Tabooo.id: Talk – Coba jujur. Ramadan benar-benar dimulai karena hilal terlihat atau justru karena iklan sirup sudah lebih dulu muncul di TV dan FYP kamu?
Setiap tahun polanya hampir identik. Menjelang puasa, timeline langsung dipenuhi keluarga harmonis berbaju pastel, meja makan penuh gorengan, dan satu botol sirup merah menyala di tengahnya. Musiknya lembut, ayah pulang kerja, ibu tersenyum, anak-anak berebut gelas. Lalu logo produk muncul dengan tagline penuh makna. Selesai. Kita terharu. Padahal, yang dipromosikan sebenarnya hanya minuman manis biasa.
Menariknya, momen itu terasa sakral. Bahkan, bagi sebagian orang, kemunculan iklan tersebut justru menjadi alarm emosional bahwa Ramadan sudah dekat.
Ramadan Rasa Stroberi
Secara rasional, sirup bukan kebutuhan utama untuk berbuka. Air putih sudah cukup, kurma dianjurkan, teh hangat pun memadai. Namun dalam praktik sosial, kehadiran sirup seperti memiliki fungsi simbolik. Tanpanya, meja berbuka terasa kurang lengkap.
Di sinilah kekuatan marketing bekerja. Brand tidak sekadar menjual produk; mereka menawarkan nostalgia. Mereka membungkus memori masa kecil—suara es batu beradu, sendok berputar di gelas, dan kalimat klasik, “Tunggu azan dulu!” Dengan kata lain, yang dijual bukan rasa, melainkan perasaan.
Selain itu, konsistensi narasi dari tahun ke tahun membuat iklan sirup berubah menjadi tradisi visual. Adegan mudik, maaf-maafan, serta meja panjang penuh hidangan selalu hadir dalam format serupa. Walaupun realitas kita kadang jauh dari se-estetik itu, gambaran tersebut tetap berhasil menciptakan standar emosional tentang seperti apa Ramadan “seharusnya” terlihat.
Dari Haus Fisik ke Haus Emosional
Di satu sisi, Ramadan identik dengan refleksi spiritual: menahan lapar, menahan amarah, dan memperbaiki diri. Namun di sisi lain, bulan ini juga menjadi musim belanja, festival diskon, dan parade iklan yang membungkus religiusitas dalam kemasan komersial.
Tentu saja, fenomena ini tidak sepenuhnya negatif. Ekonomi bergerak, UMKM mendapat momentum, dan industri kreatif memperoleh proyek musiman. Artinya, Ramadan memang bukan hanya peristiwa ibadah, melainkan juga peristiwa sosial dan ekonomi.
Meski begitu, persoalan muncul ketika simbol lebih dominan daripada substansi. Ketika kita lebih sibuk memilih varian rasa dibanding memperbaiki hubungan dengan keluarga, di situlah makna mulai bergeser. Secara perlahan, kita menjadi haus bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional—haus akan validasi visual bahwa Ramadan kita terlihat sempurna.
“Ah, Namanya Juga Marketing!”
Sebagian orang mungkin akan menanggapi santai: “Itu kan cuma iklan.” Dan memang benar, tugas brand adalah menjual. Mereka mengaitkan produk dengan momen emosional karena itulah strategi paling efektif.
Lagipula, kita juga menikmati tayangannya. Kita menunggu iklan Ramadan yang menyentuh, membagikannya ke grup keluarga, bahkan membandingkan mana yang paling mengharukan. Dengan demikian, kita bukan korban pasif. Kita sadar itu strategi, tetapi tetap terlibat secara emosional.
Karena itu, masalahnya bukan pada keberadaan iklan, melainkan pada cara kita memaknainya.
Tabooo Punya Catatan
Pada akhirnya, iklan sirup hanyalah cermin. Ia memantulkan bagaimana Ramadan hari ini menjadi ruang pertemuan antara iman dan industri. Selama kita sadar akan konteksnya, tidak ada yang perlu dipermasalahkan secara berlebihan.
Namun demikian, penting untuk menjaga prioritas. Jangan sampai kita mengukur kehangatan Ramadan dari seberapa estetik meja makan atau seberapa lengkap daftar belanja. Nikmati segelas sirup dingin saat berbuka, tetapi pastikan yang berubah bukan hanya isi gelas, melainkan juga isi hati.
Singkatnya, konsumsi boleh jalan, kesadaran jangan hilang.
Jadi sekarang, coba jawab dengan jujur.
Kalau iklan sirup belum tayang, apakah kamu tetap merasa Ramadan sudah dekat?
Atau sebenarnya kamu juga menunggunya? Lalu, kamu di kubu mana? @eko




