Ada pengakuan yang datang tepat waktu. Ada pula yang baru hadir setelah delapan dekade. Hari ini, Senin (13/7/2026), Indonesia untuk pertama kalinya memperingati Hari Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Momentum ini menandai perjalanan panjang para penghayat kepercayaan dalam memperjuangkan ruang yang setara di negeri yang sejak awal mengaku berdiri di atas keberagaman.
Tabooo.id – Indonesia selalu membanggakan keberagamannya. Bangsa ini mengajarkan toleransi sejak sekolah dan menjadikan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan nasional. Namun, perjalanan menuju pengakuan ternyata tidak berlangsung sama bagi semua warga negara.
Selama puluhan tahun, para penghayat kepercayaan tetap menjalankan ritual, merawat tradisi, dan menjaga nilai-nilai leluhur. Mereka tidak pernah berhenti mempraktikkan keyakinannya. Yang mereka tunggu justru pengakuan resmi dari negara.
Hari ini, pemerintah akhirnya membuka babak baru.
Melalui Keputusan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 135 Tahun 2026, pemerintah menetapkan 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Keputusan itu tidak hanya menambah satu tanggal dalam kalender nasional, tetapi juga memperkuat komitmen negara untuk menghormati seluruh bentuk keyakinan yang hidup di Indonesia.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa hari peringatan ini mengingatkan seluruh masyarakat bahwa Indonesia berdiri di atas fondasi keberagaman, toleransi, dan penghormatan terhadap martabat setiap warga negara.
“Negara hadir untuk memastikan setiap warga negara mempunyai ruang yang setara dalam menjalankan keyakinan, melestarikan tradisi, dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi penerus,” kata Fadli Zon.
Ia juga berharap penetapan hari peringatan tersebut mampu memperkuat pengakuan, penghormatan, pelindungan, serta pemajuan kebudayaan nasional yang inklusif dan berkelanjutan.
Mengapa Memilih 13 Juli?
Pemerintah memilih 13 Juli karena tanggal itu menyimpan makna sejarah yang penting.
Pada 13 Juli 1945, Mr. Wongsonegoro mengusulkan frasa “dan Kepercayaannya” dalam sidang BPUPKI dan PPKI. Usulan itu membuka jalan bagi pengakuan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam kehidupan berbangsa.
Kini, tepat 81 tahun kemudian, Indonesia mengabadikan momen tersebut melalui hari peringatan nasional.
Lebih dari Sekadar Tanggal Baru
Hari Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa bukan sekadar agenda seremonial.
Keputusan ini mengingatkan publik bahwa keberagaman Indonesia tidak hanya lahir dari banyaknya agama, tetapi juga tumbuh dari berbagai tradisi spiritual yang hidup di Nusantara jauh sebelum republik berdiri.
Para penghayat kepercayaan selama ini terus menjaga hutan adat, situs budaya, ritual leluhur, serta nilai-nilai yang membentuk identitas bangsa. Mereka tidak pernah berhenti merawat warisan itu, meski perjalanan menuju pengakuan berlangsung sangat panjang.
Kini, negara memberi ruang yang lebih jelas bagi mereka dalam sejarah Indonesia.
Kesimpulan
Indonesia sering menyebut dirinya rumah bagi semua.
Namun, rumah yang baik tidak hanya membuka pintu. Rumah yang baik juga memastikan setiap penghuninya merasa diakui.
Hari Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa mengajarkan bahwa toleransi tidak berhenti pada slogan. Toleransi hidup ketika negara menghormati setiap warga tanpa meminta mereka menjadi seragam.
Setelah 81 tahun, yang akhirnya hadir bukan sekadar hari peringatan. Yang akhirnya hadir adalah pengakuan bahwa keberagaman Indonesia selalu lebih besar daripada yang selama ini terlihat.
Karena pada akhirnya, bangsa yang besar bukan bangsa yang memaksa semua orang memiliki keyakinan yang sama.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghormati setiap cara manusia mencari makna hidupnya.@eko






