Sabtu, Juni 6, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ini Bukan Lagu Biasa: “rollerblade” no na Lagi Ubah Cara Dunia Dengar Indonesia

by eko
Mei 8, 2026
in Culture, Musik
A A
Home Culture
Share on FacebookShare on Twitter
Kalau semua musisi berlomba jadi “global” dengan cara yang sama, no na justru mengambil risiko berbeda. Lewat “rollerblade”, mereka tidak sekadar mengejar pasar dunia mereka membawa Indonesia ke dalamnya. Pertanyaannya, dunia siap menerima itu, atau justru hanya mau versi yang sudah dipoles?

Tabooo.id: Musik – Di tengah industri yang makin seragam, no na memilih jalur yang tidak nyaman. Mereka tidak mengikuti tren sebaliknya, mereka mencoba membentuk arah baru.

Melalui 88rising, mereka merilis “rollerblade”. Lagu ini langsung terasa seperti energi klub Jakarta yang dilempar ke panggung global liar, cepat, dan tetap berakar.

Eksperimen Musik yang Berisiko

Namun, di sinilah pertaruhannya. No na tidak bermain aman. Mereka mencampur reggaeton dengan dangdut dan gamelan. Di satu sisi, kombinasi ini terasa segar. Di sisi lain, risikonya jelas: bisa terdengar terlalu padat.

Meski begitu, justru di titik ini keberanian mereka terlihat. Alih-alih menghapus identitas lokal, mereka justru menonjolkannya. Bahkan, mereka memperbanyak lirik bahasa Indonesia. Dengan begitu, lagu ini tidak hanya global ini juga pernyataan identitas.

Di Balik Produksi Global

Untuk produksi, no na menggandeng Andrés Rebellón. Ia merancang aransemen yang dinamis dan tajam.

Ini Belum Selesai

Lirik Asli Genjer-Genjer: Lagu yang Dipaksa Memikul Dosa Politik

Film Jangan Buang Ibu: Kesepian di Balik Pengorbanan

Hasilnya terasa jelas. Beat bergerak cepat, sementara vokal mengalir fleksibel. Selain itu, perpindahan antara bahasa Inggris dan Indonesia terasa mulus, bukan sekadar tempelan.

Visual Ambisius, Bukan Sekadar Estetika

Sementara itu, visualnya ikut memperkuat cerita.

Fa & Fon menyutradarai music video dengan konsep break the fourth wall. Akibatnya, penonton tidak hanya menonton—mereka ikut masuk ke dunia no na.

Di sisi lain, Sienna Lalau merancang koreografi dengan presisi tinggi. Ia pernah bekerja dengan Justin Bieber dan BTS. Karena itu, standar performa mereka terasa global sejak awal.

Dari Viral ke Valid

Sejak debut 2025, no na terus melaju. Mereka mengumpulkan hampir setengah miliar streams dan views.

Namun, angka bukan inti cerita. Sebaliknya, arah musik mereka jauh lebih penting.

Mereka tampil di Head In The Clouds di Amerika. Selain itu, mereka juga menyiapkan album pertama. Dengan kata lain, mereka sedang membangun fondasi jangka panjang.

Global, Tapi Siapa yang Berubah?

Lalu, pertanyaan besarnya muncul.

Apakah dunia siap menerima Indonesia apa adanya? Atau justru hanya menerima versi yang sudah dipoles global?

Karena pada akhirnya, ini bukan sekadar lagu baru. Ini eksperimen identitas.

Dan jika langkah ini berhasil, no na tidak hanya menembus pasar global mereka bisa mengubah cara dunia melihat musik Indonesia.@eko

Tags: musik indonesia

Kamu Melewatkan Ini

Ketika Franky Sahilatua Menulis Luka Bangsa dari Sebuah Terminal

Ketika Franky Sahilatua Menulis Luka Bangsa dari Sebuah Terminal

by teguh
Juni 4, 2026

Suara mesin bus meraung memecah siang. Debu beterbangan mengikuti langkah para penumpang yang datang dan pergi di sebuah terminal. Matahari...

Pesawat Tempurku: Ketika Gitar Iwan Fals Menembus Langit Kekuasaan

Pesawat Tempurku: Ketika Gitar Iwan Fals Menembus Langit Kekuasaan

by teguh
Juni 2, 2026

"Musik Iwan Fals bukan sekadar hiburan pop. Ia adalah dokumen sosial yang mencatat trauma ketimpangan struktural dan salah satu karya...

Yovie: AI Bisa Bikin Lagu, Tapi Tak Punya Hati

Yovie: AI Bisa Bikin Lagu, Tapi Tak Punya Hati

by eko
Mei 22, 2026

AI bisa bikin lagu, tapi tak punya hati. Kalimat itu menjadi kegelisahan utama Yovie Widianto saat berbicara dalam sesi Music...

Next Post
Selat Hormuz Memanas, Mampukah Diplomasi Indonesia Selamatkan Kapal Pertamina?

Selat Hormuz Memanas, Mampukah Diplomasi Indonesia Selamatkan Kapal Pertamina?

Madilog Series

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026
Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Mei 25, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id