoalan bukan hanya alam yang berubah, tetapi juga cara kita memahami dan merespons perubahan tersebut.
Penutup
Pada akhirnya, pertanyaannya menjadi semakin sederhana, tetapi juga semakin berat.
Jika gletser terus menghilang secepat ini, apakah kita masih punya waktu untuk menganggapnya sekadar berita alam biasa? @dimas







