Selasa, November 3, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Pakoe Boewono XIV: Antara Darah Biru dan Zaman Baru

by Anisa
November 9, 2025
in Deep
A A
Home Deep

Tabooo.id: Deep – Namanya panjang, mengalun seperti mantra: Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamangkunegoro Sudibyo Rajaputra Narendra Mataram.
Tapi di balik nama itu, masih ada seorang anak muda yang sedang belajar hukum, yang kadang menulis puisi, yang tiba-tiba harus menanggung sejarah.

“Takhta itu bukan hadiah. Ia adalah cermin dan kadang, kutukan.”

–Catatan harian seorang abdi dalem, 2025–

Tapi di balik nama itu, masih ada seorang anak muda.
Yang belum selesai memahami dunia, tapi tiba-tiba harus menanggung sejarah.

KGPAA Hamangkunegoro adalah lulusan Semesta School, sekolah bilingual boarding di Semarang.
Ia menempuh pendidikan di sana sejak 2014 hingga 2020,
lalu melanjutkan studi S1 Hukum di Universitas Diponegoro (Undip),
dan kini tengah menempuh S2 di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Masih dalam perjalanan kuliahnya, pada 27 Februari 2022,
ia diangkat menjadi Putra Mahkota Keraton Surakarta Hadiningrat
sebuah peralihan hidup yang datang lebih cepat dari yang bisa ia pahami.


Pagi yang Berhenti di Solo

Pagi itu, Solo berhenti sejenak.
Langit di atas Keraton Surakarta tampak murung,
seperti menahan sesuatu yang berat.

Bendera setengah tiang berkibar pelan,
diiringi suara kentongan yang menggema dari balik tembok tua keraton.
Sinuhun Pakubuwono XIII telah berpulang.

Ini Belum Selesai

Kapolres Sukoharjo Dicopot Usai Penggeledahan Ponpes, Ini Kronologi Lengkapnya

Kenduri Dawet: Etika Masyarakat Jatinom dalam Merawat Alam

Di balik tirai batik pendapa, seorang pemuda duduk diam.
Sorot matanya tajam tapi lembut
seolah tahu, setelah hari itu, dunia tak akan sama.

Usianya baru 22 tahun. Dan kini, semua mata tertuju padanya: sang pewaris, sang putra mahkota,
bayangan masa depan dari kerajaan tua yang menua bersama waktu.


Di Antara Sejarah dan Relevansi

Keraton Surakarta bukan sekadar bangunan tua.
Ia adalah nadi yang masih berdetak dari peradaban Jawa,
tapi napasnya kini tersengal di antara modernitas dan simbolisme.

Sejak perpecahan Kasunanan dan Mangkunegaran di abad ke-18,
lalu luka panjang pasca wafatnya Pakubuwono XII,
keraton hidup dalam dua wajah:
yang satu sakral, yang satu politis.

Takhta yang dulu dijaga dengan doa dan mantra,
kini dijaga dengan tafsir media dan legitimasi publik.

Dalam lanskap Indonesia hari ini
ketika monarki tinggal simbol budaya
menjadi raja tak lagi berarti memimpin rakyat.
Ia berarti menjaga makna.

Dan menjaga makna, kadang lebih berat daripada memegang kekuasaan.


Di Balik Nama, Ada Anak Muda

Sebelum semua gelar panjang itu melekat,
ia hanyalah Gusti Raden Mas Suryo Mustiko.

Anak muda yang suka bermain gitar.
Yang menulis puisi tentang kehilangan di buku catatan kampus.
Yang duduk di taman Undip sore-sore,
memandang langit tanpa tahu bahwa sejarah sedang berjalan ke arahnya.

“Dia nggak banyak bicara soal asalnya,” kata seorang teman.
“Tapi ada sesuatu di matanya. Semacam beban, tapi juga ketenangan.”

Sejak dinobatkan sebagai Putra Mahkota,
hidupnya terbagi dua:
dunia kampus yang rasional, dan dunia keraton yang penuh simbol dan tata laku.

Satu menuntut logika.
Satu menuntut laku.
Dan di antara keduanya, ia berdiri diam, tapi tegak.

Dalam upacara adat, ia belajar bahasa tubuh yang nyaris punah:
cara menunduk, cara melangkah, cara menatap tanpa menyinggung.
Di luar itu, ia membaca tentang hukum, hak asasi, dan demokrasi.

Dua dunia itu bertabrakan di dalam dirinya.
Dan mungkin di sanalah pergulatan sejatinya terjadi
antara darah biru dan kesadaran modern.
Antara sejarah dan keinginan untuk menjadi dirinya sendiri.

Kadang, setelah semua tamu pulang, ia duduk di serambi belakang keraton, menatap senja Solo. Langitnya oranye, heningnya panjang.
Mungkin di sanalah, ia bernegosiasi dengan takdir.


Apa yang Disembunyikan Sistem?

