Selasa, Juni 30, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Indonesia Pimpin Dewan HAM PBB dan Rekam Jejak HAM Dipertanyakan

by dimas
Januari 8, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Di sebuah ruang konferensi di Jenewa, bendera Merah Putih berkibar sejajar dengan puluhan negara lain. Tepuk tangan terdengar rapi. Protokol berjalan presisi. Dunia menyambut Indonesia sebagai Presiden Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk tahun 2026.

Namun, jauh dari ruangan itu, ingatan lain ikut berdiri. Ingatan tentang aktivis yang aparat giring usai turun ke jalan. Ingatan tentang warga yang aparat jerat hukum karena poster dan unggahan. Juga tentang suara-suara yang negara paksa diam bukan karena salah, melainkan karena berani.

Di antara sorak diplomasi global dan luka domestik itulah Indonesia berdiri hari ini tinggi secara simbolik, tetapi rapuh secara moral.

Prestise Global dan Rekam Jejak yang Retak

Pemerintah menampilkan terpilihnya Indonesia sebagai Presiden Dewan HAM PBB sebagai buah diplomasi panjang dan terkoordinasi. Kementerian Luar Negeri memaparkan strategi multilateral, kerja perwakilan RI di luar negeri, serta konsistensi Indonesia di berbagai forum internasional.

Sekilas, semuanya tampak rapi. Namun, prestise global tak pernah hadir tanpa bayangan. Dan bayangan Indonesia adalah rekam jejak hak asasi manusia yang terus publik pertanyakan.

Ini Belum Selesai

Tabooo Hadirkan Cinema Lab, Book Club, dan Journalism Lab

TABOOO Cultural Production Hadir di Bersih Desa Winongo

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, memilih menahan ekspektasi. Baginya, kursi prestisius itu tidak otomatis menebus persoalan di dalam negeri.

“Tidak banyak yang bisa diharapkan,” ujarnya, Kamis (8/1/2026). Ia menyinggung pemenjaraan aktivis dan warga sipil hanya karena terlibat demonstrasi. Menurutnya, praktik tersebut menunjukkan bahwa persoalan HAM di Indonesia bukan cerita masa lalu, melainkan luka yang masih terbuka.

Dengan kata lain, dunia boleh melihat Indonesia sebagai pemimpin. Namun, warga di dalam negeri masih bergulat dengan rasa aman yang belum pulih.

Ketika HAM Menjadi Bahasa Asing bagi Warganya

Bagi mereka yang pernah berhadapan langsung dengan aparat, istilah “hak asasi manusia” kerap terdengar seperti bahasa asing. Konsep itu indah di dokumen internasional, tetapi terasa jauh dari pengalaman sehari-hari.

Karena itu, Usman menyoroti satu indikator paling jujur untuk menguji keseriusan negara keberanian membuka pintu bagi pelapor khusus dan ahli independen PBB untuk memeriksa situasi HAM secara objektif.

Bukan kunjungan seremonial. Bukan tur diplomatik. Melainkan pemeriksaan menyeluruh mulai dari kebebasan berekspresi, hak berkumpul, hingga rasa aman warga negara.

Di titik inilah ketegangan muncul. Negara ingin dunia menghormatinya sebagai pemimpin HAM global. Namun, di saat yang sama, negara masih cemas diawasi di rumah sendiri.

Padahal, bagi korban pelanggaran HAM, pengawasan bukan ancaman. Sebaliknya, pengawasan menjadi harapan bahwa suara mereka akhirnya dianggap cukup penting untuk dicatat.

Bahasa Negara dan Bahasa Korban

Pemerintah merespons keraguan publik melalui pernyataan resmi. Menteri Luar Negeri Sugiono menegaskan komitmen Indonesia menjalankan presidensi Dewan HAM secara imparsial, objektif, dan transparan. Ia menyebut Indonesia akan mengedepankan dialog lintas kawasan serta melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

Sementara itu, Duta Besar Sidharto Reza Suryodipuro ditunjuk memimpin seluruh sidang Dewan HAM PBB sepanjang 2026. Ia bertugas mengatur agenda, menjaga keseimbangan, dan memfasilitasi pembahasan isu-isu global.

Semua pernyataan itu terdengar ideal. Namun justru di situlah paradoksnya.

Bahasa diplomasi berbicara tentang dunia. Sementara bahasa korban berbicara tentang rumah.

