Tabooo: Regional – Program pencarian jodoh bertajuk Special Sahabat Zayed Golek Garwo 3 kembali menyedot perhatian publik. Panitia menggelar acara ini di Masjid Raya Sheikh Zayed pada 28 Februari hingga 1 Maret 2026. Ribuan peserta datang dari berbagai daerah, membuktikan satu hal: urusan hati tetap jadi prioritas, apalagi di bulan Ramadan.
Panitia pertama kali mengadakan Golek Garwo pada Maret 2025. Saat itu, Ramadan juga menjadi momentum utama. Tahun ini, pengelola masjid mempertahankan konsep yang sama. Direktur Masjid Raya Sheikh Zayed Solo, Munajat, menegaskan hal itu.
“Semuanya masih sama persis, paling cuma ada modifikasi sedikit di peraturan,” ujarnya kepada Tabooo.id, Sabtu (28/2/26).
Seribuan Peserta Padati Lokasi
Panitia mencatat sekitar seribu orang mendaftar untuk mengikuti Golek Garwo 3. Pada sesi pertama, 580 peserta langsung hadir di lokasi. Mereka datang dari berbagai kota di Indonesia, dan mayoritas berasal dari Jawa Tengah.
Angka ini menunjukkan realitas sosial yang tak bisa diabaikan. Banyak lajang usia produktif kesulitan menemukan pasangan lewat jalur konvensional. Kesibukan kerja, lingkar pergaulan yang sempit, hingga tekanan sosial mendorong mereka mencari alternatif.
Alih-alih mengandalkan aplikasi kencan, sebagian peserta memilih forum tatap muka yang terkurasi dan bernuansa religius. Mereka ingin proses yang lebih terarah, lebih aman, dan lebih serius.
Tanpa Biaya, Panitia Tanggung Hingga Akad
Panitia tidak memungut biaya apa pun dari peserta. Relawan mendukung seluruh rangkaian kegiatan agar peserta bisa fokus mengikuti proses.
“Pada pelaksanaan ini tidak ada biaya sama sekali, semua dibantu relawan,” jelas Munajat.
Lebih dari itu, pihak masjid juga menanggung dana dan persiapan akad nikah dengan dukungan sponsor. Jadi, jika peserta menemukan pasangan yang cocok, panitia siap membantu hingga prosesi resmi berlangsung.
Di tengah mahalnya biaya pernikahan, langkah ini jelas meringankan beban calon pengantin.
Siapa yang Paling Terdampak?
Para lajang usia 20-40 tahun merasakan dampak paling langsung. Terutama mereka yang bekerja di kota besar, jarang bersosialisasi, atau tidak memiliki jaringan pertemanan luas.
Selain itu, keluarga juga ikut merasakan efeknya. Dalam masyarakat yang masih memandang pernikahan sebagai fase penting, orang tua sering mendorong anaknya segera menikah. Program seperti Golek Garwo memberi mereka harapan konkret.
Di sisi lain, pengelola masjid memperluas perannya. Mereka tidak hanya mengurus ibadah, tetapi juga ikut menjawab persoalan sosial.
Potret Zaman yang Bergerak
Munajat berharap program ini benar-benar mempertemukan jodoh bagi para peserta. Ia bahkan ingin peserta menikah di Masjid Zayed maupun di luar masjid.
Program ini bukan sekadar ajang perkenalan. Ia mencerminkan perubahan cara masyarakat membangun relasi. Ketika ruang pertemuan alami makin terbatas dan ritme hidup makin cepat, orang mencari sistem yang membantu mereka menyaring pilihan.
Jika dulu jodoh datang lewat tetangga atau teman kantor, kini sebagian orang datang ke masjid dengan formulir pendaftaran di tangan.
Barangkali ini bukan soal sulitnya mencari cinta melainkan soal semakin seriusnya orang ingin menemukannya. @eko




