Selasa, Juni 30, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Hari Pers Nasional: Saat Jurnalisme Diuji Disinformasi

by dimas
Februari 9, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Talk – Coba jujur sebentar. Kapan terakhir kali kamu baca berita sampai habis, bukan cuma judulnya? Atau lebih parah, kapan terakhir kali kamu share sesuatu karena kelihatannya “ramai”, bukan karena kamu yakin itu benar?

Tenang, kamu nggak sendirian. Di Hari Pers Nasional, 9 Februari 2026 ini, kita justru merayakan profesi yang lagi berada di tengah badai jurnalisme, di era ketika hoaks tampil lebih menarik daripada fakta, dan propaganda datang dengan desain estetik plus caption meyakinkan.

Ironis? Banget.

Lebih dari setengah dekade lalu, peneliti Universitas Oxford sudah kasih peringatan. Mereka menemukan pasukan siber dan propaganda komputasi beroperasi di lebih dari 80 negara. Bukan kerjaan iseng. Ini industri. Terorganisasi. Dibiayai. Dan cuannya bisa puluhan juta dolar. Disinformasi bukan lagi gangguan kecil, tapi mesin politik dan ekonomi yang serius.

Dan ya, Indonesia ada di dalam peta itu.

Ini Belum Selesai

Apakah Sistem Listrik Indonesia Sedang Menuju Krisis?

Indonesia Kaya Budaya, Tapi Kita Terlalu Haus Validasi Asing?

Fakta dan Manipulasi Duduk di Meja yang Sama

Di ruang digital Indonesia hari ini, fakta dan manipulasi sering duduk di meja yang sama tanpa name tag. Keduanya sama-sama viral. Sama-sama emosional. Sama-sama dibungkus narasi “demi kepentingan publik”.

Penelitian terbaru menunjukkan, Indonesia juga punya industri disinformasi sendiri. Pasukan siber bekerja rapi, terencana, dan bayaran. Mereka tidak selalu pakai akun anonim norak. Banyak yang tampil “intelek”, kelihatan kritis, bahkan mengaku peduli demokrasi.

Yang bikin kaget, latar belakang mereka bukan cuma buzzer karbitan. Ada jurnalis, aktivis, akademisi, bahkan aparatur negara. Pendidikan mereka tinggi. Artinya, masalahnya bukan sekadar literasi rendah. Masalahnya ada pada pilihan etika.

Di titik ini, kita harus jujur: disinformasi bekerja karena ia memahami emosi publik lebih baik daripada jurnalisme.

Media Arus Utama Kadang Ikut Terseret

Ini bagian yang agak nggak nyaman dibahas, tapi perlu. Pasukan siber tidak selalu berhadapan langsung dengan media arus utama. Kadang, media justru ikut memperkuat narasi mereka.

Konten viral hasil kerja pasukan siber sering dianggap sebagai “suara publik” yang layak diliput. Media datang dengan niat mengoreksi, memverifikasi, atau meluruskan. Tapi propaganda sudah menang satu langkah lebih dulu.

Karena kebohongan yang diulang-ulang, apalagi dikemas emosional, akan lebih cepat melekat di kepala publik daripada klarifikasi yang datang belakangan. Verifikasi kalah cepat dari viral. Logika kalah oleh algoritma.

Dan di situlah jurnalisme sering terjebak ikut lomba kecepatan di lintasan yang memang dirancang untuk kebohongan.

Tapi Bukankah Media Juga Harus Relevan?

Argumen lawan tentu ada. Media hidup dari perhatian publik. Kalau tidak mengangkat isu viral, media dianggap ketinggalan. Kalau tidak masuk percakapan digital, media dianggap elitis.

Argumen ini valid. Tapi ada bedanya antara relevan dan reaktif. Ada selisih tipis antara membaca realitas publik dan tunduk pada skenario pasukan siber.

Jurnalisme tidak wajib memunggungi media sosial. Tapi jurnalisme juga tidak boleh kehilangan otonomi hanya demi klik.

Kembali ke Jurnalisme yang Niatnya Jelas

Di Hari Pers Nasional ini, mungkin kita perlu berhenti sebentar dan bertanya pers mau ke mana?

Jurnalisme berkualitas tidak harus selalu paling cepat. Ia harus paling jernih. Ia tidak harus selalu mengikuti tren. Ia justru perlu mengungkap isu yang sengaja ditutupi tren.

Liputan investigatif, jurnalisme data, laporan kebijakan yang menunjukkan dampak nyata bagi warga semua itu memang tidak selalu viral. Tapi justru di situlah nilai pers bekerja.

Ketika media menghindari bingkai propaganda, menambahkan konteks, menjelaskan proses peliputan, dan berani mengambil sudut pandang berbeda, ruang gerak industri disinformasi menyempit.

Dan kepercayaan publik yang hari ini compang-camping pelan-pelan bisa kembali.

Pers, Publik, dan Pilihan Kita

Disinformasi tumbuh bukan cuma karena algoritma. Ia tumbuh karena krisis kepercayaan. Karena publik lelah, marah, dan sinis. Karena informasi terasa sebagai alat, bukan lagi layanan.

Di titik ini, pers punya pilihan. Ikut arus atau jadi jangkar. Ikut memproduksi kebisingan atau membantu publik bernapas.

Hari Pers Nasional seharusnya bukan sekadar seremoni. Ia mestinya jadi momen refleksi apakah media hari ini masih berdiri di sisi publik, atau sudah terlalu nyaman bermain di wilayah abu-abu?

Karena demokrasi butuh ruang publik yang rasional. Dan ruang itu tidak akan bertahan tanpa jurnalisme yang berani jujur bahkan ketika kejujuran tidak sedang viral.

Lalu, kamu di kubu mana? Pembaca yang cuma scroll, atau warga yang ikut menjaga ruang publik tetap waras? @dimas

Tags: 2026DemokrasiDigitalDisinformasiHoaksJurnalismeKebebasanKepercayaanLiterasiMediaNasionalPersSosial & Publik

Kamu Melewatkan Ini

Arief Rahman: Dari Magetan ke Panggung Media Nasional

Arief Rahman: Dari Magetan ke Panggung Media Nasional

by dimas
Juni 29, 2026

Kisah inspiratif Arief Rahman, putra Magetan yang menapaki dunia jurnalistik hingga menjadi salah satu tokoh media digital di Indonesia. Tabooo.id...

Prabowo Subianto Klaim Tahu Pembayar Demo, Publik Menunggu Bukti

Prabowo Subianto Klaim Tahu Pembayar Demo, Publik Menunggu Bukti

by teguh
Juni 25, 2026

Presiden Prabowo Subianto mengaku mengetahui pihak yang diduga membiayai sejumlah aksi demonstrasi. Ia menyampaikan klaim itu saat menghadiri Puncak Pekan...

Memuliakan Kekuasaan atau Memuliakan Manusia?

Memuliakan Kekuasaan atau Memuliakan Manusia?

by dimas
Juni 21, 2026

Memuliakan kekuasaan atau memuliakan manusia? Ketika rakyat merasa terabaikan, kontrak sosial mulai retak, kepercayaan publik memudar, dan demokrasi kehilangan fondasi...

Next Post
Pasar Pundensari, Wisata Budaya yang Menggerakkan Ekonomi Desa

Pasar Pundensari: Merawat Budaya dan Menghidupi Warga

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id