Tabooo.id: Lifestyle – Pernah nggak sih, di tengah hari yang rasanya capek mental tapi kamu nggak tahu kenapa, tiba-tiba muncul keinginan makan sesuatu yang “berat”, berkuah, dan gurih? Bukan salad. Bukan smoothie. Melainkan semangkuk sop iga panas atau iga penyet dengan sambal yang bikin keringat langsung keluar. Aneh memang, karena cuma makan. Namun entah kenapa, sensasinya terasa seperti dipeluk pelan-pelan.
Karena itulah, sampai sekarang iga sapi tetap punya banyak penggemar.
Dari Dapur Rumah ke Konten Kuliner
Iga sapi punya dua kekuatan utama yang sulit dilawan, dagingnya tebal dan lemaknya lumer di mulut. Kombinasi ini secara biologis langsung memicu rasa senang di otak. Oleh sebab itu, berbagai olahan iga sapi terus bermunculan dan tetap relevan mulai dari sop iga khas Jawa dengan kaldu gurih yang “nendang”, iga penyet bersambal pedas nonjok, hingga asem-asem iga yang segar dan ringan.
Selain itu, media sosial ikut mendorong popularitasnya. Saat ini, konten masak iga sapi semakin sering muncul di linimasa. Ada video slow cooking berjam-jam, ada momen tulang iga copot sendiri, sampai adegan “seruput kuah pertama” yang selalu sukses memicu lapar kolektif. Menariknya, meski tren hidup sehat dan clean eating makin ramai, menu berlemak seperti iga sapi tetap bertahan dan bahkan punya tempat istimewa.
Tak hanya itu, berbagai platform resep online juga mencatat peningkatan pencarian menu berbahan dasar daging sapi terutama iga menjelang akhir pekan dan momen kumpul keluarga. Dengan demikian, iga sapi bukan sekadar makanan, melainkan sudah menjelma menjadi ritual sosial.
Kenapa Kita Selalu Balik ke Iga?
Secara psikologis, makanan berlemak dan berkuah memang memberi efek comforting. Lemak secara aktif membantu tubuh melepaskan dopamin, yaitu zat kimia otak yang memunculkan rasa senang. Sementara itu, kuah panas menghadirkan sensasi aman, familiar, dan dekat dengan memori tentang “rumah”. Karena alasan inilah, banyak orang langsung mengaitkan sop iga dengan masakan ibu atau momen kumpul keluarga.
Di sisi lain, tren memasak iga di rumah juga berkaitan erat dengan kondisi sosial. Saat ini, semakin banyak Gen Z dan milenial memilih masak sendiri baik karena pertimbangan ekonomi, kesadaran kesehatan, maupun rasa bosan jajan. Menu seperti sop iga atau asem-asem iga pun menawarkan kepuasan emosional: prosesnya panjang, hasilnya terasa “niat”, dan penyajiannya pas untuk dinikmati bersama.
Sementara itu, iga penyet menghadirkan pengalaman yang berbeda. Sambal pedas dan proses “penyet” sering terasa seperti pelampiasan emosi. Capek kerja? Penyet. Overthinking? Tambah sambal. Tanpa disadari, ada pelepasan stres kecil yang ikut keluar bersama rasa pedas dan keringat.
Menariknya lagi, meski kesadaran soal gizi dan kesehatan terus meningkat, orang-orang tidak serta-merta meninggalkan makanan seperti iga sapi. Yang berubah justru cara menikmatinya. Bukan setiap hari, melainkan di waktu tertentu. Bukan sekadar mengenyangkan perut, tetapi menciptakan pengalaman makan.
Masakan Rumah sebagai Bentuk Self-Care
Fenomena ini juga berkaitan dengan tren slow living. Memasak iga sapi jelas membutuhkan waktu: merebus sampai empuk, menunggu kaldu keluar, lalu memastikan bumbu benar-benar meresap. Di tengah dunia yang serba cepat, proses ini justru menjadi bentuk perlawanan halus. Kita belajar sabar. Kita belajar hadir.
Bagi banyak orang, memasak menu “ribet” seperti iga sapi berfungsi sebagai self-care versi domestik. Kamu tidak perlu spa mahal atau liburan jauh. Cukup dapur rumah, panci besar, dan aroma bawang tumis yang perlahan bikin hati lebih tenang.
Selain itu, masakan ini juga memperkuat hubungan sosial. Jarang ada orang memasak iga sapi hanya untuk diri sendiri. Biasanya, menu ini hadir untuk keluarga, teman serumah, atau acara kumpul. Di sana, ada nilai berbagi dan kebersamaan. Bahkan, ada jeda alami dari dunia digital karena hampir mustahil scroll ponsel sambil menyeruput kuah panas.
Jadi, Apa Dampaknya Buat Kamu?
Di tengah hidup yang semakin kompleks, pilihan makanan ternyata tidak sesederhana lapar atau kenyang. Saat kamu memilih memasak atau menyantap iga sapi, bisa jadi yang kamu cari bukan hanya rasa gurihnya, tetapi juga rasa tenang, rasa terhubung, dan rasa “cukup”.
Sekarang, coba tanyakan ke diri sendiri kapan terakhir kali kamu benar-benar menikmati makanan tanpa terburu-buru? Tanpa menghitung kalori lebih dulu. Tanpa sambil membuka notifikasi.
Pada akhirnya, sesekali menikmati sop iga panas atau iga penyet pedas bukan berarti kamu mengabaikan pola hidup sehat. Sebaliknya, itu bisa menjadi cara sederhana untuk menjaga kesehatan mental. Karena hidup, seperti iga sapi yang enak, memang butuh lemak dalam batas wajar dan momen untuk berhenti sejenak.
Dan jika dari semangkuk iga sapi kamu bisa merasa sedikit lebih manusia, mungkin itu sudah lebih dari cukup. (red)




