Selasa, April 7, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Tabooo Today
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Talk

Gengsi atau Jebakan? Kelas Menengah Dipaksa Terlihat Kaya

April 7, 2026
in Talk
A A
Gengsi atau Jebakan? Kelas Menengah Dipaksa Terlihat Kaya

Ilustrasi tentang gaya hidup konsumtif kelas menengah yang terjebak gengsi dan tekanan sosial, di tengah kondisi finansial yang sebenarnya rapuh. (Foto ilustrasi Tabooo.id)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Talk – Pernah merasa harus terlihat sukses padahal kondisi keuangan lagi seret?
Fenomena ini bukan sekadar perasaan ini realita yang makin sering terjadi.

Di tengah tekanan sosial, banyak orang dari kelas menengah bawah mengejar gaya hidup konsumtif. Mereka tidak selalu mampu, tetapi tetap memaksakan diri. Dorongan terbesar datang dari lingkungan dan media sosial yang terus memamerkan standar “kehidupan ideal”.

Pertanyaannya, siapa sebenarnya yang mereka kejar?

Konsumsi Berubah Jadi Citra

Dulu orang belanja karena butuh. Kini, banyak orang belanja supaya terlihat.

Dalam sosiologi, fenomena ini dikenal sebagai conspicuous consumption dan symbolic consumption. Artinya, orang membeli barang untuk menunjukkan status, bukan sekadar fungsi.

BacaJuga

Kalau Santet Itu Nyata, Apa Koruptor Sudah Kebal?

Cadangan Tipis, Risiko Tebal: Potret Rapuhnya Energi Nasional

Ambil contoh sederhana. Gadget lama masih berfungsi, tetapi tetap diganti demi tren. Motor lama masih layak jalan, namun tetap ditukar agar terlihat naik kelas.

Lebih jauh lagi, sebagian orang bahkan rela berutang demi menjaga citra. Pada titik ini, konsumsi kehilangan makna rasional dan berubah menjadi simbol sosial.

Ekonomi Bergantung, Tapi Juga Rentan

Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kelas menengah dan calon kelas menengah mencapai 66,35% populasi. Mereka menyumbang sekitar 81,49% konsumsi nasional.

Angka ini menegaskan satu hal ekonomi Indonesia bertumpu pada kelompok ini.

Ironisnya, posisi mereka justru rapuh. Laporan Universitas Gadjah Mada (UGM) menunjukkan sebagian besar berada di lapisan bawah yang rentan. Guncangan kecil seperti PHK, kenaikan harga, atau cicilan bisa langsung menggoyahkan kondisi finansial mereka.

Gaya Hidup yang Tidak Sejalan

Sayangnya, realitas ekonomi tidak selalu sejalan dengan gaya hidup yang ditampilkan.

Struktur ekonomi Indonesia belum sepenuhnya mendukung mobilitas naik kelas. Banyak pekerjaan tersedia, tetapi sebagian besar bersifat informal dengan pendapatan terbatas.

Hasilnya jelas: penghasilan cukup untuk bertahan, tetapi sulit untuk berkembang.

Sementara itu, standar hidup terus meningkat. Media sosial mendorong orang tampil lebih mapan. Lingkungan sekitar juga memperkuat ekspektasi tersebut.

Kombinasi ini menciptakan tekanan yang tidak terlihat, tetapi terasa nyata.

Orang Kaya Justru Lebih Rasional

Menariknya, pola ini justru berbanding terbalik dengan kebiasaan orang kaya.

Berdasarkan laporan Yahoo Finance, mereka cenderung menghindari pengeluaran non-esensial. Fokus utama mereka ada pada nilai dan keberlanjutan finansial.

Alih-alih mengikuti tren, mereka mempertimbangkan fungsi. Mereka juga menghindari cicilan panjang untuk barang konsumtif.

Bahkan dalam pendidikan, mereka tidak sekadar mengejar gengsi institusi. Pertimbangan utama tetap pada prospek dan manfaat jangka panjang.

Saatnya Ubah Cara Main

Kondisi ini seharusnya menjadi alarm bagi kelas menengah.

Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah membedakan kebutuhan dan keinginan. Setelah itu, penting untuk mengurangi konsumsi non-esensial yang hanya bersifat simbolik.

Sebagai tambahan, membangun kebiasaan menabung juga menjadi kunci. Dana darurat bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan dasar.

Contohnya sederhana. Jika HP Rp2 juta sudah cukup, tidak perlu memaksakan yang lebih mahal. Jika kendaraan lama masih layak, menggantinya bukan prioritas mendesak.

Pilihan kecil seperti ini justru menentukan ketahanan finansial jangka panjang.

Penutup: Mau Terlihat atau Bertahan?

Pada akhirnya, semua kembali pada keputusan pribadi.

Sebagian orang mungkin tetap memilih mengejar citra. Namun, ada juga yang mulai menyadari pentingnya keamanan finansial.

Pilihan itu sederhana, tetapi dampaknya besar ingin terlihat sukses, atau benar-benar bertahan? @dimas

Tags: EkonomiFinansialGaya HidupGengsiIndonesiaKelas MenengahKeuanganKonsumtifLiterasiMedia Sosial

REKOMENDASI TABOOO

Harga Minyak Naik, APBN Tertekan: Seberapa Kuat Kita Bertahan?

Harga Minyak Naik, APBN Tertekan: Seberapa Kuat Kita Bertahan?

by dimas
April 7, 2026

Tabooo.id: Nasional - Ketika perang di Timur Tengah memanas, efeknya terasa sampai ke dapur rumah tangga. Harga energi naik, rantai...

RUU Penyadapan Disorot: Lindungi Hukum atau Intip Privasi?

RUU Penyadapan Disorot: Lindungi Hukum atau Intip Privasi?

by dimas
April 7, 2026

Tabooo.id: Nasional - RUU Penyadapan masuk Prolegnas Prioritas 2026. DPR ingin memperkuat penegakan hukum. Namun, publik mulai mempertanyakan satu hal...

Satu Penolakan, Satu Kematian: Jejak TNI dalam Skema Gelap Bankir

Satu Penolakan, Satu Kematian: Jejak TNI dalam Skema Gelap Bankir

by dimas
April 7, 2026

Tabooo.id: Deep - Di lahan kosong belakang lapangan golf Kemayoran, sebuah teriakan memecah sunyi.“Penculik!” Saat itu, Muhammad Ilham Pradipta tidak...

Recommended

iPhone Limited: Gadget Ini Menjelma Jadi Artefak Steve Jobs

iPhone Steve Jobs Edition Ini Lebih Cocok Dipajang

April 1, 2026
Ayu Kynbråten: Dunia Global Terlalu Luas, Ayu Memilih Tidak Melupakan Akar

Ayu Kynbråten: Dunia Global Terlalu Luas, Ayu Memilih Tidak Melupakan Akar

April 2, 2026

Popular News

  • Kalau Syarifah Menikahi Tan Malaka, Apakah Indonesia Akan Tetap Sama?

    Kalau Syarifah Menikahi Tan Malaka, Apakah Indonesia Akan Tetap Sama?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Deadline dari Trump: Damai Sekarang atau Infrastruktur Dihancurkan?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PN Medan Lepas Amsal Sitepu, Kasus Dana Desa Karo Masih Sisakan Polemik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • MADILOG: Saat Logika Dijadikan Senjata Melawan Kebodohan Terstruktur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ini Bukan Sekadar Film: Saat Promosi Bisa Memicu Risiko Nyata

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.