Kamis, Juli 23, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Imagine: Lagu Perdamaian yang Tak Pernah Berhenti Diperdebatkan

by eko
Juli 23, 2026
in Culture
A A
Home Culture
Share on FacebookShare on Twitter
Meski telah berusia lebih dari 50 tahun, Imagine karya John Lennon terus memicu perdebatan. Simak makna, kritik, dan alasan lagu ini tetap relevan hingga kini.


Tabooo.id – Hanya sedikit lagu yang mampu melintasi zaman seperti Imagine. Meski dirilis lebih dari setengah abad lalu, karya John Lennon itu tetap terdengar dalam upacara kenegaraan, aksi solidaritas, hingga momen duka di berbagai belahan dunia. Sebagian orang melihatnya sebagai lagu penuh harapan. Sebaliknya, sebagian lainnya menganggap lagu ini terlalu utopis, bahkan kontroversial.

Perdebatan itu tidak pernah benar-benar berakhir. Barangkali memang itulah tujuan Lennon. Ia tidak menulis Imagine agar semua orang sepakat, melainkan agar mereka berani mempertanyakan cara memandang dunia.

Lagu yang Lahir dari Dunia yang Terbelah

John Lennon merilis Imagine pada 1971, setahun setelah The Beatles bubar. Saat itu, dunia menghadapi Perang Dingin, Perang Vietnam, perlombaan senjata nuklir, serta gelombang gerakan hak sipil di berbagai negara.

Alih-alih membuat lagu dengan aransemen megah, Lennon memilih pendekatan yang sederhana. Ia memainkan piano, menyanyikan lirik yang lugas, lalu mengajak pendengar membayangkan dunia tanpa perang, tanpa batas negara, dan tanpa kepemilikan yang memicu kesenjangan.

Lagu itu dibuka dengan kalimat yang kemudian menjadi salah satu pembuka paling ikonik dalam sejarah musik.

Ini Belum Selesai

Pempek: Akulturasi Sungai Musi yang Melahirkan Kuliner Palembang

Rawon dan Cara Leluhur Menaklukkan Racun

“Imagine there’s no heaven…”

Kalimat sederhana tersebut langsung memancing perhatian sekaligus mengundang perdebatan.

Lebih dari Sekadar Lagu Perdamaian

Banyak orang mengenal Imagine sebagai lagu tentang perdamaian. Padahal, Lennon menawarkan gagasan yang jauh lebih luas.

Ia mengajak pendengar mempertanyakan konsep-konsep yang selama ini dianggap mutlak. Dalam liriknya, negara, agama, dan kepemilikan pribadi menjadi simbol batas yang sering memicu konflik antarmanusia.

Melalui pendekatan itu, Lennon mendorong pendengar membayangkan dunia yang tidak terpecah oleh identitas yang mereka bangun sendiri. Karena itulah, Imagine terasa lebih seperti ajakan berdialog daripada sekadar lagu penghibur.

Dipuji, tetapi Juga Dikritik

Popularitas Imagine selalu berjalan berdampingan dengan kritik.

Sebagian kalangan religius menilai lirik tentang dunia tanpa surga dan agama sebagai bentuk penolakan terhadap keyakinan. Di sisi lain, pendukung ekonomi liberal menganggap gagasan dunia tanpa kepemilikan pribadi terlalu idealistis dan sulit diterapkan.

Kehidupan pribadi Lennon juga memicu kritik. Banyak orang mempertanyakan konsistensinya karena ia menikmati kehidupan mewah, tetapi menyanyikan lagu tentang dunia tanpa kepemilikan.

Perdebatan itu terus muncul hingga sekarang.

Meski demikian, Lennon tidak pernah menyebut Imagine sebagai rancangan sistem politik. Ia justru menganggap lagu tersebut sebagai eksperimen pemikiran yang mengundang orang membayangkan kemungkinan lain.

Tetap Hidup di Tengah Berbagai Tragedi

Kritik tidak pernah menghalangi perjalanan Imagine. Sebaliknya, lagu ini semakin sering hadir ketika dunia menghadapi masa-masa sulit.