Keraton sering dianggap tempat paling tenang.
Padahal di dalamnya, dunia bergemuruh bisikan, intrik, garis keturunan, pertarungan simbol yang tak pernah selesai.

Selama dua dekade terakhir, publik tahu luka itu: dua versi “raja”, dua versi “kebenaran”.
Dan di tengah bayangan itu, lahirlah Hamangkunegoro anak muda yang tak hanya mewarisi nama, tapi juga sistem yang sedang mencari makna baru.

Negara sudah lama tak mengakui kekuasaan politik keraton,
tapi masyarakat masih menunduk hormat.
Tradisi hidup dalam kenangan, bukan dalam struktur.

Lalu apa makna “raja” di abad ke-21?
Apakah sekadar penjaga museum budaya?
Atau jembatan antara masa lalu dan masa depan yang kian bising?

Tabooo.id percaya:
yang disembunyikan sistem bukan sekadar politik,
melainkan keterasingan manusia di dalam tradisi.

Kita sering memuja budaya, tapi lupa melihat beban di baliknya. Kita menuntut para penerus “menjaga warisan”,
tanpa sadar bahwa menjaga juga berarti memikul luka yang belum sembuh.

Hamangkunegoro, di usia dua puluh dua, menanggung sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri ekspektasi sejarah.

Dan di matanya mungkin terpantul pertanyaan besar zaman ini: bagaimana menjadi modern tanpa kehilangan akar? Bagaimana menghormati akar tanpa terperangkap di dalamnya?

Keraton adalah panggung kecil dari pertanyaan besar bangsa:
Apakah kita benar-benar sudah berdamai dengan masa lalu?
Atau kita hanya menundanya dalam upacara dan gelar?


Takhta yang Sunyi

Malam tiba di Solo. Lampu minyak dinyalakan satu per satu di pelataran keraton. Bayangan bangsal menari di dinding.
Waktu berjalan pelan, seolah menghormati kesedihan.

Di kamar yang senyap, pemuda itu membuka kitab tua peninggalan leluhur. Di sampulnya tertulis aksara Jawa:
“Hamemayu Hayuning Bawana” memperindah dunia.

Mungkin itu doa yang diwariskan turun-temurun. Tapi di dunia yang cepat dan keras ini, memperindah dunia tak lagi berarti menaklukkan.
Kadang cukup dengan mendengar, belajar, mengakui luka.

Hamangkunegoro bukan sekadar pewaris takhta. Ia adalah wajah generasi muda yang mencoba memahami tradisi
tanpa kehilangan diri.

Besok, Solo akan ramai.
Akan ada upacara, liputan media, penghormatan adat.
Tapi malam ini, sebelum semua gelar disematkan,
mungkin ia hanya ingin jadi Suryo Ario Mustiko lagi
seorang anak muda yang menatap masa depan dengan tenang,
di dunia yang tak lagi percaya pada raja.

Sebab kadang, pewaris sejati bukan yang dilahirkan untuk berkuasa,
tapi yang berani menanggung sepi tanpa kehilangan cahaya.

Dan esok hari, saat matahari menyentuh gapura keraton,
ia akan dipanggil dengan nama baru:
Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Pakoe Boewono XIV.

Raja muda yang lahir dari dua dunia dari sunyi dan sorak, dari sejarah dan masa depan. Sang Raja Milenial, yang mungkin tak ingin memerintah, tapi ingin memahami. (Sigit)

Tags: KGPAA HamangkunagoroPB XIIIputra mahkotaRaja BaruSolotahta

Kamu Melewatkan Ini

Museum ke Hotel: Budaya Solo atau Pajangan Wisata?

Museum ke Hotel: Budaya Solo atau Pajangan Wisata?

by teguh
Oktober 13, 2026

Museum tak harus menunggu pengunjung datang. Kali ini, koleksi sejarah dan budaya Solo yang biasanya tersimpan di gedung museum justru...

Patriot Bengawan Bidik Posisi Kedua PORPROV Jateng

Patriot Bengawan Bidik Posisi Kedua PORPROV Jateng

by eko
Oktober 8, 2026

Patriot Bengawan siap berlaga di PORPROV Jateng 2026. Kontingen Surakarta membidik posisi kedua dengan target 95 medali emas. Tabooo.id: Surakarta...

Api Padam, Panas Belum Pergi: Apa yang Sebenarnya Terjadi di TPA Putri Cempo?

Api Padam, Panas Belum Pergi: Apa yang Sebenarnya Terjadi di TPA Putri Cempo?

by teguh
September 25, 2026

Api kembali muncul di TPA Putri Cempo, Solo, Kamis 24/9/2026. Petugas sebelumnya terus membasahi titik panas setelah kebakaran besar melanda...

Next Post
Ramalan, Reels, dan Rasa Takut: Nostradamus Masih Hidup di Layar Kita

Ramalan, Reels, dan Rasa Takut: Nostradamus Masih Hidup di Layar Kita

Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id