Tabooo.id: Film – Pernah nggak sih merasa hidup di negeri ini sepert penjara? Bukan karena jeruji besi semata, melainkan karena aturan yang menyesakkan, konflik yang tak kunjung reda, serta drama sosial yang terus tayang tanpa jeda.
Kali ini, Joko Anwar tidak sekadar menawarkan horor. Sebaliknya, ia mengajak kita bercermin. Lewat Ghost in the Cell, yang akan tayang 16 April 2026, Joko meramu komedi dan teror dalam satu ruang terbatas: penjara.
Ia menulis naskahnya sejak 2018. Namun kini, ketika dinamika pemerintah dan rakyat makin kompleks, gagasan itu terasa semakin tajam. Menurutnya, penjara adalah miniatur masyarakat. Di sana, struktur kuasa berdiri jelas: petugas lapas memegang kendali, napi menjalani peran sebagai “rakyat”, aparat menjaga stabilitas, sementara geng membentuk hierarki tersendiri. Dengan demikian, konflik tak pernah benar-benar tidur.
Teror di Labuan Angsana
Film ini membawa kita ke Penjara Labuan Angsana lapas keras yang penuh rivalitas. Awalnya, para geng sibuk berebut pengaruh, sedangkan sipir bermain di wilayah abu-abu. Akan tetapi, situasi berubah drastis ketika satu sel angker memunculkan kekuatan gaib misterius.
Makhluk itu membunuh para tahanan satu per satu. Ketakutan pun menyebar cepat. Akibatnya, para napi dan sipir korup yang sebelumnya saling menjatuhkan mulai menyusun strategi bersama. Mereka sadar, tanpa kerja sama, tak ada yang selamat.
Di titik inilah ironi bekerja. Musuh bersama memaksa solidaritas. Teror justru melahirkan persatuan.
Deretan pemain seperti Abimana Aryasatya, Aming, Endy Arfian, Lukman Sardi, Mike Lucock, dan Tora Sudiro menghadirkan dinamika yang kontras—serius sekaligus absurd. Karena itu, atmosfer film terasa tegang namun tetap menyelipkan humor getir.
Horor yang Menggoda Nurani
Film ini tidak berhenti pada jump scare. Sebaliknya, Joko mendorong penonton untuk berpikir. Ia menggunakan penjara sebagai metafora yang lugas sekaligus menusuk.
Jeruji membatasi gerak. Struktur kuasa menentukan nasib. Ketimpangan memupuk dendam. Sementara itu, ketidakadilan sering tumbuh diam-diam tanpa banyak yang menggugat.
Kita kerap menunjuk “penghuni sel sebelah” sebagai biang masalah. Padahal, persoalan mungkin berakar pada sistem yang kita biarkan berjalan tanpa koreksi. Oleh karena itu, film ini seperti berbisik: jangan hanya takut pada hantunya, tetapi pahami mengapa ia muncul.
Tertawa, Lalu Tersentil
Horor-komedi memberi ruang bagi kritik sosial tanpa kesan menggurui. Saat penonton tertawa, pesan menyelinap halus. Setelah tawa mereda, pertanyaan mulai menggema.
Mengapa para tokoh baru bersatu ketika ancaman datang? Mengapa solidaritas lahir dari ketakutan, bukan dari kesadaran? Pertanyaan-pertanyaan itu terasa relevan, terutama jika kita menengok realitas sehari-hari.
Sering kali, masyarakat baru bergerak ketika krisis sudah di depan mata. Sebelum itu, perdebatan berlangsung tanpa ujung. Sesudahnya, barulah muncul desakan untuk bersatu.
Kita di Luar atau di Dalam?
Pada akhirnya, “Ghost in the Cell” tidak sekadar menghadirkan hantu di lorong penjara. Film ini menyorot relasi kuasa, memperlihatkan kompromi, dan mengungkap ketakutan kolektif yang kita pelihara sendiri.
Jika sistem terus retak, konsekuensi pasti mengikuti. Entah dalam bentuk konflik terbuka, krisis berkepanjangan, atau “hantu” lain yang tak kasatmata.
Jadi, pertanyaannya kini sederhana namun mengganggu:
Apakah kita benar-benar berdiri di luar jeruji, atau justru sudah menjadi bagian dari sel itu sendiri?
Barangkali, rasa tidak nyaman setelah menonton film ini justru menjadi tanda bahwa kritiknya bekerja. @eko