Citra, Tirai, dan Ketakutan Membuka Diri

Di sinilah refleksi Tabooo menemukan pijakannya. Persoalannya bukan semata pantas atau tidak. Pertanyaannya lebih sunyi, tetapi jauh lebih tajam: mengapa negara begitu percaya diri memimpin pembicaraan HAM global, sementara masih ragu membuka ruang kritik di dalam negeri?

Sistem kerap menyukai citra. Kursi Presiden Dewan HAM PBB adalah citra yang indah. Kursi itu memberi legitimasi dan panggung. Namun, citra juga bisa berubah menjadi tirai menutup konflik, meredam desakan, dan menunda evaluasi.

Ketika negara sibuk memandu sidang di Jenewa, siapa yang memastikan rasa aman warga di Jakarta, Papua, atau daerah-daerah yang jauh dari sorotan kamera internasional?

Usman Hamid menilai evaluasi para ahli PBB sebagai alat ukur paling objektif. Pernyataan ini penting, sebab sistem hukum nasional sering terjebak pada pembelaan diri. Negara menilai dirinya sendiri, lalu menyimpulkan semuanya baik-baik saja.

Padahal, keadilan jarang lahir dari penilaian sepihak.

Kepemimpinan atau Ujian Terbuka

Presidensi Dewan HAM PBB seharusnya menjadi ujian, bukan piala. Ujian tentang keberanian membuka diri. Ujian tentang konsistensi antara kata dan laku.

Jika Indonesia benar-benar ingin dihormati, langkah paling radikal justru sederhana biarkan dunia melihat apa yang selama ini negara tutup rapat. Undang pelapor khusus. Fasilitasi pemeriksaan. Terima kritik, meski terasa pahit.

Karena kepemimpinan HAM tidak lahir dari pidato panjang, melainkan dari kesiapan bercermin.

Pertanyaan yang Tertinggal Setelah Tepuk Tangan

Pada akhirnya, kursi Presiden Dewan HAM PBB hanyalah kursi. Ia bisa menjadi alat perubahan, atau sekadar simbol yang nyaman.

Pertanyaannya bukan apakah Indonesia mampu memimpin dunia. Pertanyaannya lebih dekat dan lebih sulit apakah Indonesia berani berdamai dengan rekam jejaknya sendiri?

Sebab hak asasi manusia tidak tumbuh dari ruang sidang internasional semata. Ia tumbuh atau mati di jalanan, di ruang tahanan, di ruang dengar pendapat, dan di keberanian negara mendengar warganya.

Tahun 2026 akan berjalan. Sidang akan berganti. Pernyataan akan diarsipkan. Namun satu pertanyaan akan terus menggema, bahkan setelah bendera diturunkan:

Apakah Indonesia hanya memimpin pembicaraan tentang HAM, atau akhirnya siap mempraktikkannya tanpa syarat, tanpa pengecualian? @dimas

Tags: AktivisDemokrasidiplomasiGlobalHak Asasi ManusiaHAMInternasionaljejakKebebasanKriminal & HukumNasionalPBBSipilsorotan

Kamu Melewatkan Ini

Tiga Peserta Tewas, Latihan Militer Manajer Koperasi Dipertanyakan

Tiga Peserta Tewas, Latihan Militer Manajer Koperasi Dipertanyakan

by dimas
Juni 25, 2026

Tiga calon manajer koperasi meninggal saat latihan militer. Di balik duka, muncul pertanyaan besar tentang batas militerisme dalam ruang sipil....

Prabowo Subianto Klaim Tahu Pembayar Demo, Publik Menunggu Bukti

Prabowo Subianto Klaim Tahu Pembayar Demo, Publik Menunggu Bukti

by teguh
Juni 25, 2026

Presiden Prabowo Subianto mengaku mengetahui pihak yang diduga membiayai sejumlah aksi demonstrasi. Ia menyampaikan klaim itu saat menghadiri Puncak Pekan...

Memuliakan Kekuasaan atau Memuliakan Manusia?

Memuliakan Kekuasaan atau Memuliakan Manusia?

by dimas
Juni 21, 2026

Memuliakan kekuasaan atau memuliakan manusia? Ketika rakyat merasa terabaikan, kontrak sosial mulai retak, kepercayaan publik memudar, dan demokrasi kehilangan fondasi...

Next Post
Pilkada DPRD dan Dilema Demokrat di Tengah Kekuasaan

Pilkada DPRD dan Dilema Demokrat di Tengah Kekuasaan

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id