Masyarakat memutar Imagine setelah tragedi 11 September di Amerika Serikat, berbagai serangan teror, bencana alam, pandemi COVID-19, hingga konser amal internasional.

Setiap kali dunia mengalami luka bersama, lagu ini kembali terdengar. Lambat laun, Imagine melampaui identitas penciptanya dan berkembang menjadi simbol harapan kolektif.

Mengapa Masih Relevan?

Lebih dari lima dekade berlalu, tetapi dunia masih bergulat dengan perang, konflik identitas, polarisasi politik, dan ketimpangan ekonomi.

Banyak persoalan yang pernah dikritik Lennon tetap mendominasi pemberitaan hingga hari ini. Karena itu, Imagine masih terasa dekat dengan kehidupan masyarakat modern.

Bukan karena dunia sudah mewujudkan mimpinya.

Justru karena manusia belum berhasil mencapainya.

Lagu ini mengingatkan bahwa perdamaian bukan sekadar menghentikan perang. Perdamaian juga menuntut keberanian untuk melihat manusia sebagai sesama, bukan hanya sebagai bagian dari kelompok yang berbeda.

Musik yang Mengajak Berdialog

Tidak banyak lagu yang mampu memicu diskusi selama puluhan tahun.

Sebagian lagu bertahan karena melodinya. Sebagian lainnya hidup berkat nostalgia. Namun, Imagine terus bertahan karena pertanyaan yang dibawanya belum pernah benar-benar terjawab.

Apakah dunia tanpa batas, tanpa kebencian, dan tanpa konflik benar-benar mungkin terwujud?

Ataukah semua itu hanya mimpi seorang musisi?

Tabooo Perspective

Banyak lagu berbicara tentang perdamaian. Namun, hanya sedikit yang berani mempertanyakan akar penyebab konflik. Imagine tidak menawarkan jawaban mutlak. Sebaliknya, lagu ini mengajak setiap pendengar menguji keyakinan, nilai, dan cara pandang mereka sendiri.

Mungkin itulah alasan Imagine terus memancing perdebatan hingga sekarang. Bukan karena liriknya terlalu radikal, melainkan karena lagu ini menyentuh pertanyaan yang belum pernah selesai dijawab: apakah manusia benar-benar siap hidup berdampingan tanpa terus membangun sekat di antara mereka?@eko

Tags: ImagineJhon LennonMusikPerlawanan

Kamu Melewatkan Ini

John Lennon: Musisi Perdamaian atau Sosok yang Pernah Ditakuti Penguasa?

John Lennon: Musisi Perdamaian atau Sosok yang Pernah Ditakuti Penguasa?

by eko
Juli 23, 2026

John Lennon bukan hanya personel The Beatles. Ia menjadikan musik sebagai alat kritik sosial, menginspirasi gerakan perdamaian, dan bahkan pernah...

Agama Berhenti Melawan: Ibadah Dirayakan, tapi Suara Kritis Dibungkam?

Agama Berhenti Melawan: Ibadah Dirayakan, tapi Suara Kritis Dibungkam?

by dimas
Juli 21, 2026

Agama lahir sebagai kekuatan perlawanan terhadap ketidakadilan. Mengapa kini ritual lebih dirayakan, sementara suara kritis justru semakin dibungkam? Tabooo.id -...

Lirik Asli Genjer-Genjer: Lagu yang Dipaksa Memikul Dosa Politik

Lirik Asli Genjer-Genjer: Lagu yang Dipaksa Memikul Dosa Politik

by Tabooo
Juni 3, 2026

Excerpt: Genjer-Genjer sering dicap sebagai lagu PKI. Padahal lirik aslinya bicara tentang genjer, sawah, pasar, dapur, dan rakyat miskin yang...

Next Post
URI Diuji: Cetak Negarawan atau Wariskan Kekuasaan?

URI Diuji: Cetak Negarawan atau Wariskan Kekuasaan?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id