Tabooo.id: Edge – Bayangin kamu lagi pindahan rumah. Udah bayar tukang, beli kardus, sewa truk, tapi rumah barunya belum jadi. Nah, kira-kira begitulah vibe proyek pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) kita. Bedanya, ini bukan rumah kamu ini rumah besar bernama Indonesia, dan yang bayar ongkos pindahnya… ya, kita semua.
Mimpi Pindah Rumah yang Mahal Banget
Presiden Prabowo Subianto menargetkan IKN bisa beroperasi sebagai Ibu Kota Politik pada 2028. Targetnya sih keren, tapi anggarannya juga enggak kalah bikin kening berkerut: Rp 11,6 triliun cuma buat kawasan legislatif dan yudikatif.
Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, menjelaskan bahwa kompleks legislatif bakal dibangun di lahan seluas 42 hektare dengan biaya Rp 8,5 triliun. Proyek ini akan mencakup gedung sidang paripurna, plaza demokrasi, serambi musyawarah, museum, dan gedung kerja lainnya.
Sementara itu, kompleks yudikatif punya luas 15 hektare dengan anggaran Rp 3,1 triliun. Di situ bakal berdiri Mahkamah Konstitusi (MK), Komisi Yudisial (KY), dan Mahkamah Agung (MA). Kalau dihitung bareng, totalnya sama dengan harga 11 juta kopi susu di Senayan.
Tiga Sumber Uang, Satu Pertanyaan: “Worth It Nggak?”
Basuki bilang, duitnya bakal datang dari tiga sumber: APBN sebesar Rp 48,8 triliun (2025-2028), kerja sama pemerintah dan swasta (KPBU) senilai Rp 158,72 triliun, dan investasi swasta murni sekitar Rp 66,3 triliun. Jadi, total dana IKN bisa nyentuh lebih dari Rp 270 triliun alias lebih mahal dari semua musim sinetron “Ikatan Cinta” digabung jadi satu.
Katanya, proyek ini mulai dikerjakan November 2025 dan butuh waktu 25 bulan. Kalau lancar, 2028 nanti kita bisa punya parlemen yang view-nya bukan gedung tua di Senayan, tapi hutan tropis segar di Kalimantan. Romantis? Iya. Realistis? Ehm… mari kita lihat.
Infrastruktur Udah Siap (Katanya)
Basuki menegaskan, infrastruktur dasar udah jalan. Sekitar 7.000 pekerja tinggal di Hunian Pekerja Konstruksi (HPK), dan nanti tahap kedua bakal nambah jadi 20.000 orang. Selain gedung perkantoran, proyek juga mencakup penataan Pasar Sepaku, pembangunan Masjid Negara, dan Basilika. Semuanya ditargetkan rampung akhir 2025.
Selain itu, sumber air baku katanya aman. Bendungan Sepaku Semoi seluas 800 hektare siap menampung 16 juta meter kubik air, menyediakan 2.500 liter per detik. Dari jumlah itu, 1.500 liter/detik dialirkan ke IKN dan sisanya ke Balikpapan. Airnya bahkan bisa langsung diminum semoga bukan cuma janji politik yang bisa “diteguk”.
Pindah Alamat Negara, Tapi Tagihan ke Rakyat
Kalau kamu mikir ini semua buat “masa depan Indonesia”, ya benar. Tapi jangan lupa, masa depan itu juga datang bareng cicilan pajak dan harga bahan pokok yang terus naik.
IKN memang simbol ambisi besar, tapi juga jadi cermin klasik: pemerintah doyan mimpi megah, tapi rakyat masih harus mikir harga beras tiap minggu.
Pada akhirnya, Nusantara bisa jadi ibu kota paling futuristik di Asia kalau semua janji itu enggak kedaluwarsa kayak susu UHT di kulkas DPR. @dimas







