Hari ASI Sedunia mengingatkan bahwa di balik setetes ASI, ada sejuta perjuangan ibu yang membutuhkan dukungan dari semua pihak.
Tabooo.id – Tangisan pertama seorang bayi selalu membawa harapan baru. Pada saat yang sama, seorang ibu memulai perjuangan yang jarang terlihat. Ia menyusui, begadang, memulihkan tubuh, sekaligus menghadapi tekanan sosial yang tidak sedikit. Dari momen itulah kehidupan baru bertumbuh melalui Air Susu Ibu (ASI).
Karena itu, dunia memperingati Hari ASI Sedunia (World Breastfeeding Day) setiap 1 Agustus. Peringatan tersebut juga membuka rangkaian Pekan ASI Sedunia (World Breastfeeding Week) yang berlangsung hingga 7 Agustus.
Kampanye global ini mengajak masyarakat mendukung praktik menyusui sekaligus mengingatkan bahwa ASI bukan sekadar makanan pertama bayi. ASI menjadi fondasi kesehatan, kecerdasan, dan kualitas hidup manusia sejak hari pertama.
Namun, satu pertanyaan masih menggantung. Jika semua orang mengakui pentingnya ASI, mengapa banyak ibu masih harus berjuang sendirian?
Sebuah Deklarasi yang Mengubah Cara Dunia Melihat ASI
Gerakan Hari ASI Sedunia berawal dari Deklarasi Innocenti yang lahir pada 1 Agustus 1990 di Florence, Italia. Saat itu, WHO dan UNICEF mengumpulkan para pembuat kebijakan untuk memperkuat perlindungan terhadap praktik menyusui.
Deklarasi tersebut mendorong setiap negara menyusun kebijakan yang mendukung ibu menyusui. Pemerintah diminta memperbaiki layanan kesehatan, meningkatkan edukasi, serta menciptakan lingkungan yang ramah bagi ibu dan bayi.
Setahun kemudian, berbagai organisasi membentuk World Alliance for Breastfeeding Action (WABA). Organisasi itu kemudian memprakarsai World Breastfeeding Week sejak 1992.
Kini, lebih dari 170 negara mengikuti kampanye tersebut setiap tahun. Selain itu, World Health Assembly (WHA) pada 2018 mengakui Pekan ASI Sedunia sebagai bagian penting dari strategi promosi kesehatan dunia.
Setiap tahun, kampanye ini mengangkat tema yang berbeda. Beberapa tema menyoroti dukungan di tempat kerja, perlindungan ibu menyusui, kebijakan publik, hingga keberlanjutan lingkungan.
ASI Memberi Lebih dari Sekadar Nutrisi
Banyak orang mengenal ASI sebagai makanan pertama bayi. Padahal, manfaatnya jauh melampaui itu.
ASI mengandung nutrisi lengkap, antibodi, hormon, dan enzim yang membantu pertumbuhan tubuh sekaligus perkembangan otak bayi. Karena itu, WHO merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama. Setelah itu, ibu dapat melanjutkan pemberian ASI bersama makanan pendamping hingga anak berusia dua tahun atau lebih.
Manfaat tersebut juga dirasakan ibu. Menyusui membantu menurunkan risiko kanker payudara, kanker ovarium, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung.
Dengan kata lain, satu proses alami ini melindungi dua generasi sekaligus.
Dukungan Menentukan Keberhasilan Menyusui
Sayangnya, keberhasilan menyusui tidak hanya bergantung pada ibu.
Keluarga memegang peran penting. Tenaga kesehatan harus memberikan pendampingan. Tempat kerja perlu menyediakan ruang laktasi. Pemerintah juga wajib menghadirkan kebijakan yang melindungi hak ibu menyusui.
Tanpa dukungan tersebut, banyak ibu menghadapi tantangan yang berat.
Sebagian harus kembali bekerja terlalu cepat. Sebagian lain kesulitan memerah ASI karena fasilitas yang terbatas. Tidak sedikit pula yang menghadapi komentar negatif ketika menyusui di ruang publik atau menerima berbagai mitos yang tidak berdasar.
Akhirnya, banyak ibu memikul beban yang sebenarnya menjadi tanggung jawab bersama.
Ini Bukan Sekadar Perayaan, tetapi Cermin Kepedulian Sebuah Bangsa
Hari ASI Sedunia bukan sekadar agenda tahunan. Momentum ini mengukur seberapa serius sebuah bangsa melindungi ibu dan anak.
Bangsa yang benar-benar peduli tidak hanya mengajak ibu menyusui. Bangsa itu juga menyediakan ruang, waktu, kebijakan, dan dukungan agar ibu dapat menjalankan proses tersebut dengan tenang.
Di sinilah makna Hari ASI Sedunia menjadi semakin penting. Kampanye ini mengingatkan semua pihak bahwa keberhasilan menyusui lahir dari kolaborasi, bukan perjuangan seorang ibu semata.
ASI adalah Hak Anak, Dukungan adalah Tanggung Jawab Kita
Setiap bayi berhak memperoleh nutrisi terbaik sejak lahir. Namun, hak itu hanya bisa terwujud ketika masyarakat ikut menjaga ibu yang menyusui.
Hari ASI Sedunia akhirnya mengajarkan satu hal sederhana. Menyusui bukan hanya urusan seorang ibu. Menyusui merupakan investasi kesehatan, pendidikan, dan masa depan sebuah bangsa.
Sebab, kualitas generasi mendatang tidak hanya dimulai dari ruang kelas. Semua itu bermula dari pelukan pertama seorang ibu dan setetes ASI yang mengalir dengan penuh kasih. @dimas





