Tabooo.id: Global – Indonesia memastikan tidak lagi mengirimkan kontingen Satuan Tugas Maritime Task Force (MTF) untuk misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Keputusan ini disampaikan langsung Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali saat menyambut kepulangan KRI Sultan Iskandar Muda (SIM)-367 di Dermaga Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (1/2/2026).
Muhammad Ali menyatakan Satgas MTF TNI Kontingen Garuda XXVIII-P menjadi penugasan terakhir Indonesia dalam misi tersebut. Ia menegaskan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memang tidak berencana melanjutkan mandat MTF dalam struktur UNIFIL.
Keputusan ini menandai berakhirnya satu bab penting keterlibatan TNI AL dalam operasi maritim perdamaian di perairan Lebanon. Selama bertahun-tahun, Indonesia dikenal sebagai salah satu kontributor aktif pasukan laut dalam misi tersebut.
KRI Sultan Iskandar Muda Pulang Setelah 14 Bulan
KRI Sultan Iskandar Muda tiba di Indonesia setelah menjalani misi selama 1 tahun 2 bulan di Lebanon. Kapal korvet kelas SIGMA itu membawa pulang 120 prajurit, terdiri atas 105 awak kapal dan 15 personel pendukung dari berbagai unsur.
Personel pendukung meliputi pilot, flight engineer, air crew, perwira kesehatan, perwira intelijen, perwira psikologi, perwira penerangan, personel Kopaska, serta penyelam. Kepulangan mereka menutup rangkaian panjang tugas MTF TNI di bawah bendera PBB.
Selama penugasan sejak 17 Januari 2025, Satgas MTF Konga XXVIII-P menjalankan 33 kali operasi. Sekitar 70 persen di antaranya berupa patroli keamanan laut di kawasan Mediterania. Tugas tersebut difokuskan pada pengamanan perairan, pemantauan lalu lintas laut, serta pencegahan penyelundupan senjata sesuai mandat UNIFIL.
Diplomasi Laut dan Pengakuan Internasional
Selain operasi, KRI Sultan Iskandar Muda aktif menjalankan diplomasi angkatan laut. Kapal ini melaksanakan sekitar 150 kali latihan bersama dengan angkatan laut negara sahabat.
Upaya tersebut berbuah pengakuan internasional. Satgas menerima berbagai penghargaan, mulai dari Letter of Appreciation dari komandan MTF, UN Medal dari Force Commander UNIFIL, hingga medali dari Angkatan Laut Lebanon dan kontingen negara sahabat lainnya.
Bagi TNI AL, capaian ini menegaskan profesionalisme prajurit Indonesia di mata dunia. Namun, keputusan penghentian pengiriman MTF juga memunculkan pertanyaan tentang arah baru kontribusi Indonesia dalam misi perdamaian global.
Dampak bagi Indonesia dan Arah Baru Diplomasi Pertahanan
Berakhirnya penugasan MTF berarti Indonesia tidak lagi hadir dalam dimensi maritim UNIFIL. Dampaknya paling terasa bagi prajurit TNI AL yang selama ini menjadikan misi luar negeri sebagai sarana peningkatan pengalaman, kemampuan interoperabilitas, dan reputasi internasional.
Di sisi lain, pemerintah menilai langkah ini tetap sejalan dengan program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, terutama dalam memperkuat pertahanan nasional dan menjalankan politik luar negeri bebas aktif. Kontribusi Indonesia di panggung perdamaian dunia disebut akan terus berlanjut, meski dalam format dan wilayah berbeda.
Pada akhirnya, keputusan ini menunjukkan bahwa peta keterlibatan Indonesia dalam misi PBB ikut bergerak mengikuti perubahan mandat global. Pertanyaannya, apakah Indonesia sedang menyiapkan peran baru yang lebih strategis, atau justru perlahan mengurangi jejaknya di laut lepas perdamaian dunia? @dimas





