Tabooo.id: Nasional – Saat Presiden Prabowo Subianto bicara soal genteng, isu ini langsung melampaui urusan teknis bangunan. Negara masuk ke ruang paling personal warga rumah. Program “gentengisasi” pun memicu diskusi luas dari estetika kota hingga cara negara memandang keragaman masyarakatnya. Respons kritis datang dari kalangan akademisi.
Akademisi UGM Mengingatkan: Atap Bukan Sekadar Seragam Nasional
Dosen Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik UGM, Ashar Saputra, mengajak publik melihat proyek gentengisasi secara lebih utuh. Ia tidak menolak gagasan tersebut, tetapi menilai pemerintah perlu merumuskan kebijakan dengan pendekatan yang lebih komprehensif.
Ashar menempatkan tiga aspek utama sebagai fondasi kebijakan material bangunan teknis, sosial budaya, dan keberlanjutan. Ia menegaskan ketiganya saling terhubung dan tidak bisa dipisahkan.
Aspek Teknis: Material Atap Menentukan Risiko Bangunan
Dari sisi teknis, genteng dan seng memiliki karakter yang sangat berbeda. Seng berbentuk lembaran sehingga bisa menutup atap dengan kemiringan rendah, bahkan sekitar lima persen, tanpa memicu kebocoran. Sebaliknya, genteng membutuhkan kemiringan lebih dari 30 persen agar berfungsi aman.
Bobot material juga memainkan peran besar. Genteng tanah liat, keramik, dan beton memberi beban signifikan pada struktur bangunan. Perencana bangunan harus menyesuaikan struktur agar mampu menahan massa tersebut. Dalam wilayah rawan gempa, beban besar justru meningkatkan risiko jika perencanaan tidak matang.
Seng memang lebih ringan, tetapi material ini menghadapi tantangan lain. Angin kencang bisa dengan mudah mengangkat atau merusak atap seng jika pemasangan tidak presisi. Setiap material membawa konsekuensi teknisnya sendiri.
Panas dan Iklim: Indonesia Tidak Satu Suhu
Genteng unggul dalam meredam panas. Rumah dengan atap genteng terasa lebih sejuk di wilayah panas dan padat. Namun Indonesia tidak hidup dalam satu iklim.
Di daerah pegunungan yang dingin, rumah justru membutuhkan material yang mampu menyerap panas matahari. Seng sering kali memberi solusi lebih tepat dalam kondisi ini. Pemilihan atap, menurut Ashar, harus mengikuti karakter wilayah bukan sebaliknya.
Aspek Sosial Budaya: Atap Menyimpan Makna
Ashar menekankan bahwa rumah tidak hanya berdiri di atas tanah, tetapi juga di atas nilai dan keyakinan. Di beberapa daerah, masyarakat meyakini bahwa orang hidup tidak boleh tinggal di bawah material berbahan tanah. Kepercayaan ini membuat genteng tanah liat menjadi pilihan yang tidak relevan.
Rumah adat juga menyimpan persoalan serupa. Rumah Gadang di Sumatra Barat, Tongkonan di Toraja, serta rumah adat di Nias dan Papua mengandalkan bentuk atap lentur. Desain tersebut sejak awal menyesuaikan material seperti ijuk atau sirap.
Jika kebijakan memaksa penggunaan genteng berat dan kaku, karakter arsitektur tradisional berisiko terkikis. Negara tidak hanya mengubah bentuk rumah, tetapi juga menghapus jejak identitas.
Aspek Keberlanjutan: Mana yang Benar-Benar Hemat Energi?
Dalam perspektif keberlanjutan, pemilihan material harus memperhitungkan energi produksi, distribusi, dan masa pakai. Genteng tidak selalu lebih ramah lingkungan dibanding seng. Sebaliknya, seng juga tidak otomatis lebih efisien.
Semua bergantung pada rantai produksi, lokasi penggunaan, serta daya tahan material. Ashar mendorong pemerintah untuk menjelaskan tujuan utama gentengisasi. Apakah fokusnya pada estetika, material, atau citra lingkungan?
Saat ini, industri telah menyediakan berbagai material berbasis metal dengan tampilan menyerupai genteng, bobot ringan, dan fleksibilitas tinggi. Pilihan tidak lagi hitam-putih.
Negara Mengejar Keindahan, Warga Menanggung Penyesuaian
Presiden Prabowo melihat atap seng sebagai simbol ketidaknyamanan dan kemunduran visual. Ia mendorong genteng nasional sebagai jalan menuju lingkungan yang lebih indah dan tertata. Pemerintah juga ingin menggerakkan industri genteng dalam negeri melalui kebijakan ini.
Industri genteng dan daerah yang siap infrastruktur jelas akan meraih manfaat. Namun wilayah rawan gempa, komunitas adat, dan masyarakat berdaya beli rendah berpotensi menanggung beban adaptasi.
Atap Rumah dan Cara Negara Mendengar
Atap rumah bukan sekadar penutup bangunan. Ia melindungi manusia dengan latar belakang, iklim, dan keyakinan yang berbeda-beda.
Jika negara ingin membangun Indonesia yang aman, sehat, resik, dan indah, pemerintah perlu lebih dulu merapikan pendekatannya. Sebab yang sering bocor bukan hanya atap rumah, tetapi juga cara kebijakan memahami warganya. @teguh




