Tabooo.id: Karanganyar – Polemik proyek panas bumi (geothermal) di lereng Gunung Lawu, Jenawi, Karanganyar, bikin masyarakat resah. Tapi ketika ditanya, pejabat di Jawa Tengah justru saling angkat tangan. Pertanyaan besarnya: siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas mega proyek ini?
Semua Dilimpahkan ke Pusat
Kepala Dinas ESDM Jawa Tengah, Agus Sugiharto, memilih bungkam. Menurutnya, urusan geothermal sudah jadi kewenangan Kementerian ESDM.
“Sesuai kewenangan sekarang, panas bumi sudah di pusat,” ujarnya singkat.
Nada serupa datang dari Kabid Geologi dan Air Tanah, Heru Sugiharto. Ia mengaku tak tahu-menahu soal investor, nilai investasi, atau detail rencana eksplorasi di Lawu.
“Kita tak terinformasi. Itu semuanya di-handle pusat,” katanya.
Penolakan Masyarakat vs Janji Energi Hijau
Di balik diamnya pejabat daerah, suara masyarakat Karanganyar justru keras: mereka menolak. Kekhawatiran terbesar adalah dampak eksplorasi terhadap sumber air dan ekosistem lereng Lawu. Namun, ESDM Jateng lagi-lagi enggan menanggapi.
“Bukan kapasitas saya untuk menanggapi. Kita tidak tahu detail penolakan dari proyek itu bagaimana. Itu Kementerian yang mengurusi, detailnya yang tahu pusat. Kalau kami menanggapi, nanti malah bisa salah,” elak Heru.
Di sisi lain, Heru tetap menjelaskan secara umum bahwa geothermal adalah energi terbarukan ramah lingkungan. Uap panas dari perut bumi bisa jadi listrik, membuka lapangan kerja, bahkan mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
“Termasuk di Lawu itu kan di bawah ada aktivitas magma, atasnya sumber air. Nah terpanaskan, uapnya keluar ini yang dimanfaatkan untuk gerakan turbin jadi listrik,” katanya.
Antara Harapan dan Ketakutan
Secara teori, geothermal memang “energi gratis” dari alam. Tapi praktiknya tidak selalu mulus. Kadang butuh injeksi air untuk menjaga tekanan uap, dan di situlah masyarakat khawatir: apakah sumber air mereka bakal ikut tersedot?
“Memang, tekanan uap kadang ada yang kurang dan perlu injeksi air. Tapi di sana (Lawu) kita tak tahu potensinya seperti apa besarnya, perlu injeksi tidak. Mungkin masyarakat dampaknya takut dengan kurangnya air di sana. Tetapi yang pasti, ini kan baru eksplorasi, jadi belum tentu layak,” tambah Heru.
Energi Hijau, Transparansi Kelabu
Geothermal selalu dipromosikan sebagai energi masa depan: ramah lingkungan, terus-menerus tersedia, bisa dipakai dari listrik sampai wisata air panas. Tapi, bagaimana kalau prosesnya justru merugikan masyarakat lokal? Apalagi, jika pemerintah daerah sendiri merasa “tidak tahu-menahu”?
Lalu, apakah proyek geothermal di Gunung Lawu benar-benar untuk kepentingan rakyat, atau justru sekadar bisnis energi yang dibungkus jargon hijau? @tabooo







