Tabooo.id: Regional – Pos Pengamat Gunung Api (PGA) Ile Lewotolok melaporkan aktivitas vulkanik meningkat signifikan. Pada Selasa (6/1/2026), gunung setinggi 1.423 meter di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) meletus sebanyak 218 kali. Ratusan gempa letusan terekam sepanjang pukul 00.00 Wita hingga 24.00 Wita dengan amplitudo 13,7 hingga 35,2 mm dan durasi 35-99 detik. Petugas Pos PGA, Syawaludin, menyebut letusan itu disertai gemuruh lemah yang terdengar di sekitar kawah.
Kolom Abu dan Warna Asap
Pengamatan visual menunjukkan tinggi kolom abu mencapai 200-500 meter dengan warna putih dan kelabu. Kawah puncak terlihat jelas, dengan kabut tipis (0-I) hingga sedang (0-II). Asap bertekanan lemah menyembur setinggi 50-100 meter di atas puncak, dengan intensitas tipis hingga sedang.
Cuaca di sekitar puncak gunung berawan, mendung, dan hujan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur laut dan timur, dengan suhu udara 26–29 derajat Celsius. Kombinasi kondisi ini berpotensi mempengaruhi penyebaran abu vulkanik ke permukiman sekitar.
Peringatan untuk Warga dan Wisatawan
Syawaludin mengimbau masyarakat setempat dan wisatawan untuk menghindari radius 2-2,5 kilometer dari kawah.
“Hingga kini, status Ile Lewotolok berada di level II waspada. Warga di sekitar dan pengunjung harus mematuhi arahan petugas,” ujarnya, Rabu (7/1/2026).
Dampak Sosial dan Ekonomi
Erupsi berulang ini tidak hanya mengancam keselamatan, tetapi juga berpotensi menimbulkan gangguan ekonomi, terutama bagi petani, nelayan, dan pelaku pariwisata lokal. Penyebaran abu dapat merusak lahan pertanian dan menutup akses transportasi, sementara wisatawan terpaksa menunda kunjungan ke pulau Lembata.
Refleksi Publik
Meskipun tampak ada jeda letusan, Ile Lewotolok mengingatkan bahwa gunung berapi tidak bisa diprediksi sepenuhnya. Dalam konteks NTT, ancaman alam selalu hadir berdampingan dengan aktivitas ekonomi masyarakat dan waspada bukan sekadar pilihan, tapi kewajiban. @dimas




