• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Rabu, Maret 25, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home News Nasional

Gentengisasi Nasional: Ketika Atap Rumah Jadi Urusan Negara

Februari 8, 2026
in Nasional
A A
Gentengisasi Nasional: Ketika Atap Rumah Jadi Urusan Negara

Ketika Presiden Prabowo Subianto bicara soal genteng, diskusinya cepat melebar. Bukan lagi sekadar soal atap rumah, tapi soal identitas, kenyamanan, hingga arah Pembangunan Nasional. (Foto: Istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Saat Presiden Prabowo Subianto bicara soal genteng, isu ini langsung melampaui urusan teknis bangunan. Negara masuk ke ruang paling personal warga rumah. Program “gentengisasi” pun memicu diskusi luas dari estetika kota hingga cara negara memandang keragaman masyarakatnya. Respons kritis datang dari kalangan akademisi.

Akademisi UGM Mengingatkan: Atap Bukan Sekadar Seragam Nasional

Dosen Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik UGM, Ashar Saputra, mengajak publik melihat proyek gentengisasi secara lebih utuh. Ia tidak menolak gagasan tersebut, tetapi menilai pemerintah perlu merumuskan kebijakan dengan pendekatan yang lebih komprehensif.

Ashar menempatkan tiga aspek utama sebagai fondasi kebijakan material bangunan teknis, sosial budaya, dan keberlanjutan. Ia menegaskan ketiganya saling terhubung dan tidak bisa dipisahkan.

Aspek Teknis: Material Atap Menentukan Risiko Bangunan

Dari sisi teknis, genteng dan seng memiliki karakter yang sangat berbeda. Seng berbentuk lembaran sehingga bisa menutup atap dengan kemiringan rendah, bahkan sekitar lima persen, tanpa memicu kebocoran. Sebaliknya, genteng membutuhkan kemiringan lebih dari 30 persen agar berfungsi aman.

Bobot material juga memainkan peran besar. Genteng tanah liat, keramik, dan beton memberi beban signifikan pada struktur bangunan. Perencana bangunan harus menyesuaikan struktur agar mampu menahan massa tersebut. Dalam wilayah rawan gempa, beban besar justru meningkatkan risiko jika perencanaan tidak matang.

Seng memang lebih ringan, tetapi material ini menghadapi tantangan lain. Angin kencang bisa dengan mudah mengangkat atau merusak atap seng jika pemasangan tidak presisi. Setiap material membawa konsekuensi teknisnya sendiri.

Panas dan Iklim: Indonesia Tidak Satu Suhu

Genteng unggul dalam meredam panas. Rumah dengan atap genteng terasa lebih sejuk di wilayah panas dan padat. Namun Indonesia tidak hidup dalam satu iklim.

Di daerah pegunungan yang dingin, rumah justru membutuhkan material yang mampu menyerap panas matahari. Seng sering kali memberi solusi lebih tepat dalam kondisi ini. Pemilihan atap, menurut Ashar, harus mengikuti karakter wilayah bukan sebaliknya.

Aspek Sosial Budaya: Atap Menyimpan Makna

Ashar menekankan bahwa rumah tidak hanya berdiri di atas tanah, tetapi juga di atas nilai dan keyakinan. Di beberapa daerah, masyarakat meyakini bahwa orang hidup tidak boleh tinggal di bawah material berbahan tanah. Kepercayaan ini membuat genteng tanah liat menjadi pilihan yang tidak relevan.

Rumah adat juga menyimpan persoalan serupa. Rumah Gadang di Sumatra Barat, Tongkonan di Toraja, serta rumah adat di Nias dan Papua mengandalkan bentuk atap lentur. Desain tersebut sejak awal menyesuaikan material seperti ijuk atau sirap.

RelatedPosts

Air Keras dan Jejak yang Sengaja Dikaburkan

WFH: Kantor Tutup Sehari, Dompet Rakyat Ikut Sepi

Jika kebijakan memaksa penggunaan genteng berat dan kaku, karakter arsitektur tradisional berisiko terkikis. Negara tidak hanya mengubah bentuk rumah, tetapi juga menghapus jejak identitas.

Aspek Keberlanjutan: Mana yang Benar-Benar Hemat Energi?

Dalam perspektif keberlanjutan, pemilihan material harus memperhitungkan energi produksi, distribusi, dan masa pakai. Genteng tidak selalu lebih ramah lingkungan dibanding seng. Sebaliknya, seng juga tidak otomatis lebih efisien.

Semua bergantung pada rantai produksi, lokasi penggunaan, serta daya tahan material. Ashar mendorong pemerintah untuk menjelaskan tujuan utama gentengisasi. Apakah fokusnya pada estetika, material, atau citra lingkungan?

Saat ini, industri telah menyediakan berbagai material berbasis metal dengan tampilan menyerupai genteng, bobot ringan, dan fleksibilitas tinggi. Pilihan tidak lagi hitam-putih.

Negara Mengejar Keindahan, Warga Menanggung Penyesuaian

Presiden Prabowo melihat atap seng sebagai simbol ketidaknyamanan dan kemunduran visual. Ia mendorong genteng nasional sebagai jalan menuju lingkungan yang lebih indah dan tertata. Pemerintah juga ingin menggerakkan industri genteng dalam negeri melalui kebijakan ini.

Industri genteng dan daerah yang siap infrastruktur jelas akan meraih manfaat. Namun wilayah rawan gempa, komunitas adat, dan masyarakat berdaya beli rendah berpotensi menanggung beban adaptasi.

Atap Rumah dan Cara Negara Mendengar

Atap rumah bukan sekadar penutup bangunan. Ia melindungi manusia dengan latar belakang, iklim, dan keyakinan yang berbeda-beda.

Jika negara ingin membangun Indonesia yang aman, sehat, resik, dan indah, pemerintah perlu lebih dulu merapikan pendekatannya. Sebab yang sering bocor bukan hanya atap rumah, tetapi juga cara kebijakan memahami warganya. @teguh

Tags: akademisiAspek TeknisBangunanBudayaFakultas Teknik UGMGentengGentengisasiIndahKarakterKritisMaterialpresiden praboworesikResikoResponSehatSengSolusiSosialTradisional
Next Post
Sony Masih Ngotot Jualan HP: Nostalgia, Gengsi, atau Strategi Bangkit?

Sony Masih Ngotot Jualan HP: Nostalgia, Gengsi, atau Strategi Bangkit?

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Di Balik Kelancaran Mudik Lebaran, Nyawa Petugas Jadi Taruhan

    Di Balik Kelancaran Mudik Lebaran, Nyawa Petugas Jadi Taruhan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Langkah di Bali Butuh Lebih dari Sekadar Mata

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Joget Rp6 Juta Sehari: Program Sosial atau Ladang Cuan?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Becak yang Tak Pernah Pulang: Saat Kota Membiarkan Warganya Tidur di Jalan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Healing ke Bali, Pulangnya Butuh Healing Lagi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.